Bupati Grobogan Buka Festival Jerami 2018 di Desa Banjarejo

*Bupati Grobogan Buka Festival Jerami 2018 di Desa Banjarejo*

Acara festival jerami di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, resmi dibuka, Rabu (17/10/2018). Pembukaan festival dilakukan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni di lapangan Desa Banjarejo. Ikut mendampingi bupati, Kapolres Grobogan AKBP Choiron El Atiq, Kajari Puji Tri Asmoro, Plt Kadisporabudpar Edi Santoso, Kadinas Pendidikan Amin Hidayat, Kabag Perekonomian Pradana Setyawan, Kabag Pemdes Daru Wisakti dan sejumlah pejabat terkait lainnya.
Adanya festival jerami ini ternyata mendapat respon positif. Indikasinya, pada hari pertama sudah ada ratusan warga yang datang sebelum pembukaan festival dilakukan pada pukul 13.30 WIB.
Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun Desa Wisata Banjarejo yang kedua. Festival rencananya akan berlangsung hingga 28 Oktober mendatang
“Pada peringatan ulang tahun pertama, kita bikin acara ngaji bareng Cak Nun. Untuk kali ini, gantian kita bikin acara festival jerami yang sebelumnya belum pernah digelar di Grobogan,” jelasnya.
Dalam festival ini, ada 59 hasil karya replika dari bahan jerami tersebut. Rinciannya, 24 replika berbentuk aneka hewan dan 35 replika lainnya berbentuk orang-orangan sawah, rumah, sepeda, gubug, dan perahu.
“Peserta festival tidak hanya dari warta tujuh dusun di Banjarejo saja. Tapi ada dari desa-desa sekitar serta satu peserta datang dari Salatiga. Kemudian, ada satu instansi yang ikut, yakni dari Dinas Pendidikan Grobogan. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak atas terselenggaranya festival jerami ini,” katanya.
Pembukaan festival ditandai dengan pengguntingan tali dari jerami yang dilakukan Bupati Sri Sumarni. Hiburan barongan ikut menyemarakkan pembukaan festival jerami yang baru pertama digelar di Desa Banjarejo tersebut. Pelaksanaan festival jerami mendapat apresiasi khusus dari bupati.


“Acara yang dilangsungkan hari ini sangat luar biasa. Terus terang, saya salut dengan kreatifitas yang dilakukan Pak Kades Banjarejo untuk mengoptimalkan potensi wisata di desanya ini,” kata bupati.
Bupati juga mengagumi hasil karya replika berbagai hewan purba yang dipajang di lokasi festival. Bahkan saat berkeliling meninjau lokasi festival, ia sempat beberapa kali minta diambil fotonya dengan latar belakang replika hewan dari bahan jerami tersebut.
“Bagus sekali. Saya senang sekali bisa menyaksikan festival jerami. Soalnya, acara seperti ini jarang sekali dilakukan. Semoga dengan adanya festival bisa menarik minat pengunjung ke Banjarejo,” katanya.

Bupati Grobogan Resmikan Pabrik Pakan Ternak Baru di Desa Mayahan

*Bupati Grobogan Resmikan Pabrik Pakan Ternak Baru di Desa Mayahan*

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyatakan, upaya Pemkab Grobogan untuk mendatangkan investor mulai terlihat hasilnya. Yakni, dengan sudah mulai berdirinya sejumlah pabrik besar di wilayah Grobogan. Terbaru adalah berdirinya pabrik pakan ternak PT Mulia Harvest Agritech di Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo.
“Hari ini, target tersebut sudah mulai tercapai dengan beroperasinya pabrik pakan ternak baru ini,” kata bupati saat meresmikan pabrik pakan ternak PT Mulia Harvest Agritech, Sabtu (6/10/2018).


Menurut bupati, selain pembangunan infrastruktur, salah satu target yang diinginkan adalah berupaya terus mendatangkan investor ke ke Grobogan. Khususnya, di wilayah Grobogan bagian timur yang lahannya masih memungkinan karena bukan merupakan kawasan pertanian produktif.
Meski sudah ada beberapa pabrik baru dengan skala cukup besar, namun bupati masih menghendaki masuknya banyak investor lagi ke Grobogan. Pihaknya akan memberikan kesempatan lebar buat inevestor yang memang serius mau menanamkan investasinya.
“Pemkab akan memberikan banyak kemudahan bagi investor yang mau mendirikan usaha di Grobogan. Khususnya, dalam hal perizinan,” katanya.
Menurutnya, adanya pabrik besar dinilai akan membawa banyak dampak positif. Antara lain, bisa mengurangi angka pengangguran lantaran banyak orang yang bisa terserap jadi tenaga kerja.
Selain itu, roda perekonomian disekitar kawasan pabrik juga akan tumbuh cepat. Termasuk, munculnya usaha-usaha kecil disekitar pabrik yang menyediakan kebutuhan bagi karyawan.
“Berdirinya perusahaan pakan ternak ini patut kita apresiasi. Sebab, dengan beroperasinya perusahaan ini, ada banyak tenaga kerja yang terserap. Ini tentunya akan berdampak pada menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran,” jelas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Puluhan Penyuluh Pertanian Grobogan Dilatih Jadi Pendongeng. Ini Tujuannya

*Puluhan Penyuluh Pertanian Grobogan Dilatih Jadi Pendongeng. Ini Tujuannya*

Puluhan petugas penyuluh Dinas Pertanian Grobogan mendapat pelatihan yang berbeda dari biasanya, Senin (1/10/2018). Yakni, pelatihan mendongeng buat anak-anak yang disampaikan oleh pendongeng Grobogan Erwin Nur Setyo Pambudi atau yang akrab disapa Kak Erwin.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, pelatihan mendongeng ini baru pertama kalinya diberikan pada para penyuluh. Adapun tujuan utama pelatihan adalah untuk menumbuhkan rasa cinta anak-anak pada dunia pertanian.

“Sejauh ini, regenerasi petani kita nilai masih kurang. Oleh sebab itu, harus ada upaya yang mesti dilakukan untuk meningkatkan kecintaan generasi muda pada bidang pertanian,” katanya, saat membuka pelatihan yang dilangsungkan di aula kantor Dinas Pertanian Grobogan itu.

Selama ini, lanjut Edhie, sasaran penyuluhan lebih banyak ditujukan pada orang tua yang sudah berkecimpung dalam dunia pertanian. Kedepan, para penyuluh diminta untuk menyasar anak-anak sebagai obyek penyuluhan.

“Untuk melakukan penyuluhan pada anak-anak tentu metodenya berbeda dengan yang dilakukan pada orang tua. Oleh sebab itu, kita hadirkan pendongeng sebagai narasumber untuk memberikan pelatihan mendongeng pada para penyuluh. Dengan adanya bekal ini, nantinya para penyuluh bisa lebih mudah jika harus menyampaikan penyuluhan pada anak-anak,” jelasnya.

Sementara itu, Susana pelatihan yang disampaikan Erwin berlangsung seru. Berbagai kiat lucu yang disampaikan, sempat mengundang gelak tawa para peserta pelatihan. Erwin menyatakan, pada umumnya tema atau bahan yang dibawakan saat mendongeng pada anak-anak adalah kisah legenda, kepahlawanan maupun cerita rakyat. Namun, seiring perkembangan zaman, tema yang diceritakan dalam dongeng semakin beragam. Termasuk membawakan dongeng dengan mengangkat tema seputar dunia pertanian juga cukup digemari anak-anak.

“Tema apa saja sekarang ini bisa dibawakan dalam mendongeng pada anak-anak. Termasuk masalah pertanian. Terpenting adalah bagaimana cara menyampaikan tema supaya bisa mudah diterima oleh anak-anak,” katanya.

Erwin menjelaskan, untuk dongeng masalah pertanian bisa mengangkat cerita-cerita rakyat yang sudah ada. Misalnya, kisah sukses seorang petani atau kisah petani yang menolong orang kelaparan.

Tema lainnya bisa dengan menceritakan tentang jenis tanaman secara lengkap. Yakni, bagian-bagian dari tanaman, dan manfaatnya. Biar tema dongeng bisa ditangkap dengan mudah, ada baiknya perlu dibawakan contoh tanaman yang akan diceritakan pada anak-anak.

“Bisa juga tema berasal dari produk makanan yang sudah dikenal. Misalnya, nasi yang asalnya dari padi atau jagung. Kemudian, tahu dan tempe yang asalnya dari kedelai,” katanya.

Menurut Erwin, supaya dongeng yang disampaikan bisa mengena maka ada hal-hal yang perlu dikuasai. Antara lain, menguasai teknik mendongeng secara efektif dan efisien. Kemudian, perlu memiliki kemampuan mengatur intonasi suara, artikulasi, ekspresi, dan gesture. Jika kemampuan ini dimiliki maka anak-anak yang mendengarkan dongeng jadi betah dan mengerti maksud yang disampaikan.

Lebih lanjut disampaikan, mendongeng merupakan salah satu cara yang efektif untuk menambah pengetahuan, menanamkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti kepada anak.

Sebab secara fitrah anak-anak memang menyukai dongeng. Disamping itu, mendongeng juga memiliki manfaat untuk membangunan kedekatan psikologis dan kehangatan hubungan kasih sayang dengan anak.

”Saya berharap pelatihan ini bisa mendorong para penyuluh menguasai teknik mendongeng yang baik dan memikat, sehingga tradisi mendongeng akan kembali bangkit sebagai salah satu metode edukasi terhadap anak-anak yang merupakan calon generasi bangsa di masa depan,” tandasnya.

Putus Rantai Tengkulak, Petani Grobogan Siap Go Online

*”Putus Rantai Tengkulak, Petani Grobogan Siap Go Online”.*

Dalam rangka pelaksanaan Program Petani Go Online Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI melaksanakan Training Aplikasi Eragano dan Sosialisasi End to End Solution di Kabupaten Grobogan hari ini (02102018).

Bertempat di Aula Rumah Kedelai Grobogan, training ini dihadiri oleh 100 orang petani jagung yang berasal dari perwakilan 12 kecamatan sentra jagung di Kabupaten Grobogan.

Training ini bertujuan memperkenalkan aplikasi eragano dan end to end solution kepada petani. Pada dasarnya aplikasi ini bertujuan memberikan solusi usaha tani dari hulu ke hilir untuk petani rumah tangga berbasis teknologi modern (android) yang dapat di akses petani secara fleksibel di mana saja dan kapan saja.

“Petani Go Online, merupakan program pemerintah untuk mendorong kerakyatan melalui proses revitalisasi di sektor pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Petani akan lebih mudah mendapatkan informasi bahan baku dan harga, menjual hasil produksi serta pemasaran”.
Disampaikan oleh Drs. Milikta Jaya Sembiring dari Direktorat Jenderal Aplikasi Informatik Komifo RI.
Dalam program ini, jelasnya, petani difasilitasi dengan aplikasi marketplace pertanian nasional dan Informasi Pengendalian Stok. Harapannya lagi, sektor pertanian harus bisa mengejar ketertinggalan dari sektor transportasi, perdagangan, wisata yang sudah cukup banyak menggunakan aplikasi.

“Aplikasi eragano dan end to end solution pertanian bisa membantu efisiensi produksi dan pengelolaan sumberdaya petani. Manfaatnya bagi petani akan memiliki akses langsung ke pembeli. Dan bisa mensinergikan pemerintah, asosiasi dan industri,” jelas Milikta.
Target pemerintah di Tahun 2020 diharapkan petani siap di era digital melalui aplikasi pertanian.

 

Ir. Edhie Sudaryanto, MM., Kadispertan Grobogan menegaskan “Putus rantai tengkulak, saatnya petani Grobogan siap Go Online”.
Program ‘Petani Go Online’ akan menjadikan agribisnis ditingkat petani menjadi efektif dan efisien. Petani dapat mengetahui harga di pasaran dan petani tidak akan bisa dikendalikan dengan pemain tertentu saja karena aplikasi ini akan membantu memotong beberapa titik tengkulak, yang nanti terjadi transaksi langsung, antara seller dengan buyer. Keuntungan yg diterima petani semakin banyak.

Edhie menambahkan walau di Kabupaten Grobogan aplikasi ini baru difokuskan pada usaha tani komoditas Jagung. Diharapkan petani dapat mengakses dan memperoleh manfaat dari mulai penyediaan permodalan, informasi pertanian terupdate sampai jaringan pemasaran.
Selain itu, Edhie juga berharap aplikasi ini bisa segera diterapkan untuk petani kedelai lokal Non GMO. Kabupaten Grobogan merupakan sentra kedelai nasional dan merupakan produk unggulan selain padi dan jagung.

Ina Karlina, S. T. dari Eragano menjelaskan bahwa Eragano merupakan aplikasi pintar yang terintegrasi dengan platform marketplace dan solusi pembiayaan untuk petani kecil. Menghubungkan pemberi
modal, perusahaan penyedia jasa produksi tani, industri sebagai pasar baru , dan memberikan edukasi serta pelatihan
bertani untuk mendukung kesejahteraan petani kecil.

“Eragano menyediakan beberapa layanan pertanian sekaligus, mulai dari penjualan perlengkapan pertanian dan pupuk, penjualan hasil panen, sistem pengelolaan sawah, hingga pemberian pinjaman kepada para petani. Eragano juga membuat sebuah portal media agar para petani bisa mengetahui berbagai informasi terkait dunia pertanian”, Ina menambahkan.

Sosialisasi berjalan interaktif dan dinamis dengan banyaknya pertanyaan dari peserta. Diharapkan aplikasi ini dapat ditindaklanjuti di tingkat kelompok tani sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani (Fd).

30 Petani di Grobogan Ikuti Bintek Usaha Peningkatan Mutu Hasil Tembakau

30 Petani di Grobogan Ikuti Bintek Usaha Peningkatan Mutu Hasil Tembakau

Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan mengadakan Bimbingan Teknis (Bintek) usaha peningkatan mutu hasil tembakau di aula Rumah Kedelai Grobogan. Bintek dijadwalkan berlangsung dua hari, 24 – 25 September 2018.
Dalam bintek ini dihadirkan beberapa narasumber. Yakni, Kasi Produksi dan Pemasaran Tanaman Perkebunan Semusim Rekno Wiajayatun, SP, staff Bidang Pekebunan Dinas Pertanian, Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Heru Santoso, SP dan
Hery Sukani dari PT Sadhana Arifnusa.
Peserta bintek sebanyak 30 orang yang berasal dari Kelompok Tani Margo Luhur Desa Bologarang, Kecamatan Penawangan. Dalam bintek tersebut, peserta mendapatkan blanko pre test dari Heru Santoso guna menguji sejauh mana kompetensi petani mengenai tembakau.


“Kita memberikan pre test di awal bintek dan post test di akhir bintek nanti yang isinya mengenai bagaimana penanganan tanaman tembakau dari mulai pra panen hingga pasca panen,” kata Heru.
Dengan pre test dan post test ini bertujuan untuk mengukur seberapa jauh pengetahuan petani sebelum dan sesudah bintek. Harapanya ada peningkatan pengetahuan petani perihal penanganan tanaman tembakau untuk menghasilkan mutu yang berkualitas.
Para peserta bintek juga diingatkan pentingnya pendampingan petugas teknis dari Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan. Dengan adanya pendampingan, diharapkan adanya konsistensi dari petani, sehingga kualitas mutu tetap terjamin.
“Saat ini petugas pendamping perkebunan melakukan pendampingan berupa monitoring dan pembinaan secara berkala kepada kelompok tani”, jelas Rekno Wiajayatun.
Kabupaten Grobogan memiliki luasan tanaman tembakau mencapai 2.541 ha, dengan varietas umumnya yakni tembakau varietas cerupung dan mboja. Hal ini mendorong berbagai perusahaan rokok menjalin kemitraan dengan beberapa kelompok tani tembakau yang ada di Kabupaten Grobogan. Tentunya kemitraan ini harus iikuti dengan mutu dan hasil yang berkualitas.
Sementara itu, Hery Sukani mengingatkan akan pentingnya labelisasi produk tembakau dari petani. Menurutnya, tembakau saat ini tidak hanya dilihat dari fisiknya saja. Tetapi tembakau yang di hasilkan harus terecord dengan baik. Mulai pemilihan varietas hingga penanganan panen dan pasca panen mutu tembakau harus terecord sesuai standart mutu pabrik rokok.
Dalam kesempatan itu, Hery juga memaparkan tentang standart yang di terima di PT. Sadhana Arifnusa. Yakni, tembakau yang dipakai harus bebas plastik dan pestisida. Untuk tembakau yang tidak bisa dipakai yaitu tembakau hijau mati /busuk.

(ip/ep)

Percepatan Tanam Padi Seluas 11.989 Hektar di Kabupaten Grobogan

Percepatan Tanam Padi Seluas 11.989 Hektar di Kabupaten Grobogan

Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah kabupaten Grobogan guna meningkatkan produksi padi. Salah satu caranya dengan melakukan percepatan tanam padi pada lahan seluas 11.989 hektar yang tersebar di beberapa kecamatan. Percepatan tanam ini dilakukan dengan mengandalkan irigasi pompanisasi dari air sungai.
“Kabupaten Grobogan merupakan salah satu lumbung padi yang memberikan kontribusi cukup besar bagi penyediaan pangan di Provinsi Jawa Tengah.
Akan tetapi musim panennya belum bisa merata dari bulan ke bulan,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni, saat mengadiri acara Gebyar Petroganik dan Percepatan Tanam Padi di Desa Mangunsari, Kecamatan Tegowanu, Rabu (19/9/2018).
Hadir dalam kesempatan itu, Asisten II Pemprov Jateng Prijo Anggoro Budi Rahardjo dan jajaran direksi Petrokimia. Tampak pula, perwakilan FKPD, dan Kepala Dinas Pertanian Grobogan Ir.  Edhie Sudaryanto, M. M serta sejumlah perwakilan dari Dinas Pertanian kabupaten Se Karisedenan Pati. Acara ini juga dihadiri para distributor dan pengecer pupuk.
Menurut bupati,sasaran luasan padi non konversi di bulan oktober seluas 9.526  ha, pada bulan-bulan tertentu masih terjadi paceklik produksi padi. Yaitu pada bulan November dan Desember.
“Untuk mengisi kekosongan produksi pada bulan November dan Desembar tersebut, perlu dilakukan percepatan tanam agar panen padi agar ada panen pada bulan-bulan paceklik tersebut. Dengan adanya panen bulan November dan Desember maka harganya pasti tinggi karena saat itu tidak banyak areal panennya,” jelasnya.
Masih dikatakan bupati, tanam padi lebih awal dari biasanya ini dilakukan dalam kurun waktu Agustus hingga Oktober mendatang. Untuk bulan September ini, percepatan tanam padi dilakukan pada lahan seluas 922 hektar yang tersebar di dua desa. Yakni, Desa Mangunsari, Kecamatan Tegowanu dan Desa Rowosari, Kecamatan Gubug.
Bupati menambahkan, kegiatan percepatan tanam tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai (UPSUS PAJALE) yang dilakukan sejak 2014. Dengan dukungan penuh TNI, upaya tersebut berhasil mendongkrak produksi padi di Grobogan.
Kemudian, pada 2015 produksi padi di Kabupaten Grobogan mencapati 799.307 ton. Kemudian, capaian tersebut meningkat menjadi 843.863 ton pada 2016 dan 864.977 ton pada tahun 2017. Peningkatan produksi tersebut dilakukan dengan optimalisasi penggunaan lahan, dan perluasan panen di areal hutan dan lahan kering. (Rd)

Pelatihan Pembuatan Agensia Pengendalian Hayati Ulat Tembakau

Pelatihan Pembuatan Agensia Pengendalian Hayati Ulat Tembakau

Maraknya penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman ternyata menyimpan berbagai macam masalah. Terjadinya resurgensi, ledakan hama sekunder dan resistensi hama merupakan dampak pemakaian pestisida kimia berlebihan.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman yang ramah lingkungan, yaitu salah satunya dengan menggunakan Agensi Pengendalian Hayati (APH) sangat diperlukan. Adanya APH ini diharapkan mampu menjadi penyeimbang ekosistem sehingga tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis.

Dalam rangka mensosialisasikan dan mengembangkan penggunaan APH di tingkat petani, Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (BPTPHP) Salatiga bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan mengadakan Pelatihan Pengembangan APH dan Penyebaranya Bagi Petani, Rabu 8 Agustus 2018.

Bertempat di Desa Karangharjo Kecamatan Pulokulon pelatihan tersebut diikuti oleh 25 orang anggota Kelompok Tani Karya Utama. Pengendalian OPT pada tembakau menjadi Fokus dalam pelatihan tersebut.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Tri Wahono mengatakan, “Grobogan memiliki lahan tembakau yang cukup luas, yaitu 2.541 Ha, oleh karena itu gangguan OPTnya juga sangat banyak”.

Salah satu OPT yang sering ada pada tanaman tembakau yaitu ulat grayak.
Dalam pelatihan tersebut BPTPHP mengirimkan 2 orang praktisi APH untuk melatih membuat APH sekaligus cara pengaplikasianya di lahan. Salah satunya adalah perbanyakan jamur Beauveria bassiana dengan media jagung untuk pengendalian hama ulat.

Cara pertanyakan jamur Beauveria bassiana diawali dengan menyiapkan jagung yang telah digiling kemudian cuci hingga bersih, setelah itu jagung dikukus minimal 2 jam dan dinginkan. Jagung dimasukkan ke dalam plastik kecil, dikukus kembali dalam dandang steril selama……, lalu diangkat dan dinginkan. Setelah dingin baru tambahkan bibit jamur dan diamkan selama 2 minggu.

 

Sudarni, SP salah satu praktisi yang melatih dalam kegiatan tersebut menekankan, dengan pembuatan APH berupa jamur ini dapat menekan biaya budidaya tanaman tembakau karena tidak menggunakan pestisida kimia yang harganya mahal. “Harapanya kelompok tani Karya Utama bisa menjadi acuan pembuatan APH ini untuk kelompok tani yang lain”, pungkas Sudarni. (IP-EP)

Sumur Pantek Swadaya, Solusi Alternatif Atasi Kekeringan

Sumur Pantek Swadaya, Solusi Alternatif Atasi Kekeringan

Musim kemarau yang diperkirakan panjang pada tahun ini, menjadikan petani kedelai di Desa Dimoro Kecamatan Toroh berinisiatif membuat sumur pantek secara swadaya. Tujuannya agar tanamannya dapat tetap hidup dan petani bisa menikmati hasil panennya. Pasokan air semakin berkurang di lahan ini karena adanya proyek normalisasi di Waduk Kedungombo.

Pembuatan sumur pantek yang dilakukan secara swadaya oleh petani ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Niti Karyo. Mulai dari perlengkapan mesin hingga tenaganya berasal dari swadaya kelompok itu sendiri. Kelompok yang di ketuai oleh Darto bahu membahu membuat sumur pantek.
“Kita membuat sumur bor sedalam 15 meter terlebih dahulu kemudian dihisap menggunakan pompa dengan kekuatan 5 PK, tergantung besar kecilnya sumber air, kemudian mengalirkan air melalui selang tersebut ”, kata Darto.

Darto juga menambahkan bahwa kemampuan selang untuk mengalirkan air dari pompa tersebut hanya sejauh 300 meter.
“Agar bisa mengaliri lebih luas maka harus ditambahkan mesin sedot dan selang lagi”, imbuh Darto.

Kepala UPTD Kecamatan Toroh Sudarto, menyebutkan bahwa Kelompok Tani Niti Karyo sendiri memiliki 16 Ha tanaman kedelai yang saat ini berumur 35 hari. Selain kelompok Niti Karyo, terdapat 2 kelompok lain yang sudah membuat sumur pantek, yaitu Sumber Makmur III dan Sedyo Mulyo. Masing-masing kelompok memiliki luas tanaman kedelai seluas 20 Ha dan 25 Ha.
”Karena aliran air dari waduk Kedung Ombo tidak mengalir hingga Oktober nanti, sedangkan kelompok akan tanam kedelai, maka kami sarankan agar lahan kelompok yang ada sumber airnya untuk membuat sumur pantek secara swadaya”, Sudarto menekankan. (IP)

Komisi B DPRD Kabupaten Lamongan Koordinasikan Permasalahan Pupuk dengan Kabupaten Grobogan

Komisi B DPRD Kabupaten Lamongan Koordinasikan Permasalahan Pupuk dengan Kabupaten Grobogan

Pemerintah melakukan kebijakan penyediaan pupuk bersubsidi bagi petani melalui kartu tani. Dalam pelaksanaanya terdapat permasalahan terkait penyusunan RDKK dalam SINPI seperti yang terjadi di Kabupaten Lamongan. Banyak luas lahan kelompok tani dalam SINPI yang masih belum sesuai dengan keadaan di lapangan sehingga menyebabkan distribusi pupuk tidak tepat sasaran.

Terkait hal tersebut Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Lamongan Syaifudin Zuhri melakukan koordinasi mengenai “Pengelolaan Pola Tanam Pertanian dan Pemakaian Pupuk Berimbang di Kabupaten Grobogan”. Rombogan yang berjumlah 14 orang disambut Asisten Pembangunan dan Perekonomian Sekda Grobogan Ir. Ahmadi Widodo, MT di Learning Center Rumah Kedelai Grobogan (8/08/2018).

Ir. Latifawati Kun Akhadiana, MM. dari Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, dalam sesi tanya jawab menjelaskan bahwa dasar penyusunan SINPI di Kabupaten Grobogan tidak menggunakan Tumpi Pajak, melainkan menggunakan Data Argis karena banyak yang tidak sesuai antara Tumpi dan luas lahan yang sebenarnya.

“RDKK SINPI di kabupaten Grobogan melalui beberapa tahap verifikasi sebelum sampai di Tim Kabupaten untuk kemudian masuk dalam E-RDKK. Hal ini terbukti efektif membatasi penebusan di tingkat pengecer sehingga pupuk tersalur tepat sasaran”, Latifa menambahkan.

Permasalahan lainnya yang dikoordinasikan adalah mengenai distribusi pupuk yang tidak tepat sasaran di Kabupaten Lamongan. Contohnya, penyaluran pupuk yang tidak sesuai RDKK di tingkat pengecer menjadi gejolak di kalangan petani Lamongan.
Permasalahan banyaknya petani tambak yang juga petani sawah menggunakan pupuk bersubsid disampaikan Syaifudin Zuhri di forum tersebut.
”Kita sering di demo petani terkait penyaluran pupuk bersubsidi yang tidak tepat sasaran karena ulah oknum pengecer”, ungkap Zuhri.

Ahmadi Widodo selaku Asisten Pembangunan dan Perekonomian Sekda Kabupaten Grobogan, menjelaskan bahwa
Kabupaten Grobogan memiliki Komisi Pengendalian Pupuk dan Pestisida (KP3). Di tingkat kecamatan KP3 diketuai oleh Camat setempat dan di tingkat Kabupaten diketuai oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan. KP3 berfungsi dalam mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi dan pestisida yang beredar di Kabupaten Grobogan.

”Setiap tahunya kita rutin mengadakan monitoring dan evaluasi langsung ke pengecer yang ada di Kabupaten Grobogan untuk memastikan penyaluran dan ketersediaan pupuk dalam keadaan kondusif”, tambah Ahmadi. (IP)

Pemberdayaan Pengerajin Olahan Kedelai Grobogan untuk Meningkatkan Nilai Tambah

Pemberdayaan Pengerajin Olahan Kedelai Grobogan untuk Meningkatkan Nilai Tambah

Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah melalui Bidang Pasaca Panen dan Bina Usaha (P2BU) sebagai tindak lanjut kegiatan fasilitasi bantuan UPH Kedelai untuk Gapoktan /Poktan dan pengembangan olahan kedelai di Kabupaten Grobogan, maka dilaksanakan Pemberdayaan Pengelolaan Hasil Komoditas Kedelai. Kegiatan akan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari di Learning Center Rumah Kedelai Grobogan (1 – 3 / 08 / 2018).

Peserta yang dilatih dalam kegiatan ini sebanyak 40 orang, berasal dari unsur kelompok tani, pondok pesantren dan pelaku usaha olahan kedelai dari Kabupaten Grobogan juga Kabupaten Semarang. Metode penyampaian materi terdiri dari 40% teori dan 60% praktek membuat olahan berbahan baku kedelai lokal Non GMO.

Sebagai Narasumber dalam kegiatan ini adalah Wakid Mutowal, SP, M.Sc. dari Dinas Pertanian Kabupaten Gobogan, Yulianita Diyah Evitaningrum, Spam, Apt. dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan dan pengelola Rumah Kedelai Grobogan (RKG).

Yulianita Diyah Evitaningrum, Spam, Apt. dalam paparannya menjelaskan mengenai tata cara produksi pangan yang baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB – IRT). Diyah menyebutkan bahwa Penerapan CPPB-IRT merupakan pewujudan dari komitmen Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) untuk memenuhi persyaratan Perundang-undangan yang berlaku yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4424).
”Penerapan CPPB-IRT juga diharapkan dapat memberikan dampak nyata pada perkembangan IRT di Indonesia yaitu semakin maju dan kompetitif,” Diyah menjelaskan.

Sementara itu Wakid Mutowal, SP, M.Sc. dari Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan menyampaikan materi mengenai Teknologi Pengolahan Kedelai Menjadi Produk yang Berkualitas dan Hygienis, diantaranya pembuatan tempe hygiene, tahu hygiene dan susu kedelai.
Wakhid menyampaikan bahwa bagi kelompok-kelompok yang telah mendapatkan fasilitasi UPH Kedelai dari kegiatan provinsi maupun kabupaten diharapkan dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga mampu menambah pendapatan kelompok dan keluarga.
”Kunci menjadi pengrajin tempe, tahu dan susu kedelai yaitu dengan kerja keras, terus belajar, tidak mudah putus asa dan selalu sabar dalam mencari pasar. Selain itu kita juga harus sering berkonsultasi dengan pengrajin tempe yang sudah jalan, ” ungkap Wahid.

Setelah penyampaian materi secara teori, peserta akan diajak untuk mempraktekan cara pembuatan tempe, tahu dan susu kedelai dengan alat yang telah tersedia di Rumah Tempe Hygiene dan Rumah Tahu Hygiene Rumah Kedelai Grobogan (RKG).

Tahun 2018 ini Kabupaten Grobogan mendapatkan 1 (satu) paket bantuan alat pengolahan hasil kedelai berupa alat pembuat tahu yang diberikan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Putih binaan Poktan Ngudi Rejeki I Desa Nambuhan Kecamatan Purwodadi. KWT yang diketuai oleh Patmi ini sebelumnya memang sudah memproduksi tahu dan tempe. Namun tahu produksi KWT Melati Putih ini kesulitan dalam pemasarannya dan kalah bersaing dengan tahu – tahu yang sudah laku di pasaran sebelumnya karena harga lebih murah disebabkan bahan bakunya berasal dari kedelai impor GMO.
Darwoto yang merupakan Ketua Kelompok Ngudi Rejeki I yang selalu membina dan memotivasi KWT. Melati Putih ini agar selalu optimis bahwa tahu dan tempe yang di produksi akan dapat bersaing secara kualitas kedepannya karena dengan adanya fasilitasi bantuan UPH Kedelai yang telah di terimanya.
”Harapanya kita dapat bersaing secara kualitas karena dengan alat pembuat tahu yang sudah modern ini kita dapat menghasilkan tahu dengan tekstur dan cita rasa yang khas, ” Darwoto menegaskan. (IP)