,

BIOEKOLOGI HAMA PENYAKIT CABAI

Cabai besar merupakan tanaman dikenal mempunyai banyak serangan hama dan
penyakit. Karena banyaknya hama dan penyakit serta besarnya kerugian yang
ditimbulkannya, Petani selain mengalami gagal panen, juga harus mengeluarkan
biaya pengendalian hama dan penyakit yang sangat tinggi. Di beberapa tempat di Jawa biaya pengendalian hama dan penyakit pada budidaya cabai besar intensif
mencapai 30% dari seluruh biaya produksi.
Hama dan penyakit pada tanaman cabai bukanlah sebuah hal yang statis. Hama dan
penyakit akan sangat tergantung dari lokasi varietas yang digunakan dan teknik
budidaya yang dilakukan. Masalah hama dan penyakit pada cabai merupakan hal
yang dinamis. Hama thrips menjadi masalah hama yang paling
penting pada hampir di seluruh pertanaman cabai di Indonesia. Demikian juga
dengan serangan penyakit virus kuning (virus gemini) yang akhir-akhir ini menjadi
hal yang lazim ditemui di beberapa sentra produksi cabai.
Untuk lebih detailnya silahkan Download artikel ini…
BIOEKOLOGI HAMA PENYAKIT CABAI
 
 
 

Budidaya Tanaman Bawang Merah


BUDIDAYA TANAMAN BAWANG MERAH

  1. PEMILIHAN LOKASI

Pemilihan lokasi dilaksanakan dengan memilih daerah tanam di daerah budidaya sesuai persyaratan tumbuh bawang merah. Hal ini dilakukan untuk mencegah kegagalan dalam proses pertumbuhan dan produksi, serta dapat menghasilkan bawang merah yang optimal standar lokasi budidaya. Standar lokasi persyaratan tumbuh bawnag merah sebagai berikut :

  1. Untuk calon lokasi budidaya bawnag merah harus sesuai keadaan agroklimatologi seperti iklim, cuaca, angina,kelembaban, pH tanah (5,5-7) dengan keitinggian tempat sekitar 10 – 800m dpl serta suhu rata – rata + 22o C yang mengandung banyak humus dan bahan organic.
  2. Calon lokasi pertanaman dapat diketahuai batas lahan dan sumber air (irigasi dan drainase).
  3. PENENTUAN WAKTU TANAM

Waktu tanam ditentukan berdasarkan perkiraan datangnya musim hujan biasanya September s.d oktober atau pada musim marengan ( setelah tanam padi/jagung saat labuhan) yaitu pada bulan Desember s.d Februari atau tersedianya air irigasi serta berdasar pada kebutuhan.

  1. PENYIAPAN BENIH

Benih yang digunakan adalah benih bermutudari penangkar ynag telah terdaftardi BPSBTPH dan benih tersebut siap tanam ( telah disimpan 2 – 3 bulan) , perompesan 1/3 bagian ujung benih diperlukan jika tunasdalam benih masih 50 – 60% , benih bersih dari kulit yang kering atau kotoran maupun penyakit/hama.

  1. PENYIAPAN LAHAN

Pembersihan lahan adalah membersihkan lahan dari hal – hal yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.Tujuannya adalah diperoleh lahan yang siap diolah dan terbebas dari gangguan fisik (batuan, dll) maupun biologis (gulma atau sisa – sisa tanaman).
Pembuatan bedengan dan pemberian pupuk organic
 

  1. Membajak tanah sedalam 30 cm beberapa kali sampai tanah menjadi gembur dan dipetak – petak dengan sebelumnya diberi pupuk kandang ( 10 ton/ha)
  2. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 180 – 200 cm dan panjang menyesuaikan lahan.
  3. Jarak antar bedengan ( got/parit dalam) adalah 50 – 60 cm, kedalaman 30 cm.
  4. Membuat got keliling dengan lebar 60 cm dan kedalaman 50 cm.
  5. Membuat pematang lahan /galengan
  6. Pengolahan lahan dilakukan 10 – 15 hari sebelum tanam

Pembuatan lubnag tanam dan jarak tanam

  1. Pembuatan larikan dan lubang tanaman dengan menggunakan sosrok yang berkedalaman ¾ umbi tanah.
  2. Jarak antar baris 15 – 20 cm dengan jarak tanam dalam barisan 10 cm.
  3. PENANAMAN
  4. Penanaman dilakukan dengan dibenamkan ¾ bagian benih bawang merah pada lubang tanam yang tersedia dengan mata tunas menghadap ke atas.
  5. Penanaman dilakukan pada sore hari gunanya untuk mengurangi penguapan pada benih yang dirompes.
  6. PEMUPUKAN
  7. Pemupukan harus mengacu pada empat tepat, yaitu tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, dan tepat jenis.
  8. Jenis dan takaran pupuk yang digunakan sebagai berikut :

 
 

NO MASUKAN POTENSI LAHAN    
    TINGGI SEDANG RENDAH
1 UREA 0 25 25
2 SP – 36 0 – 50 50 – 100 100 – 150
3 KCL 0 – 50 50 – 75 75 – 100
4 INOKULUM RHIZOBIUM 200 gr 200 GR 200 gr
5 BAHAN ORGANIK MULSA JERAMI MULSA JERAMI MULSA JERAMI
6 PENGELOLAAN TANAH TOT TOT TOT
7 PENGELOLAAN AIR      

 
 

  • Pupuk dasar diberikan secara sebar merata atau ditugal dimasukan ke dalam kemudian di tutup dengan tanah tipis sebelum tanam pada saat tanah masih lembab, untuk lahan kering/tegal.
  • Kacang hijau yang ditanam setelah padi sawah biasanya tidak banyak memerlukan pupuk buatan.
  • Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N ( Rhizobium ) disesuaikan kebutuhan.
  • PUTK ( perangkat uji tanah kering)
  • Dapat digunakan sebagai salah satu acuan menetapkan takaran pupuk.

 
Pemberian pupuk organic
Pupuk organic terdiri atas bahan organic sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos    ( humus) , yang telah mengalami proses pelapukan, berbentuk padat atau cair, abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam. Lahan kering masam perlu menggunakan kapur pertanian  ( dolomit atau kalsit).

  1. PENGAIRAN

Bila tersedia fasilitas pengairan, dapat dilakukan 3 – 4 hari sebelum tanam dan pada periode kritis kacang hijau terhadap ketersediaan air yaitu saat menjelang berbunga (umur 25 hari) dan pengisian polong (45 – 50 hari). Pengairan diberikan melalui saluran antar bedengan.

  1. PENGENDALIAN OPT

Jenis – jenis hama bawang merah :
Ulat daun : hama yang menyerang bawang merah daunnya. Ulat ini biasanya memotong daun bawang merah hingga habis. Cara memberantas hama ini adalah dengan cara memotong dan mencabut daun – daun yang terserang, setelah terlebih dahulu ulat – ulat yang menyerangnya di bunuh dengan cara dibakar.
Ngengat daun bawang merah : ngengat merupakan hama tanaman bawang merah yang dapat menyebabkan kerusakan tanaman. Ngengat ini biasanya akan merusak bagian yang sebelumnya sudah di serang ulat, sehingga menyebabkan kematian. Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan racun folidol M, folidol E 650, serta serbuk folidol. Yang hasilnya tentu akan memuaskan.

  1. PANEN DAN PASCA PANEN

Umur tanaman bawang merah siap panen bervariasi antara 60 – 90 hari, tergantung varietasnya.Ciri – ciri tanaman bawang merah siap panen adalah umbi tampak besar dan beberapa daun berwarna kecoklatan.Pemanenan sebaiknya dilakukan pagi hari saat cuaca cerah.Keadaan tanah pada saat panen diusahakan kering utuk mencegah terjadinya pembusukan umbi.Panen dilakukan dengan mencabut tanaman secara perlahan.Jika tanah terlalu keras, pencabutan sebaiknya dibantu dengan menggunakan cungkil atau gancu agar umbi bawang merah tidak rusak.
Setelah dipane, umbi dijemur di atas bedengan bekas tanam. Untuk memudahkan proses penjemuran, bawang merah diikat setiap 3 – 5 kg. daun bawang merah yang sudah diikat direbahkan hingga menutupi umbi. Penjemuran dilakukan dengan posisi umbi di bawah, tertutup daun yang direbahkan.Bawang merah ditutup dengan plastic pada sore hari. Lama penjemuran sekitar 3 – 5 hari,tergantung keadaan cuaca, hingga daun bawang merah benar – benar kering. Bawang merah bisa dipasarkan setelah dibersihkan dan dipotong daun akarnya.
 

Budidaya Tanaman Cabai

  1. Pemilihan Lokasi

Tanaman cabai mempunyai daya adaptasi yang cukup luas, namun demikian beberapa
Hal perlu memperhatikan lokasi yang tepat, yaitu:

  1. Ketinggian optima : 0 – 1.400 dpl
  2. Jenis tanah :Jenis tanah ringan – tanah berat
  3. PH rekomendasi :5,5 – 6,8
  4. pH optimum :6,0 – 7,0
  5. Suhu :18 – 27
  6. Suhu optimum :22 – 25
  7. Curah hujan :600 – 1.250 mm per tahun
  8. Kelembapan :60 – 80
  9. Penyediaan Benih

Penggunaan benih bermutu merupakan kunci utama untuk memperoleh hasil produksi
Cabai yang tinggi. Dan pertumbuhan tanaman yang seragam.
Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan benih adalah antara lain:

  1. Gunakan varietas yang sudah dilepas oleh Mentri pertanian.
  2. Pilih benih bermutu tinggi (berdaya kecambah diatas 80% mempunyai vigor yang baik, murni, bersih dan sehat.)
  3. Pilih benih dengan daya adaptasi tinggi
  4. Pilih yang berlebel/sertifikat dan tidak kadaluarsa.
  5. Penyemaian

Tempat persemaian berupa bedengan berukuran lebar 1 m, diberi naungan atap plastik  Transparan, dan atap menghadap ke timur.
Media persemaian terdiri dari campuran tanah halus dan pupuk kandang steril (1 : 1). Penyemaian benih disebar rata pada bedengan dan ditutupi tipis tanah halus, lalu ditutupi lagi dengan daun pisang atau karung basah. Setelah benih berkecambah (7 – 8 hari) tutup daun pisang atau karung dibuka dipindahkan ke lapangan.

  1. Penyiapan Lahan

Tanah yang ideal terdiri atas tiga komponen, yaitu masa pemadatan, air dan udara,
Maing masing dengan volume sepertiga bagian. Keadaaan ini menjamin aerasi, daya tahan air, drainase, dan aktivitas biologi tanah yang cukup baik. Produser pelaksanaan pengolahan tanah adalah:

  1. Lakukan pembersihan lahan dari sisa tanaman dan sampah. Tanah diolah sedalam 30-40 cm kemudian buat bedengan dengan ukuran lebar (1,2-1,5) m, tinggi (25-30)cm dan panjang nya disesuaikan dengan kondisi lahan. Buat lubang tanam dengan jarak (50-60cm) x (50-70cm)
  2. Pemberian kapur pertanian, apabila kondisi Ph tanah kurang dari 5,5 dilakukan pengapuran dengan kaptan/dolomit sebanyak 1,5ton/ha yang diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah.
  3. Lakukan pemupukan dasar dalam bentuk pupuk kandang yang sudah matang sekitar 2 minggu sebelum tanam. Berikan pupuk anorganik N, P, K, 5 hari sebelum tanam dengan cara ditebar,disiram dan ditutup mulsa.
  4. Lakukan pemasangan mulsa plastik hitam-perak.
  5. Penanaman

Penanaman merupakan kegiatan memindahkan bibit dari persemaian ke lahan atau areal
Penanaman hingga tanaman berdiri tegak dan tumbuh secara optimal di lapangan.Kerapatan tanaman atau jarak tanam yang digunakan akan mempengaruhi populasi tanaman dan efisiensi penggunaan cahaya matahari, serta persaingan antar tanaman dalam penggunaan air unsur hara dan ruang.

  1. Pemasangan Ajir

Pemasangan ajir merupakan kegiatan memasang atau penyanggah/penopang (biasanya dibuat dari bambu) dekat dengan tanaman cabai. Tujuanya adalah untuk membantu tanaman tumbuh tegak mengurangi kerusakan fisik tanaman yang disebabkan beban buah dan tiupan angin, memperbaiki pertumbuhan daun dan tunas, dan mempermudah pemeliharaan.

  1. Panen

Di dataran rendah cabai merah dapat dipanen mulai umur 70-75 hari setelah tanam. Panen cabai
Merah dapat dilakukan 5-7 hari. Panen cabai merah hendaknya dilakukan pada cuaca cerah agar sisa-sisa embun yang menempel pada buah menguap,sehingga patogen penyakit tidak dapat berkembang. Buah cabai merah yang dipanen adalh yang sudah matang penuh ( samapai merah )
 

Budidaya Tanaman Melon


BUDIDAYA TANAMAN MELON
( CUCUMIS MELO)

  1. PEMBENIHAN

Memilih benih varietas hybrid (F1) yang memiliki daya adaptasi yang tinggi dengan agroklimat setempat dan memiliki pasar yang jelas.

  1. PEMBIBITAN
  2. Media tanam adalah tanah : pupuk kandang ( 2:1) dimasukkan ke polybag  ( 8cm x 10cm), diletakkan dalam sungkup ( ditempat terbuka dan sirkulasi udaranya baik).
  3. Sungkup terbuat dari rangka bamboo, bentuknya melengkung setengah lingkaran ( lebar 1 – 1 ,25m,tinggi 0,5-0,6m)
  4. Penyemaian benih , benih direndam air hangat kuku kurang lebih 40oC) dicampur fungisida propamokarb hidroklorida atau benomyl (benlate) selama 4 – 6 jam, ditiriskan, diletakkan di atas Koran basah (36 jam) pada suhu 25 – 30 o C (atau pemanasan lampu pijar jarak 30 cm dari benih.
  5. Benih dipindahkan ke lapangan setelah berumur 10 – 14 hari atau telah memiliki 2 – 3 pasang daun sejati.
  6. PENYIAPAN LAHAN
  7. Lahan dibersihkan dari sisa tanaman/sampah, lalu digemburkan (sedalam 20 – 30 cm), lahan dibiarkan/dikering anginkan (5 – 7 hari), lalu tanah dihaluskan dan dibiarkan 4 – 5 hari. Bedengan dibuat denagn panjang maksimum 15 m, tinggi 30 – 50 cm,lebar bedengan 100 – 120 cm,lebar parit 50 – 60 cm. pada musimhuajn, tinggi bedengan 50 cm agar perakaran tanaman tidak terendam air sewaktu hujan deres.
  8. Pemberian kapur dengan dosis disesuaikan dengan pH tanah (± 1,5 – 2,5 ton/ha). Pemberian pupuk dasar berupa pupuk kandang ( 20 ton/ha) dan pupuk anorganik ( ZA 250 kg/ha, SP-36 450 kg/ha dan KCL 250 kg/ha) dengan cara disebarkan secara merata, di aduk-aduk ke seluruh bedengan kemudian disiram air sampai basar merata.
  9. Mulsa plastic hitam-perak (lebar 100-125 cm) dipasang saat panas terik matahari agar mulsa memuai sehingga rapat menutup bedengan. Jarak lubang 45 cm x 60 cm atau 50 cm atau 60 cm x 70 cm. kegiatan ini dilakukan 1 minggu sebelum tanam.
  10. PENANAMAN DI LAPANGAN
  11. Sehari sebelum pindah tanam, bedengan direndam (dileb) agar bedengan basah atau lubang tanam disiram sampai basah apabila air tidak mencukupi. Penanaman dilakukan pada pagi hari sebelum jam 9 pagi atau sore setelah jam 15.30 untuk menghindari stres karena terik matahari.
  12. Sebelum tanam, media pada bibit disiram sampai basahagar media tidak pecah, pada saat polybag dibuka. Tingkat kelembaban tanah diusahakan tetap optimum. Penyulaman dilakukan sejak hari ke 5 sampai ke 7 setelah penanaman.
  13. Pengairan

Pengairan/penyiraman dapat dilakukan dengan dileb (direndam) sampai mencapai 2/3 bedengan atau disiram dengan menggunakan gembor apabila air tidak mencukupi pengairan/penyiraman.

  1. Sanitasi Kebun

Gulma yang tumbuh disepanjang parit di luar lubang tanam dibersihkan ninimal seminggu sekali,sedangkan peralatan yang digunakan dicuci sampai bersih,kering dan disimpan.
 

  1. Pemupukan (Susulan)
Jenis Waktu/Konsentrasi (g/I) Dosis per tanaman
7 HST 14 HST 21 HST 28 HST 45 HST
NPK 20 40 20 20 200 ml
KNO3 1 200 ml

 

  1. Pengendalian OPT
OPT Pestisida ( Bahan Aktif)
1.       Hama
–          Lalat Buah
 
Mengendalikan Hama :
–          Perangkap atraktan ( metal enugenol/protein hidrolisa/selasih)
 
2.       Penyakit
–          Antraknosa
 
–          Azoksisitrobin 250 g/l atau propineb 70 %

 

  1. Panen

Penentuan Saat Panen :

  1. Net telah terbentuk sempurna,tebal dan merata
  2. Ada retakan pada pangkal tangkai buah
  3. Perubahan warna kulit
  4. Kulit buah terasa halus tidak berbulu
  5. Muncul aroma melon yang khas
  6. Tangkai buah berwarna kuning
  7. Umur buah 25 hari setelah pembungaan (melon daging putih) atau 40 hari setelah pembungaan (melon daging merah)
  8. Daun dan tangkai mulai menguning.

Budidaya Tanaman Terong


BUDIDAYA TANAMAN TERONG
(SOLANUM MELONGENA L)

  1. SYARAT TUMBUH

Terong merupkan tanaman semusim sampai dengan tanaman tahunan yang baik tumbuh di daerah tropis berhawa sejuk sampai pada ketinggian 1.200 m dpl. Pada saat pembentukan buah memerlukan cuaca panas, suhu 22 – 300C dan pertumbuhan akan terhenti pada suhu 170C.

  1. BENIH DAN PERSEMAIAN

Kebutuhan benih trong untuk satu hektar adalah 150 – 500 gr biji. Cara penyemaian biji : sebaiknya disebar agar tidak terlalu berdekatan dan bertumbuk saat benih tumbuh, biji ditutup kembali dengan tanah tidak terlalu tebal karena akan sulit berkecambah atau tumbuh, sebelum dan sesudah penyebaran benih, persemaian harus di siram, selam persemaian, bibit dirawat agar tumbuh dengan baik.

  1. PENGOLAHAN TANAH

Agar diperoleh tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman maka perlu dilakukan langkat – langkah dalam pengolahan tanah yaitu:

  1. Penggemburan: tanah di gemburkan dengan cangkul, bajak atau traktor tangan sampai kedalaman 35 cm
  2. Pembuatan bedengan: arah bedengan disesuaikan dengan kemiringan tanah, bedengan dibuat dengan lebar 120 – 140 cm, panjang bedengan disesuaikan dengankondisi lahan atau petakan sawah, tinggi bedengan kurang lebih 30 cm, panjang parit disesuaikan dengn panjang bedengan
  3. Pengapuran

Pengapuran dilakukan apabila tanah terlalu asam

  1. Pemberian pupuk kandang: kebutuhan pupuk kandang untuk tanaman terong adalah 15 ton per hektar, cara pemberiannya dapat dilakukan dengan memasukan pupuk tersebut kedalam lubang tanam.
  2. PENANAMAN

Langkah yang diperlukan dalam penanaman terong adalah sebagai berikut: waktu tanam yang baik awal musim kemarau, jarak antar lubang dalam barisan 70 – 80 cm, lubang tanam berukuran lebar 20 cm tau selebar mata cangkul dan kedalaman 20 – 25 cm, pupuk kandang sebanyak 0,5 kg dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan ditimbun tipis dengan tanah, lubang tanaman dibiarkan 1 – 2 minggu sebelum ditanam, penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit semai yang telah berumur 1,5 bulan kedalam lubang tanam.tiap lubang ditanami satu bibit yang sehat kuat dan subur.

  1. PEMELIHARAAN TANAMAN
  2. Pengairan

Umumnya jika telah turun hujan yang cukup lebat maka pemberian air tidak erlu dilakukan.Apabila suhu udara tinggi maka pemberian air sering dilakukan.

  1. Penyulaman

Bibit yang telah dipindahkan dari areal persemaian ke areal produksi tidak semuanya dapat tumbuh dengan baik.Bibit yang terlihat layu atau mati perlu diganti dengan bibit baru agar baris tanaman tidak kosong.

  1. Pembumbunan dan penyiangan

Pembumbunan dilakukan dua tahap, yaitu setelah tanam 10 – 15 hari dan 30 hari.Apabila dianggap perlu maka pembumbunan dapat dilakukan.Penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan pembumbunan, penyiangan tak perlu terlalu sering tergantung banyaknya rumput yang tumbuh.

  1. Pemupukan

Tanaman terong diperlukan pupuk tambahan seperti urea, TSP, dan KCL. 150 kg/ha urea, 300 kg/ha TSP dan 150 kg/ha KCL atau perbandingan  1 : 2 : 1. Pemberian pupuk dilakukan dengan  cara dibenamkan dengan menugal agar tidak mudah menguap.

  1. Pengendalian hama penyakit

Tanaman terong lebih tahan terhadap penyakit layu dan kekeringan. Memelihara hanya dengan membersihkan rumput pengganggu dan memberikan air bila kekeringan
Hama yang seringmenyerang tanaman terong ialah kutu – kutu daun, dapat dikendalikan dengan curacron 500 EC dan ambush 2 EC.
Penyakit yang berbahaya menyerang terong umumnya disebabkan oleh cendawan.
 

  1. PANEN

Buah pertama dapat dipanen setelah tanaman berumur 4 bulan, memanennya jangan sampai terlambat karena rasa buahnya menjadi kuat dan kurang enak, tanaman yang baik akan menghasilkan 10 – 30 ton buat terong tiap hektar , tergantung varietasnya, pemasaran buah terong masih terbatas pada pasar lokal.
 

  1. MANFAAT TERONG

Buah terong mengandung zat aktif yang berfungsi untuk kontrasepsi.Buah terong dapat mencegah penyakit diabetes dan dapat meningkatkan gairah kerja, namun bagi penderita penyakit radang usus/radang anus dan wanita penderita sakit pembesaran kandungan tidak diperbolehkan makan buah terong.Buah terong dapat dibuat sayur lodehdan oper, asinan dan dapat dilalap.
 
 
 
 

Budidaya Semangka

  1. PEMILIHAN LOKASI

Untuk lebih memaksimalkan dalam membudidayakan sebaiknya pilih tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman semangka ini. Tanah yang baik untuk menanam semangka harus memiliki keasaman tanah pH 5,5-6,5. Tetapi tanaman ini masih bisa tumbuh di bawah pH 5, sehingga tanaman ini dapat tumbuh di lahan gambut.
Tanah yang dipilih penanaman harus yang cukup gembur dan kaya bahan organik, apabila kita sudah dapat menentukan lahan yang akan di tanam, kemudian tanah diolah, seperti biasa halnya sebelum menanam tanaman kita harus membersihkan lahan yang akan diolah kemudian lahan dibajak atau dicangkul.
Setelah dicangkul dengan halus, langkah selanjutnya membuat bedengan dengan panjang 12-15 m,lebar 1,5-2 m atau sekitar 3-4 m. Setelah bedengan siap kemudian buat lubangan tanam dengan ukuran 40 x 40 x 30 cm. Jarak tanamnya didalam baris sekitar 1,2-1,5 m setelah itu, lubang tanam diberi pupuk dasar terdiri dari 4 kg pupuk kadang , 28 gram pupuk DS, 22 gram pupuk ZK dan 15 gram pupuk ZA.

  1. CARA PEMBIBITAN

Penanaman semangka dilakukan dengan menggunakan biji (benih). Sebelum menjadi binit yang siap ditanam benih disemai terlebih dahulu di dalam pot plastik atau polybag dengan media tanah dan pupuk kandang yang seteril.
Cara penyemaian benih yaitu, pertama bibit biji semangka direnggakan supaya mempermudah proses pertumbuhan, tahap selanjutnya rendam benih biji semangka dalam 1 liter air dengan campuran 1 sendok the hormone (Atronik, Menedael, Abitonik), 1 sendok feres fungisida (obat anti jamur), 0,5 sendok peres bakterisida. Setelah direndam 10-30 menit, diangkat dan ditiriskan sampai air tidak mengalir lagi dan bibit siap dikecambahkan.
Kantong – kantong persemaian diletakan berderet agar terkena sinar matahari. Lakukan pemupukan dilakukan lewat daun supaya cepat berkembang dan pupuk dicampur obat. Lakukan pemupukan 3 kali sekali.
Setelah bibit memiliki daun 2 lembar atau berumur 4 minggu, maka bibit sudah siap ditanam di lahan terbuka atau kebun dengan jarak tanam antar bibit 1m.

  1. PENANAMAN

Penentuan pola tanam pada tanaman semangka dilakukan dengan pola monokultur. Pembuatan lubang tanam,penanaman bibit semangka pada lahan lapang setelah persemaian berumur 14 hari dan telah tumbuh 2 helai daun. Sambil menunggu bibit cukup besar,dilakukan pelubangan pada lahan dengan kedalaman 8-10 cm. Pesiapan pelubangan lahan tersebut dilakukan 1 minggu sebelum bibit di pindah ke darat.Sebelum bibit batang ditanam lakukan terlebih dulu perendaman agar mudah melepaskan polybag yang dipakai. Langkah imunisasi dilakukan dengan cara merendam selama 5-10 menit dan disertai campuran larutan obat – oabatan.`as68y7ujk;l.’

  1. PEMELIHARAAN TANAMAN

Pemupukan yang akan diberikan pada tanaman semangka yang cukup pesat pertumbuhannya sebaiknya diberikan pupuk P dan K serta 1/3 bagian pupuk N diberikan untuk pupuk dasar. Campuran pupuk P dan K diberikan dalam lubang tanam ( sedalam 5-8 cm). Sejauh 5-8 cm dari biji. Jika menggunakan pupuk DS dan ZK, maka tiap lubangnya hanya diberikan 28 gram pupuk DS dan 22 Gram pupuk ZK..
 

  1. PANEN

Untuk dataran rendah buah semangka dapat dipanen 65-70 hari setelah pindah tanam. Untuk dataran sedang buah semangka dapat dipanen 70-75 hari setelah pindah tanam.

Budidaya Pisang

  1. SYARAT TUMBUH

Dengna pertumbuhannya yang sangat cepat dan terus menerus, yang akan mengakibatkan hasil yang tinggi, pisang memerlukan tempat tumbuh di iklim tropik yang hangat dan lembap. Suhu merupakan factor utama untuk pertumbuhan.Di sentra-sentra produksi utamanya suhu udara tidak pernah turun sampai dibawah 150 C dengan jangka – waktu yang cukup lama.Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah sekitar 270  C, dan suhu maksimum 380 C. di dataran tinggi daerah ekuator, pisnag tak dapat tumbuh di ketinggian di atas 1600 m dpl. Kebutuhan akan penyinaran belum dipahami benar.
Kebanyakan pisang tumbuh baik di lahan terbuka, tetapi kelebihan penyinaran akan menyebabkan terbakar matahari (sunburn). Dalam keadaan cuaca berawan atau dibawah naungan ringan, daur pertumbuhannya sedikit panjang dan tandannya lebih kecil.Tanah yang paling baik untuk pertumbuhan pisang adalah tanha liat yang dalam dan gembur, yang memiliki pengeringan dan aerasi yang baik. Kesuburan yang tinggi akan sangat menguntungkan dan kandungan bahan organiknya. Hendaknya 3% atau lebih. Tanaman pisang toleran terhadap Ph 4,5-7,5.

  1. PEDOMAN BUDIDAYA

Pisang umumnya diperbnyak dengan anakan.anakan yang berdaun pedang-lah yang lebih disenangi petani, sebab pohon pisang yang berasal dari anakan demikian akan menghasilkan tandan yang lebih besar pada panen pertamnya (tanaman induk). Bonggol atau potongan bonggol juga di gunakan sebagai bahna perbanyakan.Bonggol ini biasanya dibelah dua dan direndam dalam air panas (520 C) atau dalam larutan pestisida untuk membunuh nematode dan penggerek peggerek sebelum di tanamkan. Kini telah dikembangkn kultur jaringan untuk perbanyakan secara cepat, melalui ujung pucuk yang bebas penyakit. Cara ini telah dilaksanakan dalam skala komersial, tetapi adanya mutasi yang yang tidak dikendaki menimbulkan awal musim hujan.Bahan perbanyakan bisanya ditanamkan sedalam 30 cm. pisang dapat dijadikan tanaman utama atau tanaman pencampur pada system tumpang sari.

  1. PEMELIHARAAN

Penyiangan berulang-ulang di perlukan sampai pohon-pohon pisang dapat menaungi dan menekan gulma.Gulma diberantas dengan cara-cara mekanik (dibabat, dibajak, dan sebagainya) atau dengan tangan. Herbisida pratumbuh cukup efektif, danjika tanaman telah mencapai tinggi 1,5 m atau lebih, dapat digunakan herbisida kontak. Di pekarangan pemakaian pupuk kandang dan kompos dianjurkan, yang dikombinasikan dengan 0,25 kg urea dan kalium nitrat (muriate of potash) setiap tiga bulan untuk masing-masing rumpun. Pengairan diperlukan di areal yang memiliki musim kemarau panjang.Air dapat di alirkan melalui parit atau di semprotkan.Selama putaran pemangkasan ringan\, daun-daun yang layu dipotong agar diperoleh mulsa dan untukmenghindari sumber infeksimelalui penyakit-penyakit daun. Di perkebunan skala komersial beberapa tindakan lainuntuk mempertahankan produktivitas yang tinggi dan untuk menjmain buah berkualitas baik untuk pasaran (ekspor). Tindakan-tindakan itu mencakup pembuangan anakan, pembuangan tunggul-tunggul, pemotongan jantung pisang, dan pengurangan tandan buah. Setiap 6 – 12 minggu tanaman pisang dibuangi anakannya, hanya ditinggalkan satu tanaman induk (yang sedang berbuah), satu batang anakan (yang tertua) dan dalam hal tanaman-sirung(ratoons), satu tanaman cucu.

  1. HAMA DAN PENYAKIT

          Hama:

  • Ulat penggulung daun (erionata thax) menyebar diasia tengara. Gejala : larva instar awal membuat irisan miring pada tepi jdaun dan menggulung ke atas bagian yang terpotong sebagian dan lambat laun gulungan makin lebar. Pada serangan berat hanya tersisa tulang daun dan gulungan daun. Curah hujanyang tinggi menekan populasi instar awal. Pada daerah yang terlindungn dari angina populasi hama tinggi.
  • Penggerek buah pisang ( Nacoleai Octasema) menyebar di asia tenggara. Gejala : seperti kudis buah bercak kecoklatan sebagian membusuk.
  • Penggerek batang pisang ( cosmopolites sordidus) menyebar didaerah tropika. Gejala : larva instarawal membuat beberapa gerakan memanjang pada jaringan bagian luar hingga menembus seludang daun bagian dalam di dekatnya. Hama ini menggerek pangkal batang dan rhizome. Serangan di daerah pegunungan lebih tinggi dari dataran rendah. Populasi hama banyak terdapat pada tanaman yang terlalu tua serta pada tungul dan rhizoma yang tersisa. Pengendalian : snitasi kebun dan pemanenan secara periodic.
  • Odoiporus longicalling merupakan hama sekunder. Larva menggerk ke dalam tengah batang hingga seludang daun.

PENYAKIT
        Penyakit layu fusarium (penyakit panama) disebabkan oleh fusarium oxysporium.Penyakit ini merupakan penyakit yang merugikan setelah layu bakteri dan penyebar luas diseluruh dunia. Gejala: tepi daunbawah kuning tua lalu menjadi coklat dan mongering pangkal tangkaidaun patah kadang kala batang palsu bagian luar belah dari pangkal pada belahan membujur pangkal batang palsu hingga tangkai daun terjadi perubahan warna berkas pembuluh pengendalian : pencegahan.
Bercak daun cercopora ( penyakit sigatoka) disebabkan oleh mycosphaerella musicola. Penyakit ini kadang kala merugikan dapat menurunkan kuantitas dan kualitas buah namun kurang mendapat perhatian di Indonesia.Gejala : bercak kecil memanjang kuning pucat atau hijau kecoklatan sejajar tulang daun bercak membesar menjadi coklat tua sehingga hitam ellips ( 0.5 cm x 1.5 cm) pada daun tua pusat bercak mongering  dengan tepinya coklat tua dengan halo kuning pada pusat bercak ada titik hitam.
 

  1. PANEN DAN PASCA PANEN

Penentuan waktu panen yang tepat akan menghasilkan kualitas buah pisang yang baik. Panen buah dilakukan saat tinggkat perkembangan fisiologi buah maksimum. Pada saat perkembangan fisiologi buah maksimum, kandungan pati mencapai tingkat tertinggi sehingga dalam proses pematangan dapat di ubah menjadi gula yang cukup tinggi. Secara visual, buah pisang yang siap panen menunjukan tanda-tanda seperti bentuk buah tampak bulat berisi dan sudut penampangnya rata serta tangkai bekas putik telah gugur  cara pemanenan, yaitu batang pisang dipotong kira- kira setengah diameter batang pada ketinggian 1 m dari permukaan tanah. Tandan buah di than agar tidak terjatuh ke tanah lalu dipotong

  1. PENANGANAN PASCA PANEN
  • Pemotongan sisir pisang dari tandanya pencucian sisir dari kotoran dan getah serta dilakukan seleksi buah
  • Pencucian sisir pisang yang sudah terselaksi dalam air bersih mengalir
  • Penyusunan sisir pad arak terbuka lalu dikering anginkan dengan mengalirkan udara kering pada sisir-sisir pisang tersebut
  • Pengemasan sisir pisang pada kotak karton per 15 kg (3-5 sisir ukuran besar atau 6-9 sisirukuran kecil)
  • Penyemprotan fungisida A12(SO4) 3 (120 ml/15 kg pisang)
  • Pengepakan pada container

BUDIDAYA TOMAT

A. Pembibitan

1. Persyaratan Benih
Kriteria-kriteria teknis untuk seleksi biji/benih tanaman tomat adalah:
a) Pilih biji yang utuh, tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat biasanya sulit tumbuh.
b) Pilih biji yang sehat, artinya biji tidak menunjukkan adanya serangan hama atau penyakit.
c) Benih atau biji bersih dari kotoran.
d) Pilih benih atau biji yang tidak keriput.
2. Penyiapan Benih 
Pengadaan benih tomat dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara membeli benih yang telah siap tanam atau dengan membuat benih sendiri. Apabila pengadaan benih dilakukan dengan membeli, hendaknya membeli pada toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih-benih yang bermutu baik dan telah bersertifikat.
B. Teknik Penyemaian Benih
Benih atau biji-biji tomat yang telah terpilih sebelum disemaikan didesinfektan. Caranya, dengan merendam benih kedalan larutan fungisida agar mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit mati.
Ada beberapa cara menyemai pada bedeng persemaian. Cara pertama, benih tomat ditaburkan merata pada permukaan bedeng, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Bedeng dibuat guritan sedalam 1 cm dengan jarak antar guritan 5 cm, lalu biji ditaburkan kedalan guritan secara merata dan tidak saling tumpuk, kemudian ditutup kembali dengan tanah tipis-tipis. Cara kedua, dengan menanamkan benih pada lubang-lubang tanam yang dibuat dengan jarak 5 cm dan kedalaman lubang tanam sekitar 1 cm. Dalam satu lubang tanam dapat diisikan 1 atau 2 benih, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Cara ketiga, penyemaian dapat langsung dilakukan pada kantong-kantong polybag yang telah diisi media tanam berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Setiap kantong polybag diisi satu benih saja dan tanamkan benih dengan kedalaman sekitar 1 cm. Setelah biji ditanam, media semai sebaiknya dibasahi dengan air.
Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Selama awal pertumbuhan, pemeliharaan bibit tanaman di persemaian harus dilakukan secara intensif dengan pengawasan kontinyu. Pemeliharaan bibit meliputi kegiatan-kegiatan:
1. Penyiraman 
Penyiraman dilakukan sejak benih ditaburkan ke bedeng pesemaian sampai tanaman siap dipindah ke kebun. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat/gembor yang memiliki lubang halus, agar tidak merusak bibit tanaman yang sudah atau baru tumbuh.
2. Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan cara langsung mencabuti tanaman pengganggu tanpa peralatan. Penyiangan sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat keadaan tanaman. 

3. Pemupukan
Pada media persemaian selain diberikan pupuk kandang, sebaiknya juga diberikan pupuk kimia NPK secukupnya sebagai pupuk tambahan yang diberikan setelah benih tumbuh menjadi bibit.
4. Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit 
Hama yang umumnya menyerang benih atau bibit di pesemaian berasal dari golongan serangga, seperti semut dan golongan nematoda, seperti cacing tanah. Penyakit yang sering menyerang dari golongan cendawan. Untuk mencegah berkembangnya hama dan penyakit dapat dilakukan sterilisasi tanah. Untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang dapat disemprotkan obat-obatan. Insektisida untuk memberantas hama dari golongan serangga dan fungisida untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur. Nama-nama formulasi yang dapat digunakan antara lain Furadan 3 g, Dithane Hostathion dan Antracol.
C. Pemindahan Bibit 
Bibit tomat dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 30-45 hari di persemaian. Pada saat dilakukan penanaman ke kebun, sebaiknya dilakukan lagi terhadap bibit-bibit yang telah berumur 30-45 hari agar diperoleh tanaman yang baik pertumbuhannya dan memiliki daya produktivitas tinggi dalam menghasilkan buah. Untuk itu, bibit yang dipilih sebaiknya yang berpenampilan menarik dan baik., yaitu penampakannya segar dan daun-daunnya tidak rusak. Pilihlah bibit yang kuat, yaitu tegak pertumbuhannya dan pilihlah bibit yang sehat, artinya bibit tidak terserang hama dan penyakit.
Waktu yang baik untuk menanam bibit tomat di kebun adalah pagi atau sore hari. Pada saat itu keadaan cuaca belum panas sehingga mencegah kelayuan pada tanaman.
Ketika memindah bibit di kebun, hendaknya memperhatikan cara-cara yang baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, sehingga pada saat bibit telah ditanam maka akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan bahkan mati.
Ada beberapa cara pemindahan bibit dari persemaian yaitu : 
1. Sistem cabut, yakni bibit yang telah tumbuh di persemaian dan cukup umur dicabut dengan hati-hati. Namun, sebelum dilakukan pencabutan bedeng persemaian harus dibasahi dengan air untuk memudahkan pencabutan dan tidak merusak akar.
2. Sistem putaran, yaitu bibit diambil beserta tanahnya. Namun, sebelum bibit diambil tanah dibasahi dengan air telebih dahulu.
Kedua cara tersebut terutama ditujukan untuk pembibitan yang secara langsung dilakukan pada bedeng tanah persemaian sedangkan untuk bibit yang disemaikan dalam bumbung atau polybag cara pemindahannya adalah basahi bumbung terlebih dahulu, kemudian keluarkan bibit dari bumbung beserta tanahnya dengan menyobek kantong polybag.
D. Pengolahan Media Tanam
Persiapan 
Pengolahan tanah untuk penanaman bibit di kebun produksi harus memperhitungkan waktu, antara lain lamanya bibit di persemaian hingga dapat dipindah ditanam ke kebun dengan lamanya proses pengolahan tanah sampai siap tanam. Lamanya waktu pembibitan sekitar 30-45 hari, sedangkan lamanya pengolahan tanah yang intensif sampai siap tanam adalah 21 hari. Oleh karena itu, agar tepat waktu penanamannya di kebun, jadwal pengolahan tanahnya sebaiknya dilakukan 1-2 minggu setelah benih disemaikan.

Pembukaan Lahan
Pengolahan tanah yang intensif pada dasarnya melalui 3 tahap.
1. Tahap pertama adalah membalik agregat tanah sehingga tanah yang berada pada lapisan dalam dapat terangkat ke permukaan. Pengolah tanah tahap ini sebaiknya dilakukan dengan bajak yang ditarik oleh tenaga hewan atau dengan menggunakan traktor. Tanah diolah dengan kedalaman 25 cm-30 cm. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama 1 minggu agar bongkahan-bongkahan tanah hasil pembajakan cukup terkena angin, terkena cahaya matahari, dan supaya terjadi proses oksidasi (pemasaman) zat-zat beracun dari dalam tanah seperti asam sulfida yang sangat membahayakan kehidupan tanaman.
2. Tahap kedua, tanah digemburkan dengan cara dicangkul tipis-tipis sehingga diperoleh struktur tanah yang gembur atau remah, sekaligus untuk meratakannya. Selanjutnya, tanah hasil pengolahan tahap ini dibiarkan selama 1 minggu.
3. Tahap ketiga, dilakukan pemupukan dasar dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15-20 ton/ha. Pemberian pupuk kandang yang belum masak dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, bahkan dapat mematikan tanaman karena akar tanaman tidak kuat menahan panas. Pada tahap ini, tanah yang telah ditaburi pupuk kandang dicangkul kembali tipis-tipis dan diratakan.
Pembentukan Bedengan 
Setelah pengolahan tanah selesai dilakukan, selanjutnya dibuat bedeng-bedeng membujur ke arah Timur Barat agar penyebaran cahaya matahari dapat merata ke seluruh tanaman. Disamping pembuatan bedeng, juga dibuat parit-parit atau selokan untuk irigasi. Bedengan dapat dibuat lebar dengan ukuran lebar 1-1,2 m, panjang disesuaikan dengan keadaan lahannya dan tinggi bedeng 30 cm. Jika penanaman tomat dilakukan pada musim penghujan, bedengan dapat dibuat lebih tinggi yaitu 40-45 cm. Sedangkan ukuran parit dibuat lebar 20-30 cm dan kedalamannya 30 cm. Dengan demikian jarak antar bedeng adalah 20-30 cm. Kemudian pada sekeliling petak-petak bedengan dibuat saluran pembuangan air dengan ukuran lebar 50 cm, dan kedalamannya 50 cm.
Pengapuran 
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengolahan lahan atau penyiapan lahan adalah pengapuran pada tanah-tanah yang terlalu asam dan tidak sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman. Pengapuran ini diberikan bersamaan dengan saat pengolahan tanah, sebab pada umumnya akar tanaman tidak kuat terhadap pengapuran secara langsung, tanaman dapat menderita gangguan pertumbuhan bahkan dapat mati. Kapur yang dapat digunakan adalah kapur tohor, kapur karbonat, atau kapur tembok. Pengapuran, selain menaikkan nilai pH tanah juga dapat memperbaiki struktur tanah, mendorong aktivitas mikroorganisme tanah dalam membantu proses penguraian bahan organik tanah dan menurunkan zat yang bersifat racun tanpa menghilangkan zat-zat penting yang lain. Dosis pengapuran harus memperhatikan nilai pH tanah setempat.
Pemupukan
Sebelum tanaman tomat ditanam, lahan harus diberi pupuk dasar. Pemupukan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
1. Kompos atau pupuk kandang yang telah jadi tanah dan TSP ditabur secara merata ke seluruh bedengan. Selanjutnya, tanah dicangkul sampai homogen agar kompos atau pupuk kandang dan TSP tercampur merata dengan tanah.
2. Pada jarak yang telah ditentukan dibuat lubang sedalam + 15 cm dan bergaris tengah + 20 cm. Lubang-lubang tersebut kemudian diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5 kg (satu genggam besar) dan diberi TSP sebanyak + 5 gram. Lubang ditimbun tanah, kemudian diaduk-aduk sehingga kompos atau pupuk kandang, TSP dan tanah tercampur rata.
Pemberian Mulsa
Dewasa ini penggunaan plastik hitam-perak sebagai mulsa (penutup tanah) telah banyak dipergunakan oleh para petani. Penggunaan plastik hitam-perak sebagai mulsa lebih praktis dibandingkan dengan penggunaan sisa-sisa tanaman yang telah mati, misalnya jerami padi.
E. Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanam
Tomat dapat ditanam dengan 2 macam jarak tanam yaitu dengan sistem dirempel dan sistem bebas.
1. Sistem dirempel
Jarak tanam sistem ini adalah 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm, bujur sangkar atau segitiga sama sisi. Cara menanam dengan sistem ini maksudnya yaitu tunas-tunas yang tumbuh diambil (dipotong) sedini mungkin, sehingga tanaman hanya memiliki satu batang tanpa cabang. 

2. Sistem bebas
Ukuran jarak tanam sistem bebas adalah 80 cm x 100 cm; 80 cm x 80 cm; 80 cm x 100 cm; 100 cm x 100 cm. Bentuk yang digunakan dapat berupa bujur sangkar, segipanjang atau segitiga sama sisi. Selain itu dapat juga dibuat antar barisan berjarak 100 cm, dan dalam barisan berjarak 50-60 cm. Cara menanam dengan sistem ini bertujuan membiarkan tunas-tunas yang tumbuh menjadi cabang-cabang besar dan dapat berubah.
Pembuatan Lubang Tanam
Bedengan yang telah dipersiapkan untuk penanaman bibit, sehari sebelumnya hendaknya diairi terlebih dahulu supaya basah. Kemudian pada bedeng yang telah tertutup mulsa plastik dibuat lubang tanam dengan diameter 7-8 cm sedalam 15 cm. Lubang-lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan.
Cara Penanaman
Penanaman dapat dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. Apabila penanaman dilakukan pada musim kemarau pakailah mulsa plastik hitam perak atau kertas alumunium.Mulsa tersebut harus sudah dipasang di bedengan sebelum bibit ditanam. Apabila tomat ditanam pada musim hujan pasanglah lebih dahulu atap plastik transparan (tembus cahaya) pada bedengan yang akan ditanami.
F. Pemeliharaan
Penjarangan dan Penyulaman
Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati, rusak atau yang pertumbuhannya tidak normal, misalnya tumbuh kerdil. Penyulaman sebaiknya dilakukan seminggu setelah tanam. Namun jika satu minggu sudah terlihat adanya tanaman yang mati, layu, rusak atau pertumbuhannya tidak normal, penyulaman sebaiknya segera dilakukan. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam penyulaman adalah bibit yang digunakan. Bibit yang digunakan untuk menyulam diambil dari bibit cadangan yang telah dipersiapkan sebelumnya bersamaan dengan bibit lain yang bukan bibit cadangan.
Cara penyulamannya adalah apabila tanaman yang telah mati, rusak, layu, atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru ditempat tanaman terdahulu, dibersihkan dan diberi Furadan 0,5 gram bila dipandang perlu. Setelah itu, bibit yang baru ditanam pada tempat tanaman terdahulu dengan cara penanaman bibit terdahulu.
Penyiangan
Gulma yang tumbuh di areal penanaman tomat harus disiangi agar tidak menjadi pesaing dalam mengisap unsur hara. Gulma yang terlalu banyak akan mengurangi unsur hara sehingga tanaman tomat menjadi kerdil. Gulma juga dapat menjadi sarang hama dan penyakit yang akan menyerang tanaman tomat. Pemberian mulsa plastik atau daun-daunan akan mengurangi gulma.
Waktu penyiangan dapat dilakukan 3-4 kali tergantung kondisi kebun.
Pembubunan
Tujuan pembubunan adalah memperbaiki peredaran udara dalam tanah dan mengurangi gas-gas atau zat-zat beracun yang ada di dalam tanah sehingga perakaran tanaman akan menjadi lebih sehat dan tanaman akan menjadi cepat besar. Tanah yang padat harus segera digemburkan. Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.
Perempalan 
1. Tunas yang tumbuh di ketiak daun harus segera dirempel/dipangkas agar tidak menjadi cabang. Perempalan paling lambat dilakukan 1 minggu sekali. Pada tanaman tomat yang tingginya terbatas, perempalannya harus dilakukan dengan hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel supaya tanaman tidak terlalu pendek.
2. Perempalan yang baik dilakukan pada pagi hari agar luka bekas rempalan cepat kering dengan cara: ujung tunas dipegang dengan tangan yang bersih, lalu digerakkan ke kanan kiri sampai tunas tersebut lepas. Apabila terlambat merempel, tunas akan cabang yang besar dan sukar putus.
3. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting tajam yang bersih.
4. Ketinggian tanaman tomat dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah sudah mencapai 5-7 buah.
 Pemupukan
Pemupukan bertujuan merangsang pertumbuhan tanaman. Tata cara pemupukan adalah:
1. Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu setelah ditanam, harus segera diberi pupuk buatan. Dosis pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman antara 1-2 gram. Pemupukan dilakukan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. Pupuk Urea dan KCl tidak boleh mengenai tanaman karena dapat melukai tanaman.
2. Pemupukan kedua dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl sebanyak ± 5 gr. Pemupukan dilakukan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan dalamnya ± 1 cm kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air.
3. Bila pada umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk lagi dengan Urea dan KCl sebanyak 7 gram. Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh yaitu ± 7 cm.
Penyiraman dan Pengairan
Kebutuhan air pada budidaya tanaman tomat tidak terlalu banyak, namun tidak boleh kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan pada areal tanaman tomat dapat menyebabkan tanaman tomat tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Kelembaban tanah yang tinggi dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan patogen sehingga tanaman tomat dapat mati keracunan karena kandungan oksigen dalam tanah berkurang. Pori-pori yang terisi oleh air mendesak oksigen keluar dari dalam tanah sehingga tanah menjadi anaerob yang menyebabkan proses oksidasi berubah menjadi proses reduksi. Keadaan tanah yang demikian menyebabkan kerontokan bunga dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan sehingga mengurangi pertumbuhan dan perkembangan generatif (buah).
Kekurangan air yang berkepanjangan pada pertanaman tomat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada stadia awal, mengakibatkan pecah-pecah pada buah apabila kekurangan air terjadi pada stadia pembentukan hasil dan dapat menyebabkan kerontokan bunga apabila kekurangan air terjadi selama periode pembungaan.
Pemasangan Ajir
Pemasangan ajir dimaksudkan untuk mencegah tanaman tomat roboh. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Ajir (lanjaran) terbuat dari bambu atau kayu dengan panjang antara 100-175 cm, tergantung dari varietasnya. Untuk penanaman dalam green house yang modern dapat menggunakan tali (warna putih) seperti yang terlihat dalam gambar sebelah.
2. Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin, ketika tanaman masih kecil akar masih pendek, sehingga akar tidak putus tertusuk ajir. Akar yang luka akan memudahkan tanaman terserang penyakit yang masuk lewat luka. Jarak ajir dengan batang tomat ± 10-20 cm.
3. Cara memasang ajir bermacam-macam, misalnya ajir dibuat tegak lurus atau ujung kedua ajir diikat sehingga membentuk segitiga. Agar tidak dimakan rayap, ajir diolesi dengan ter atau minyak tanah.
4. Tanaman tomat yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir. Pengikatan jangan terlalu erat yang penting tanaman tomat dapat berdiri. Pengikatan dilakukan dengan model angka 8 sehingga tidak terjadi gesekan antara batang tomat dengan ajir yang dapat menimbulkan luka. Tali pengikat, misalnya tali plastik harus dalam keadaan bersih. Setiap bertambah tinggi ± 20 cm, harus dilakukan pengikatan lagi agar batang tomat selalu berdiri tegak.
G. Hama dan Penyakit
Hama
1. Ulat buah tomat (Heliothis armigera Hubner)
Ciri: panjang ulat ± 4 cm dan akan makin panjang pada temperatur rendah. Warna ulat bervariasi dari hijau, hijau kekuning-kuningan, hijau kecoklat-coklatan, kecoklat-coklatan sampai hitam. Pada badan ulat bagian samping ada garis bergelombang memanjang, berwarna lebih muda. Pada tubuhnya kelihatan banyak kutil dan berbulu. Telur berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan mengkilap dan sesudah 2-4 hari berubah warna menjadi coklat. Panjang sayap ngengat bila dibentangkan ± 4 cm dan panjang badan antara 1,5-2,0 cm. Sayap bagian muka berwarna coklat dan sayap belakang berwarna putih dengan tepi coklat.
Gejala: ulat ini menyerang daun, bunga dan buah tomat. Ulat ini sering membuat lobang pada buah tomat secara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi pada umumnya terkena infeksi sehingga buah menjadi busuk lunak.
Pengendalian: (1) ngengat tertarik pada cahaya ultraviolet sehingga dengan sinar tersebut diadakan perangkap; (2) telur dan ulat adapat dikumpulkan dan dibakar atau dimatikan; (3) ditepi kebun ditanam jagung untuk mengurangi serangan pada tanaman tomat; (4) tanaman liar disekitar areal pertanaman tomat dibersihkan; (5) disemprot dengan insektisida misalnya Diazinon dan Cymbush. 

2. Kutu daun apish hijau
Kutu ini termasuk famili Aphididae dari ordo Hemiptera yang sering disebut aphis tomat, aphis tembakau atau aphis kentang. Kutu hijau ini menjadi vektor (penyalur) virus sehingga tomat dapat terserang penyakit virus. Ciri: kutu ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Panjang kutu yang bersayap antara 2-2,5 mm, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai hitam dan perutnya hijau kekuning-kuningan. Ukuran antena sepanjang badannya. Panjang kutu yang tidak bersayap antara 1,8-2,3 mm berwarna hijau kekuning-kuningan.
Gejala: daun tomat yang diserang bentuknya jelek, keriting, kerdil, melengkung ke bawah, menyempit seperti pita, klorosis, mosaik dan daun menjadi rapuh.
Pengendalian: (1) penggunaan mulsa kertas dapat mengusir kutu karena memantulkan sinar matahari; (2) tanaman liar maupun gulma di sekitar areal tanaman tomat harus dibersihakn krena dapat menjadi tempat berlindung kutu; (3) pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan cara dipijit sehingga kutu aphis tersebut mati; (4) pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida. Gambar sebelah atas tampak alat penangkap serangga berwarna kuning.
3. Lalat putih (kutu kabut, kutu kepul)
Kutu ini termasuk famili Aleyrodidae dari ordo Hemiptera. Kutu ini bila terganggu akan berhamburan seperti kabut atau kepul putih.
Ciri: Panjang kutu putih dewasa hanya ± 1 mm berwarna putih kekuning-kuningan, tertutup tepung seperti lilin putih, memiliki 2 pasang sayap berwarna putih dengan bentangan ± 2 mm, dan bermata merah. Lalat putih betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Telur berbentuk elips sepanjang antara 0,2-0,3 mm. Panjang pulpa ± 0,7 mm, berbentuk oval serta datar dan badannya seperti sisik pada daun.
Gejala: tanaman tomat yang terserang seperti diselimuti tepung putih yang bila dipegang akan berterbangan. Serangan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat/kerdil, daun mengecil, dan menggulung ke atas.
Pengendalian: (1) digunakan musuh alami hama, misalnya beberapa jenis tabuhan yang merupakan parasit lalat putih dan beberapa jenis lembing guna memakan telur lalat putih; (2) gulma di sekitar tanaman tomat harus dibersihkan supaya tidak menjadi inang lalat putih; (3) tanaman tomat terserang virus harus segera dicabut dan dibakar; (4) pertanaman tomat dapat diberi mulsa jerami atau mulsa plastik kuning; (5) disemprot dengan Diazinon, Malathion, Azinpos-methyl dan lain-lain. Gambar di sebelah atas tampak tergantung perangkap serangga berwarna hitam.
4. Kutu daun thrips
Kutu daun thrips termasuk famili Thripidae dari ordo Thysanoptera. Ciri: panjang thrips antara 1-1,2 mm, berwarna hitam, bergaris merah atau tidak bercak merah. Nimfa (thrips muda) berwarna putih atau putih kekuningan, tidak bersayap dan kadang-kadang berbercak merah. Thrips dewasa bersayap dan berambut berumbai-rumbai. Telur thrips berbentuk seperti ginjal atau oval.
Gejala: Thrips mengisap cairan pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara masuk ke dalamnya. Bila terjadi serangan hebat, daun menjadi kering dan mati. Tanaman muda yang terserang akan layu dan mati.
Pengendalian: (1) tanaman yang kekurangan air lebih banyak diserang thrips. Untuk itu, tanaman tomat harus disiram dengan air yang cukup; (2) gulma di areal tanaman tomat harus dibersihkan agar tidak menjadi tempat berlindung thrips; (3) disemprot dengan insektisida, misalnya Diazinon, Malathion dan Monocrotophos.
5. Lalat buah
Lalat ini termasuk famili Trypetidae (Tephritidae) dari ordo Diptera. Ciri: mempunyai sayap transparan sepanjang 5-7 mm, panjang badan 6-8 mm. Perut berwarna coklat muda dengan garis melintang berwarna coklat tua, dada berwarna coklat tua dengan bercak kuning atau putih. Belatung muda berwarna putih, tetapi bila dewasa berwarna kekuning-kuningan. Panjang belatung ± 1 cm. Belatung ini terletak di dalam daging buah. Telur lalat berukuran kecil-kecil, panjangnya ± 1,2 mm, kedua ujungnya runcing, dan berwarna putih.
Gejala: buah tomat menjadi busuk karena terserang cendawan atau bakteri. Bila buah dibuka akan kelihatan ada berenga berwarna putih. Berenga dewasa berwarna kekuning-kuningan dan bila disentuh akan melenting sejauh ± 30 cm untuk menyelamatkan diri.
Pengendalian: (1) pada waktu mencangkul, tanah harus dibalik dan dibiarkan beberapa hari sampai beberapa minggu agar terkena sinar matahari sehingga pupa lalat mati; (2) ditangkap dengan menggunakan umpan yang dapat memikat lalat jantan; (3) buah yang terserang segera dipetik dan dibakar; (4) gulma di daerah pertanaman tomat harus selalu dibersihkan.
6. Tungau bercak dua
Tungau ini termasuk famili Tetranychidae dari ordo Acarina, disebut tungau bercak dua karena pada punggungnya terdapat bercak yang letaknya sedikit ke samping dan berwarna hitam. Tungau ini memakan berbagai macam tanaman (kosmopolitan dan polyphag). Tungau ini terdapat dibalik permukaan daun dengan sarang labah-labahnya. Tungau ini dapat menularkan virus. Serangannya dapat terjadi pada musim kemarau. Ciri: bentuk luar tungau berbentuk lonjong, berkaki delapan, panjang antara 0,3-0,4 mm dan berwarna kuning pucat dengan bercak hitam pada kedua sisi samping punggung. Mulutnya dapat untuk menusuk dan mengisap cairan tanaman. Telurnya berukuran kecil-kecil bergaris tengah ± 0,15 mm.
Gejala: daun dan tunas menguning, selanjutnya menjadi coklat dan kering.
Pengendalian: (1) bila banyak hujan populasinya akan berkurang; (2) gulma di areal pertanaman tomat harus selalu dibersihkan; (3) menanam varietas tomat yang tahan tungau; (4) disemprot dengan Akarisida misalnya, Omite, Kelthane, Bubur Kalifornia atau dihembus dengan tepung belerang.
7. Tungau merah
Tungau ini termasuk famili Tetranychidae dari ordo Acarina., disebut tungau merah/hama merah karena daun tanaman yang diserangnya menjadi berwarna merah karat. Ciri: tungau berkaki 8 dan besarnya 0,3-0,5 mm. Tungau betina berwarna merah tua atau merah kecoklat-coklatan dengan beberapa bercak hitam. Kaki dan mulutnya kelihatan putih transparan. Kepala menjadi satu dengan dada. Mulutnya dapat untuk menusuk dan mengisap cairan dari sel tanaman. Selain itu mulut dapat juga menggigit dan menggergaji. Telurnya berukuran kecil, dengan diameter 0,15 mm, dan berwarna kuning pucat atau sedikit kemerahan.
Gejala: daun menjadi bercak-bercak merah karat. Serangan sering terjadi pada musim kemarau. Serangan yang hebat menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Dibalik daun tomat akan kelihatan anyaman benang halus yang merupakan sarang tungau. Selanjutnya, daun menjadi kering karena daun diisap cairannya.
Pengendalian: (1) gulma di areal pertanaman tomat harus dibersihakan agar tidak menjadi tempat berlindung tungau; (2) menanam varietas tomat yang tahan tungau merah; (3) alami, tungau akan dimangsa oleh predatornya, yaitu thrips predator dan kumbang macan; (4) populasi tungau akan berkurang bila banyak turun hujan; (5) disemprot dengan akarisida, misalnya Omite, Kelthan, atau dihembus dengan tepung belerang.
8. Nematoda bengkak akar
Ciri: bentuk nematoda bisul akar seperti cacing kecil sepanjang antara 200-1000 m. Untuk mengamati hama ini harus digunakan mikroskop. Pada mulutnya terdapat stylet yang berbentuk seperti jarum runcing, untuk menusuk dan menarik kembali cairan dalam mulut. Ukuran badan nematoda betina sedikit lebih gemuk.
Gejala: akar tanaman membengkak memanjang atau bulat, akibatnya tanaman (akar) akan mengalami kesulitan mengambil air dari tanah sehingga terjadi klorosis, yakni warna daun tidak normal, pertumbuhan terhambat, layu, buah kecil serta sedikit dan cepat menjadi tua. Serangan nematoda ini dapat mengurangi produksi sampai 50% atau lebih.
Pengendalian: (1) dilakukan rotasi tanaman dengan Tagetes patula atau Tagetes ercta yang menghasilkan tiophen guna mematikan nematoda; (2) tanah dicangkul dan dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar matahari; (3) tanah digenangi air yang cukup lama supaya nematoda mati; (4) menggunakan bahan kimia Nematisida, misalnya Furadan, Curater, Petrofur, Indofuran, dan Temik; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6) tanaman yang terserang harus segera dicabut dan dibakar; (7) gulma di areal tamanan tomat dibersihkan; (8) diberi pupuk organik (pupuk kandang atau kompos).
Penyakit tomat karena Cendawan
1. Penyakit layu fusarium
Infeksi terjadi lewat akar, kemudian menyerang jaringan pembuluh. Jaringan xylem yang terserang warnanya menjadi coklat dan serangan ini dengan cepat menuju ke atas. Aliran air ke daun akan terhambat sehingga daun akan layu dan menguning. Cendawa ini membentuk polipeptida (likomarasmin) yang menggangu permeabilitas membran plasma, sehingga perjalanan air dari bawah ke atas terhambat. Gejala: pada malam hari sampai pagi masih kelihatan segar, tetapi setelah ada sinar matahari dan terjadi penguapan, tanaman tersebut menjadi layu. Sore hari mungkin masih dapat segar lagi tetapi keesokan harinya mulai layu lagi. Akhirnya, tanaman layu akan mati. Pengendalian: (1) menanam varietas tomat yang resisten (tahan); (2) diberi mulsa plastik transparan untuk menaikkan suhu tanah agar penyakit fusarium mati; (3) menanam tanaman tomat di tanah yang bebas nematoda; (4) menggunakan alat yang bersih dari penyakit layu; (5) tanah yang telah ditanami tomat yang terserang penyakit layu tidak boleh ditanami tomat dalam waktu lama dan tidak boleh menanam tanman yang termasuk solanase; (6) tanaman yang layu harus segera dicabut dan dibakar; (7) tanaman tomat disambung dengan cepokak (Solanum torvum), atau terung engkol (Solanum macrocarpon). 

2. Bercak daun septoria
Penyebab: cendawan Septoria Lycopersici Speg. yang merusak daun dan menyerang tanaman tomat yang masih muda ataupun tua. Gejala: terlihat bercak bulat kecil berair pada kedua permukaan daun dibagian bawah. Bercak tersebut berwarna coklat muda, kemudian menjadi kelabu dengan tepi kehitaman. Garis tengah bercak ± 2 mm. Serangan yang hebat menyebabkan daun tomat menggulung, mengering dan rontok. Pengendalian : (1) gulma dan sisa tanaman tomat yang telah mati dibersihkan dan dibakar, jangan dipendam dalam tanah; (2) dilakukan rotasi tanaman, dengan menanam tanaman lain yang berbeda famili; (3) menanam tanaman tomat yang resisten; (4) disemprot dengan fungisida misalnya, zineb dan maneb.
3. Penyakit kapang daun
Penyebab: cendawan Fulvia fulva (Cke) Cif. atau yang menyebut Cladosporum fulvus Cke. Gejala: mula-mula terlihat pada permukaan daun sebelah atas terdapat bercak pucat (klorosis) Dibawah daerah klorosis, dibalik daun, terbentuk spora-spora yang mula-mula berwarna kelabu muda kemudian menjadi coklat atau hijau kekuning-kuningan. Penyakit ini mula-mula menyerang daun-daun bagian bawah, kemudian menjalar ke daun sebelah atas dan akhirnya seluruh tanaman terserang dan mati. Pengendalian: (1) menanam tanaman tomat yang resisten; (2) jangan menanam pada waktu musim hujan; (3) disemprot dengan fungisida , misalnya Mancozeb (Dithane M-45), Benemyl; (4) pengendalian secara biologis dapat menggunakan Penicillium brevicompactum, Trichoderma viride, Hansfordia pulvinata, dan Acremonium spp.; (5) melakukan rotasi tanaman.
4. Penyakit bercak coklat
Penyebab: Alternaria solani Sor. Gejala: daun tomat yang terserang tampak bulat coklat atau bersudut, dengan diameter 2-4 mm, dan berwarna coklat sampai hitam. Bercak itu menjadi jaringan nekrosis yang mempunyai garis-garis lingkaran sepusat. Jaringan nekrosis ini dikelilingi lingkaran yang berwarna kuning (sel klorosis). Bila serangan mengganas, bercak akan membesar dan kemudian bersatu sehingga daun menjadi kuning, layu dan mati. Bunga yang terinfeksi akan gugur. Buah muda atau masak yang terserang penyakit ini menjadi busuk, berwarna hitam, dan cekung, serta meluas ke seluruh buah. Penyakit ini biasanya dimulai dari pangkal buah (ujung tangkai) yang berwarna coklat tua dan cekung, bergaris tengah 5-20 mm dan tertutup massa spora hitam seperti beledu. Pengendalian: (1) menanam biji yang bebas penyakit atau biji terdesinfeksi; (2) tanaman yang sakit segera dicabut dan dibakar; (3) bekas tanaman tomat, terung, kentang, dan tanaman yang termasuk Solanase tidak boleh dipendam di areal pertanaman tomat, tapi harus dikumpulkan di tempat lain dan dibakar; (4) melakukan rotasi tanaman; (5) penyiraman harus menggunakan air bersih yang tidak tercemar penyakit; (6) drainase harus diatur dengan baik agar tanaman tidak tergenang air; (7) gulma di areal pertanaman harus selalu dibersihkan; (8) pembibitan dan penanaman jangan terlalu rapat; (9) disemprot dengan carbamat, zineb atau maneb.
5. Penyakit busuk daun
Penyebab: cendawan Phytophthora infestans (Mont.) de bary. Gejala: daun tomat yang terserang berbercak coklat sam,pai hitam. Mula-mula pada ujung atau sisi daun, hanya tampak beberapa milimeter, tetapi akhirnya meluas sampai ke seluruh daun dan tangkai daun. Penyakit ini mulai menyerang pangkal buah, yang menimbulkan bercak berair yang berwarna hijau kelabu sampai coklat. Pengendalian: (1) tanaman yang telah terserang segera dicabut dan dibakar; (2) tanaman yang sakit tidak boleh dipendam di areal pertanaman tomat; (3) menanam varoetas tomat yang resisten; (4) melakukan rotasi tanaman; (5) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar matahari; (6) disemprot dengan fungisida, misalnya Dithane M-45, Difolatan, zineb, propineb, atau maneb.

6. Penyakit busuk buah Rhizoctonia

Penyebab: cendawan Thanatephorus cucumeris (Frank) Donk. Gejala: muncul bercak cekung kecil berwarna coklat. Bercak ini membesar dan timbul lingkaran-lingkaran sepusat. Warna bercak menjadi coklat tua dan bagian tengahnya sering kali retak. Pengendalian: (1) air pengairan harus bersih dan bebas penyakit; (2) penanaman jangan terlalu dalam; (3) diberi lanjaran supaya buah tomat tidak menyentuh tanah; (4) diberi mulsa plastik transparan; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6) melakukan rotasi tanaman; (7) gulma dan sisa-sisa tanaman sakit harus dibersihkan dan dibakar; (8) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif chlorothalonil dengan interval 7-8 hari sekali untuk menanggulangi timbulnya penyakit busuk buah.
7. Busuk buah antraknosa
Penyebab: cendawan Colletotrichum coccodes (Wallr.) Hughes. Penyakit ini dapat menyerang buah, batang dan akar tanaman tomat. Gejala: buah tomat tampak ada bercak kecil berair, bulat dan cekung yang makin membesar, berwarna coklat, kelihatan ada lingkaran-lingkaran sepusat, dan kemudian menjadi hitam. Pada pangkal buah kelihatan ada bercak ungu yang terletak dekat tangkai. Bila serangan terjadi pada akar dan batang, warna jaringan cortex akan menjadi coklat dan daun menjadi layu. Pengendalian: (1) sisa tanaman sakit tidak boleh dipendam dalam tanah; (2) melakukan rotasi tanaman selama 1-2 tahun; (3) diberi mulsa dan lanjaran agar buah tidak menyentuh tanah; (4) menanam tanaman tomat yang resisten; (5) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif kaptafol.
Penyakit Tomat karena Bakteri
1. Penyakit layu (Lendir)
Penyebab: Pseudomonas solanacearum (E.F. Sm) E.F.Sm. Gejala: tanaman yang diserang penyakit ini lebih cepat layu. Tanaman yang telah terinfeksi, daunnya masih hijau tetapi kemudian tiba-tiba layu, terutama pucuk daun yang masih muda, dan daun bagian bawah menguning. Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil, daun menggulung ke bawah, dan kadang-kadang terbentuk akar adventif sepanjang batang tomat. Tanaman yang terserang biasanya akan roboh dan mati. Pengendalian: (1) melakukan rotasi tanaman dan tidak boleh menanam jenis-jenis tanaman yang termasuk famili Solanaceae; (2) gulma di areal pertanaman dibersihkan; (3) menanam varietas tomat yang resisten; (4) tanaman disambung dengan batang bawah cepokak; (5) tanaman disemprot dengan antibiotika; (6) tanaman yang sakit dicabut dan dibakar; (7) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa waktu agar cukup terkena sinar matahari.
2. Kerak bakteri, bercak bakteri
Gejala: adanya bercak berair kecil pada daun dan batang; bercak berair ini akan mengering, cekung dan berwarna coklat keabu-abuan garis tengah 1-5 mm; tanaman tomat yang terserang daun-daunnya mengeriting ke bawah dan mengering; batang yang terluka menyerupai kerak panjang dan berwarna keabu-abuan; daun yang terserang mengalami klorosis dan gugur; pada buah yang terserang mula-mula kelihatan bercak berair, kemudian berubah menjadi bercak bergabus. Pengendalian: (1)melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang berbeda famili; (2) menanam biji dari tanaman tomat yang sehat; (3) menanam tanaman tomat yang resisten; (4) tanaman yang sakit harus segera dicabut dan dibakar; (5) tanaman tomat yang mati tidak boleh dipendam dalam tanah; (6) menyiram tanaman dengan air yang bersih dan bebas penyakit.
Selain penyakit-penyakit diatas ada penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus seperti penyakit mosaik tomat, penyakit mosaik mentimun dan penyakit yang disebabkan oleh non-parasit (fisiologis) seperti penyakit busuk ujung buah, penyakit luka terbakar matahari, penyakit retak, penyakit kantong dan penyakit kelebihan dan kekurangan unsur hara. Penyakit yang menyerang tanaman tomat varietas Artaloka adalah penyakit busuk daun.
H. Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Pemetikan buah tomat dapat dilakukan pada tanaman yang telah berumur 60-100 hari setelah tanam tergantung pada varietasnya. Varietas tomat yang tergolong indeterminatre memiliki umur panen lebih panjang, yaitu berkisar antara 70-100 hari setelah tanam baru bisa dipetik buahnya. Penentuan waktu panen hanya berdasarkan umur panen tanaman sering kali kurang tepat karena banyak faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti: keadaan iklim setempat dan tanah. Kriteria masak petik yang optimal dapat dilihat dari warna kulit buah, ukuran buah, keadaan daun tanaman dan batang tanaman, yakni sebagai berikut :
a) kulit buah berubah, dari warna hijau menjadi kekuning-kekuningan.
b) bagian tepi daun tua telah mengering.
c) batang tanaman menguning/mengering.
Waktu pemetikan (pagi, siang, sore) juga berpengaruh pada kualitas yang dipanen. Saat pemetikan buah tomat yang baik adalah pada pagi atau sore hari dan keadaan cuaca cerah. Pemetikan yang dilakukan pada siang hari dari segi teknis kurang menguntungkan karena pada siang hari proses fotosintesis masih berlangsung sehingga mengurangi zat-zat gizi yang terkandung. Disamping itu, keadaan cuaca yang panas di siang hari dapat meningkatkan temperatur dalam buah tomat sehingga dapat mempercepat proses transpirasi (penguapan air) dalam buah. Keadaan ini dapat dapat menyebabkan daya simpan buah tomat menjadi lebih pendek.

2. Cara Panen
Cara memetik buah tomat cukup dilakukan dengan memuntir buah secara hati-hati hingga tangkai buah terputus. Pemutiran buah harus dilakukan satu per satu dan dipilih buah yang sudah matang. Selanjutnya, buah tomat yang sudah terpetik dapat langsung dimasukkan ke dalam keranjang untuk dikumpulkan di tempat penampungan. Tempat penampungan hasil panen tomat hendaknya dipersiapkan di tempat yang teduh atau dapat dibuatkan tenda di dalam kebun.

3. Periode Panen
Pemetikan buah tomat tidak dapat dilakukan sampai 10 kali pemetikan karena masaknya buah tomat tidak bersamaan waktunya. Pemetikan buah tomat dapat dilakukan setiap selang 2-3 hari sekali sampai seluruh tomat habis terpetik.