, ,

Jajar Legowo Super Tingkatkan Produksi Padi

JAJAR LEGOWO (JARWO) SUPER MENINGKATKAN PRODUKSI  TANAMAN PADI
Upaya peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya padi dengan perluasan areal tanam ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Strategi peningkatan produksi dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi) serta upaya-upaya peningkatan luas tanam, baik melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP) maupun perluasan lahan baku sawah.
Upaya-upaya tersebut masih memungkinkan dengan tersedianya berbagai inovasi dan teknologi hasil-hasil penelitian Balitbangtan yang belum secara optimal diimplementasikan di tingkat petani.
Karena itu harus ada terobosan agar terjadi lompatan produksi. Salah satunya dengan peningkatan produktifitas melalui teknologi Jajar Legowo Super.
Selengkapnya…..
Click here for Jarwo Super
Read more

Teknik Budidaya Ubi Jalar

Syarat tumbuh ubi jalar
Ketinggian 500-1000 m dpl, Suhu optimal 250C-270C, Curah hujan 750-1500 mm/tahun, pH tanah 5,5-7,5
Jenis tanah pasir berlempung, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik

PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL
Daya, Borobudur, Prambanan, Muara Takus, Mendut, Kalasan, Cangkuang, Sewu, Cilembu, Sari, Boko, Sukuh, Jago, Kidal, Shiroyutake, Papua Solossa, Papua Pattipi, Nagara KB-1, Sawentar, Beta 1, Beta 2, Kuningan Putih dan Kuningan Merah

BIBIT/STEK

  • Kebutuhan bibit
  • jarak tanam 100 x 25 cm adalah ± 32.000 stek/ha
  • jarak tanam 75 x 30 cm adalah ± 35.555 stek/ha
  • Bibit dari stek Batang/Pucuk
  • diambil dari varietas/klon unggul
  • tanaman telah berumur 2 bulan atau lebih, keadaan pertumbuhannya sehat dan normal
  • panjang stek 20-25 cm, ruas dan buku-bukunya tidak berakar dan mengalami masa penyimpanan ditempat teduh selama 1-7 hari
  • Bibit dari tunas-tunas ubi
  • ubi dipetik yang cukup tua, sehat dan berukuran 3 telur ayam
  • ubi ditanam pada lahan khusus penunasan dengan jarak 70×30 cm
  • setelah bertunas dan berumur ³ 2 bulan dilakukan pemotongan tanaman (bibit) sama   seperti pada stek batang/pucuk

PENYIAPAN LAHAN
Lahan tegalan

Lahan dibersihkan dari gulma, lalu tanah digemburkan dengan cangkul atau  bajak sambil membenamkan rumput-rumput liar kemudian dikering anginkan selama 1 minggu. Buat guludan-guludan dengan lebar 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan.

Lahan Sawah bekas Tanaman Padi
Babat jerami sebatas permukaan tanah, kemudian tanah diolah dengan cangkul atau bajak diluar bidang tumpukan jerami kemudian tanah ditimbun pada tumpukan jerami sambil membentuk guludan-guludan dengan ukuran lebar 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan.

PENANAMAN DAN JARAK TANAM

  • Di lahan kering dilakukan pada awal musim hujan (Oktober)
  • Di lahan sawah ditanam setelah padi rendengan (padi gadu), pada awal musim kemarau
  • Sistem tanam secara tunggal (monokultur) dan atau tumpang sari
  • Untuk mendapat ubi besar, stek ditanam miring (60-70 derajat) dengan dua ruas ditanam diguludan, sedangkan untuk mendapatkan ubi kecil, posisi stek dalam tanah ditanam rata, dengan 3-4 ruas stek tanaman didalam guludan dan ujung stek miring ± 600 (bentuk L). Jumlah bibit satu stek per lubang. Sebaiknya penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari. Jarak tanam dalam barisan 25-35 cm sedangkan jarak barisan 100-150 cm

PEMBERIAN MULSA
Setelah bibit ditanam, tanah ditutupi dengan mulsa jerami 20 t/ha khususnya di lahan sawah, sedangkan di lahan kering bila jerami tidak ada, dapat ditutup dengan pangkasan pupuk hijau.

PEMUPUKAN
Pupuk Organik
dosis = 15-22 t/ha
pemberian dilakukan pada saat pengolahan tanah (dicampur dengan tanah) atau sekaligus sebagai mulsa
Pupuk Anorganik
dosis : Urea = 100 kg/ha; KCl = 100 kg/ha; SP-36 = 75-100 kg/ha (atau sesuai rekomendasi setempat)
pemberian :  1) 1/3 dosis Urea dan semua SP-36 pada saat pertanaman bibit serta 1/3 dosis KCl
2) pemberian kedua pada saat tanaman berumur 30-45 hari setelah tanam bersamaan dengan pengembalian tanah keprasan kedua sisi guludan.
cara pemberian : buat larikan/lubang tugal 7-10 cm dari kiri kanan lubang tanam, lalu masukan pupuk.

PENYULAMAN
Untuk mengganti tanaman yang mati dilakukan pada umur 3 minggu setelah tanam. Sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari.

PEMANGKASAN
Dilakukan bila tanaman terlalu rimbun, dilakukan pada sulur-sulur tanaman yang merayap dalam saluran-saluran di sela-sela bedengan.

PENGAIRAN
Dilakukan tiap 10 hari selama pertumbuhan sampai 2 minggu sebelum panen dengan cara dileb selama 15-30 menit kemudian air disalurkan ke saluran pembuangan. Sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari.

PENGENDALIAN GULMA
Yang pertama dilakukan 3 minggu setelah tanam vertikal kedua sisi guludan (dikepras), kemudian tanah keprasan dikembalikan sekaligus untuk menutup pupuk.
Yang kedua dilakukan pada 8 minggu setelah tanam sekaligus melakukan pembumbungan dan pemutusan akar yang tumbuh dipermukaan guludan.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT
Hama dan penyakit utama yang menyerang ubijalar adalah hama Penggerak Ubijalar; hama Boleng atau Lanas; Tikus; Penyakit Kudis atau Scab; Layu Fusarium; virus; dan penyakit lainnya. Pengendalian tanaman dari OPT dilakukan secara terpadu, sebagai berikut :
Secara kultur teknis, diantaranya mengatur waktu tanam, rotasi tanaman, sanitasi lahan, dan penggunaan varietas yang tahan hama dan penyakit.
Secara fisik dan mekanis, yaitu dengan memotong atau memangkas atau mencabut tanaman yang sakit atau terserang hama dan penyakit cukup berat, kumpulkan dan musnahkan.
Secara kimiawi yaitu dengan menggunakan pestisida secara selektif dan bijaksana.

PANEN
Waktu panen ubijalar didasarkan atas umur tanaman, jenis atau varietas
Ubijalar berumur pendek (genjah) dapat dipanen pada umur 3–3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang (dalam) dipanen pada umur 4,5–5 bulan
Panen dilakukan dengan cara memangkas batang ubijalar, kemudian menggali guludan dengan cangkul/sekop/luku lalu umbinya diambil dan dikumpulkan ditempat pengumpulan
Diseleksi dan disortasi berdasarkan ukuran umbi dan warna kulit dan disimpan dalam wadah atau goni

PASCA PANEN
Selain dikonsumsi langsung, ubijalar dapat diolah menjadi produk dalam bentuk pati maupun tepung. Pati dibuat dengan mengekstrak umbi yang telah diparut. Sedangkan tepung diperoleh dengan mencuci umbi, mengupas, mengiris, menjemur, dan menghancurkan (menepungkan), diayak pada ukuran 80 mesh. Pati dan tepung ubijalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie dan es krim.
Bila hendak disimpan, baiknya diruang bersuhu kamar antara 270C-300C dengan kelembaban udara antara 85%-90%. Disimpan diruang gelap dengan mengikutsertakan tangkai ubi yang agak panjang, atau disimpan didalam pasir dan abu dengan mengangin-anginkan.
Disimpan diruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk dan peredaran udaranya baik dengan cara menumpahkan ubi dilantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu tertutup. Atau disimpan diatas para-para yang ditempatkan didapur yang biasanya terkena asap setiap hari yang berasal dari tungku hal ini dapat menghindarkan dari serangan hama terutama boleng.

Sumber : ePetani

Budidaya Padi

small_36padi-tua

Di Kabupaten Grobogan  tanaman padi ditanam di sawah baik pengairan teknis maupun tadah hujan yaitu pada awal musim hujan atau MT I (bulan Oktober-November) dan MT II pada bulan Februari-Maret yang meliputi hampir seluruh 19 Kecamatan di Kabupaten Grobogan. Varietas ciherang masih menjadi primadona dikalangan petani Grobogan Karena sifat-sifat : (1) Memiliki potensi hasil yang tinggi (2) Relatih lebih tahan hama penyakit  (3) Lebih disukai oleh pasar (pedagang). Varietas lain Inpari 13, memiliki keunggulan berumur lebih pendek (genjah), lebih tahan serangan hama wereng, dan sebenarnya potensi hasilnya tidak kalah jia dibandingkan dengan ciherang, Untuk menghasilkan hasil maksimal perlu memperhatikan beberapa hal yaitu :

PILIH BENIH VARIETAS UNGGUL :  

Benih yang digunakan adalah benih bermutu dan bersertifikat. Untuk menjamin kualitas benih sebelum disemai dilakukan perlakuan benih (seed treatment). Perlakuan benih bertujuan untuk menyeleksi benih sehingga didapatkan benih yang akan disemai benar-benar berkualitas, memiliki daya tumbuh yang baik, sehat serta bebas hama penyakit bawaan. Proses seleksi benih secara tradisonal dengan ‘merimbang’ dengan  larutan garam dan telur. Benih yang dipakai  yang tenggelam sedangkan yang mengapung untuk pakan  ternak. Teknik ini sudah cukup dikenal dan diterapkan oleh para petani Grobogan

PENYIAPAN LAHAN

Padi ditanam di lahan sawah pada MT I dan atau  MT II. Pengolahan tanah disesuaikan dengan kondisi tanah dan ketersediaan air. Pengolahan tanah bertujuan untuk :

  1. Meratakan tanah untuk digenangi;
  2. Menekan pertumbuhan gulma yang dapat menggangu pertumbuhan tanaman padi
  3. Membenamkan dan menghancurkan jerami, gulma, dan bahan organik lain
  4. Pengolahan tanah telah menggunakan traktor dilakukan dengan 1 kali pembajakan dan satu kali perataan.

PERSEMAIAN

Sejak dari persemaian harus dipayakan tanaman  dalam keadaan sehat bebas hama penyakit. Persemaian sebaiknya tidak terlalu rapat, dengan luasan 5% dari luasan lahan benih yang digunakan 25 kg/Ha. Pindah tanam dari persemaian ke lahan sebaiknya dilakukan pada saat tanaman masih muda kurang dari 20 hari, ini penting supaya tanaman lebih cepat beradaptasi, pertumbuhan akar dan tunas dapat optimal sehingga tanaman lebih sehat

PENANAMAN 

Pindah tanam harus hati-hati jangan sampai terjadi kerusakan akar supaya pertumbuhan selanjutnya lebih optimal dan sehat. Sebaiknya pindah tanam dilakukan langsung hindari   penyimpanan serta perlakuan yang dapat menyebabkan kerusakan luka atau memar pada bibit.

Sistem Tanam Jajar Legowo

Sistem tanam jajar legowo pada arah barisan tanaman terluar memberikan ruang tumbuh yang lebih longgar sekaligus populasi yang lebih tinggi. Dengan sistem tanam ini, mampu memberikan sirkulasi udara dan pemanfaatan sinar matahari lebih optimal untuk pertanaman. Selain itu, upaya penanggulangan gulma dan pemupukan dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Penerapan sistem tanam legowo sistem tanam legowo 2:1 dan 4:1 menggunakan jarak tanam (25×25) cm antar rumpun dalam baris; 12,5 cm jarak dalam baris; dan 50 cm sebagai jarak antar barisan/ lorong atau ditulis (25×12,5×50) cm. Jarak tanam sebaiknya tidak telalu rapat, misalnya  karena akan menyebabkan jarak dalam baris sangat sempit, karena akan berakibat pertumbuhan tanaman kurang optimal akibat tingginya persaingan akar dalam memperoleh unsur hara, kurangnya sinar matahari untuk proses fotosintesapada daun.

Keuntungan Sistem tanam Jajar Legowo sebagai berikut :

  1. Terdapat ruang terbuka yang lebih lebar diantara dua kelompok barisan tanaman yang akan memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun tanaman padi, sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman.
  2. Sistem tanaman berbaris ini memberi kemudahan petani dalam pengelolaan usahataninya seperti: pemupukan susulan, penyiangan, pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit (penyemprotan). Disamping itu juga lebih mudah dalam mengendalikan hama tikus.
  3. Meningkatkan jumlah tanaman pada kedua bagian pinggir untuk setiap set legowo, sehingga berpeluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman akibat peningkatan populasi.
  4. Sistem tanaman berbaris ini juga berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau parlebek (kombinasi padi, ikan, dan bebek).

 PENYIANGAN

Penyiangan tanaman dilakukan bertujuan untuk menjaga ketersediaan oksigen di dalam tanah, membantu tanah tetap gembur dan mengembalikan fungsi gulma agar lebih cepat terdekomposisi sebagai nutrisi bagi tanaman padi.

 PEMUPUKAN

Supaya tanaman padi tumbuh sehat dan memberikan hasil yang optimal seluruh unsur makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman padi harus tercukupi sehingga pemupukan harus dilakukan secara berimbang. Pemupukan yang dilakukan sesuai kebutuhan jangan kurang atau berlebihan karena akan berakibat kurang baik pada tanaman.

Salah satu acuan pemupukan dapat menggunakan Permentan No. 04/OT.140/4/2007 untuk Kab. Grobogan
padi
Waktu pemupukan yang tepat juga harus diperhatikan :
padi2
Untuk pemupukan ke II dan ke III bisa menggunakan acuan Bagan Warna Daun sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
PENGENDALIAN HAMA TERPADU

  1. Identifikasi jenis dan populasi hama penyakit
  2. Memperkirakan tingkat kerusakan/serangannya
  3. Menguasai teknik-teknik pengendaliannya

Apabila populasi hama atau intensitas kerusakan akibat hama atau penyakit dianggap merugikan maka dipergunakan pestisida dari bahan organicyang disesuaikan dengan jenis hama atau jenis penyakit.

Budidaya Jagung

small_97jagungTanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. Tanaman jagung yang diusahakan petani biasanya ditanam pada awal musim penghujan (labuhan), marengan dan musim kemarau.

Jenis tanaman jagung yang ditanam oleh petani jagung di Kabupaten Grobogan sebagian besar (98%) menanam jenis jagung hibrida dengan alasan kualitas benih bagus, produktivitas jagung hibrida tinggi dan benih mudah didapat.

Teknik penanaman jagung varietas ini pada dasarnya sama dengan teknik penanaman jagung secara Umumnya. Teknik budidaya tanaman jagung hibrida yang dilakukan petani di Kabupaten Grobogan adalah sebagai berikut :

PENGOLAHAN LAHAN

  1. Pengolahan tanah dilakukan secara minimum tallage.
  2. Membersihkan dari sisa-sisa tanaman dan tumbuhan pengganggu atau dengan herbisida.
  3. Buat parit/saluran drainase dengan kedalaman 10-15 cm. Jika penanaman dilakukan pada musim penghujan perlu dibuat parit/saluran drainase sedalam 20-30 cm dengan lebar 25-30 cm.
  4. Buat bedengan dengan lebar 2 – 3 m

TANAM

Benih jagung hibrida yang dipasar biasanya sudah ditambahkan perlakuan seed treatmen, namun petani di kabupaten Grobogan tetap menambahkan fungisida untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh jamur/fungi atau penyakit bulai.

1. Membuat lubang tanam dengan jarak tanam :

    20 cm x 70 cm (1 tanaman/lubang)

    40 cm x 70 cm (2 tanaman/lubang)

2. Buat lubang tanam dengan menggunakan taju dengan dengan kedalaman ± 5 cm.

3. Masukkan benih yang telah ditreatment kedalam lubang tanam dan tutup dengan tanah atau pupuk kandang. Biasanya petani lebih memilih menutup dengan pupuk organik/kandang. Selain mempermudah ditembus kecambah tanaman jagung yang baru tumbuh juga bermanfaat sebagai pupuk.

4.  Satu minggu setelah tanam dilakukan penyulaman.

PEMUPUKAN BERIMBANG

 Takaran pupuk berimbang yang dianjurkan (per Ha lahan):

 Ekosistem

Ponska Urea

Organik

 Lahan Sawah
Lahan Kering
   300 Kg
300 Kg
   250-350 Kg
150-225 Kg
   ≥ 2.000 Kg
≥ 3.000 Kg

Prinsip Aplikasi :

  • NPK diaplikasikan 2 kali
  • Urea diaplikasikan 3 kali  atau dengan menggunakan BWD (Bagan Warna Daun)

Pemberian pupuk diberikan dengan cara dibenamkan kedalam tanah dengan jarak 5-10 cm dari tanaman. Pemupukan seperti ini biasanya dilakukan pada musim penghujan. Jika penanaman jagung dilakukan pada musim kemarau, pemupukan dilakukan dengan cara kocor.

PENYIANGAN

Penyiangan dilakukan dengan cara manual (cangkul) atau menggunakan herbisida.

Penyiangan pertama dilakukan pada umur tanaman 15 HST dan penyiangan kedua dilakukan pada umur tanaman 20-30 HST, sebelum pemupukan kedua (penyiangan dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma).

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Pengendalian penyakit bulai dilakukan pada benih sebelum tanam (dengan fungisida).

Hama penting adalah lalat bibit, penggerek tongkol, penggerek batang dan ulat grayak. Pengendalian dengan menggunakan insektisida yang sesuai dengan kebutuhan.

PANEN

Panen dilakukan apabila tanaman jagung memperlihatkan tanda-tanda :

  1. Kelobot sudah kering
  2. Umur panen sudah sampai (sesuai deskripsi)
  3. Apabila sudah terbentuk lapisan hitam pada dasar biji.

Persiapan penen dilakukan dengan cara memotong batang diatas tongkol (setelah klobot mulai mengering, umur 90-100 HST atau bila sudah terbentuk black layer/lapisan hitam pada biji) dengan tujuan agar tongkol jagung cepat kering, menekan tumbuhnya cendawa, serta memperbaiki kualitas panen

PASCA PANEN

Penanganan pasca panen jagung meliputi serangkaian kegiatan pengupasan, pengeringan, pemipilan, penyortiran dan penggolongan.

Pengupasan

Pengupasan bertujuan agar kadar air tongkol jagung menurun sehingga terhindar dari pertumbuhan jamur pada tongkol dan biji jagung yang baru dipanen. Selain itu, pengupasan juga dapat mempercepat proses pengeringan.

Pengeringan Tongkol Jagung

Tujuan utama pengeringan adalah untuk mencegah kerusakan. Beberapa keuntungan melakukan pengeringan adalah meningkatkan daya simpan, menambah nilai ekonomis, memudahkan pengolahan lebih lanjut, serta memudahkan dan mengurangi biaya transportasi.

Pemipilan dan penjemuran hasil panen

Pemipilan merupakan kegiatan melepaskan biji dari tongkol, memisahkan tongkol, dan memisahkan kotoran dari jagung pipilan. Biasanya menggunakan power threseer multiguna Tujuannya adalah untuk menghindarkan kerusakan, menekan kehilangan, memudahkan pengangkutan, dan memudahkan pengolahan selanjutnya. Oleh karenanya, sebaiknya pemipilan dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat kadar air jagung berkisar 17-20%. Penjemuran dalam  bentuk pipilan memakan waktu 2-4 hari pada musim hujan dan 1-2 hari pada musim kemarau

Jagung merupakan produk unggulan Kabupaten Grobogan. Pengembangan agribisnis komoditas jagung merupakan gambaran yang dilakukan petani di Kabupaten Grobogan. Sehingga profil ini dapat dijadikan pedoman teknis bagi para petugas di lapangan dalam mendampingi dan memberdayakan petani sehingga dapat tercapai tujuan pemberdayaan yaitu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani.

Budidaya Kedelai Varietas Grobogan

small_53kedelai
Dilahan sawah tadah hujan  kedelai biasa ditanam awal musim hujan, jika terdapat sumber air ditanam awal musim kemarau, untuk lahan kering/ tegal ditanam saat musim penghujan sampai marengan, sedangkan dilahan irigasi teknis kedelai diusahakan setelah musim tanam padi ke 2 atau saat musim kemarau
1. Penyiapan Lahan

  • Dilahan sawah tadah hujan kedelai ditanam bekas lahan ditanami jagung saat musim kemarau, bedengan yang sudah ada dibersihkan atau dilakukan penyemprotan dengan herbisida, jika ditanam setelah tanaman padi, jerami perlu dipotong pendek dan dibuatkan saluran drainase dengan kedalaman 25-30 cm dan lebar 20 cm setiap 1,5-2 m saluran ini berfungsi mengurangi kelebihan air bila terlalu becek.
  • Dilahan kering/tegal kedelai ditanam setelah tanam jagung, maka untuk menanam kedelai dilakukan tanpa olah tanah atau cukup dibersihkan atau di semprot dengan herbisida.
  • Sedangkan untuk kedelai dilahan irigasi teknis yang ditanam setelah tanaman padi, juga tidak perlu diolah (tanpa olah tanah) cukup dibuat saluran drainase seperti pada lahan tadah hujan yang ditanami kedelai setelah padi.
  •  Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium, apabila tidak tersedia inokulan rhizobium, dapat juga digunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman.

2. Penanaman
Benih kedelai ditanam dengan tugal, kedalaman 2-3 cm.
•   Jarak tanam 40 x 10-15 cm, 35 x 15 cm dan 20 x 20 cm, 1 – 2 biji/lubang.
•   Untuk menghindari kekurangan air, sebaiknya kedelai ditanam tidak lebih dari 7 hari setelah tanaman padi dipanen.
3. Pemupukan

  • Dosis pemupukan Urea 0-50 kg/ha, NPK 100 kg/ha, pupuk tersebut dicampur rata dan diaplikasikan saat tanaman umur 15 hari dengan disebar disamping barisan tanaman dengan jarak 5-7 cm dari tanaman.
  • Setelah pupuk diaplikasikan , diupayakan pupuk dapat ditutup dengan tanah.

4. Pengairan

  • Umumnya kedelai tidak perlu pengairan, tetapi tanaman kedelai sangat peka terhadap kekurangan air pada awal pertumbuhan umur 15-21 hari, saat berbunga umur 25-35 hari dan saat pengisian polong umur 55-70 hari.
  • Bila tanahnya becek perlu dibuat saluran drainase.

5. Penyiangan

  • Untuk menekan biaya penyiangan, sebelum tanam perlu dilakukan penyemprotan herbisida, umumnya penyiangan dilakukain dua kali, penyiangan dilakukan dengan tenaga manusia saat tanaman umur 20 hari dan 40-45 hari.

6. Pengendalian Hama

  • Hama utama tanaman kedelai meliputi lalat bibit (Ophiomya phaseoli), ulat pemakan daun seperti ulat grayak (Spodopteralitura), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites), ulat Heliotis sp, ulat penggulung daun (lamprosema indicata), pengisap polong (Etiella zinckenella), kutu kebul (Bemisi sp.) dan kutu daun (Aphis glycines).
  • Pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan musuh alami hama/penyakit seperti Trichogramma untuk penggerek polong Etiella spp, dan Helicoverpa armigera; Nuclear Polyhidrosis Virus untuk ulat grayak Sodoptera litura serta penggunaan feromon seks unutk ulat grayak.
  • Penggunaan pestisida dilakukan berdasarkan hasil enpemantauan, hanya digunakan bila populasi hama telah melebih ambang kendali. Pesisida dipilih sesuai dengan hama sasaran.

7. Pengendalian Penyakit

  • Penyakit utama kedelai adalah karat daun Phakopora pachyrhizi,busuk batang dan akar Schlerotium rolfsii dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus.
  • Penyakit karat dun dikendalikan dengan fungisida yang mengandung bahan aktif mancozeb.
  • Penyakit busuk batang dan akar dikendalikan menggunakan jamurantagonis Thrichoderma harzianum.
  • Untuk penyakit virus, dilakukan dengan mengendalikan vektornya (yaitu kutu) dengan insektisida deltametrin (seperti Decis 2.5 EC) dosis 1 ml/l air, dan nitroguanidin/ imidakloprit (seperti Confidor) dosis 1 ml/l air.
  • Waktu pengendalian disesuaikan dengan kondisi di pertanaman, umumnya pada umur 45-50 hari

Cara Budidaya Tananman Kacang Hijau

small_41kacanghijau2
1. Memilih Benih Varietas Unggul 
Pilih varietas yang paling sesuai dengan agroekosistem setempat, mempunyai potensi hasil tinggi, seragam, sehat, jelas asal usulnya dan disesuaikan permintaan penggunaan seperti masak serentak, warna biji mengkilap-kusam, ukuran biji kecil-sedang-besar, umur genjah (< 60 hari)  -sedang (60-70 hari), serta toleran penyakit. Varietas unggul kacanghijau dapat dilihat pada tabel berikut  :
benih-unggul-kacanghijau
 Ciri benih bermutu:
tingkat kemurnian dan daya tumbuh tinggi dan berlabel
Benih bermutu menghasilkan tanaman sehat, pertumbuhan lebih cepat dan seragam
2. Persiapan Lahan

  • Pengolahan tanah tidak diperlukan jika kacang hijau ditanam di lahan sawah bekas tanaman padi, jerami dapat dipakai sebagai mulsa
  • Mulsa berguna untuk melembabkan tanah, mengurangi serangan lalat kacang, dan menekan pertumbuhan gulma
  • Pengolahan tanah di lahan kering perlu optimal
  • Sisa gulma atau tanaman dibersihkan bersamaan dengan pengolahan tanah

3. Pembuatan Saluran Drainase

  • Saluran drainase digunakan untuk menjaga kelembaban tanah.
  • Jarak antar-saluran ditentukan oleh jenis tanah, umumnya 3-4 m dengan lebar dan kedalaman sekitar 30 cm
  • Pada lahan kering, saluran drainase berfungsi sebagai pematus air pada saat hujan

4. Persiapan Tanam

  • Lahan sawah bekas tanaman padi : tidak perlu pengolahan tanah secara intensif cukup dibersihkan kemudian dibuat parit / saluran 3-4 m
  • Lahan kering : perlu pengolahan tanah sehingga  struktur tanah gembur, kemudian diratakan
  • Bersihkan lahan dari gulma maupun kotoran/bekas tanaman.
  • Buat saluran secukupnya sehingga memudahkan pengaturan air. Saluran dibuat setiap  3-4 m, kedalaman 25-30 cm, dan lebar 20-25 cm

5. Penanaman

  • Kebutuhan benih kacang hijau 20-10 kg/ha, bergantung ukuran biji
  • Tanam dengan cara ditugal, jarak tanam 40 cm antar-baris, 10-15 cm dalam barisan,   2-3 biji  per lubang
  • Pada musim hujan jarak tanam lebar 40 X 15 cm (populasi sedang),
  • pada musim kemarau jarak tanam lebih rapat 40 X 10 cm (populasi rapat)
  • Kacang hijau di Kab.Grobogan ditanam monocultur atau tumpang sari dengan tanaman jagung

6. Pemupukan
Acuan pemupukan tanaman kacang hijau pada tipe penggunaan lahan sawah dengan pola tanam padi-padi-kacang hijau Sebagai berikut :
pupuk-kacanghijau

  • Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman
  • Pupuk dasar diberikan secara sebar merata atau ditugal dimasukkan ke dalam   kemudian ditutup dengan tanah tipis sebelum tanam pada saat tanah masih lembab, untuk lahan kering/tegal
  • Kacang hijau yang ditanam setelah padi sawah biasanya tidak banyak memerlukan pupuk buatan
  • Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N (Rhizobium) disesuaikan kebutuhan
  • PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering)  dapat digunakan sbg salah satu acuan menetapkan takaran pupuk

*  Pemberian pupuk organik

  • Pupuk organik terdiri atas bahan organik sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus), yang telah mengalami proses pelapukan, berbentuk padat atau cair, abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan  sebagai penutup lubang tanam.  Lahan kering masam perlu menggunakan kapur pertanian (dolomit atau kalsit)

 7. Pengairan

  • Bila tersedia fasilitas pengairan, dapat dilakukan pengairan 3-4 hari sebelum tanam dan pada periode kritis kacang hijau terhadap ketersediaan air yaitu saat menjelang berbunga (umur 25 hari) dan pengisian polong (45–50 hari). Pengairan diberikan melalui saluran antarbedengan.
  • Pada daerah panas dan kering (suhu udara 30–310 C dan kelembaban udara 54–62%) pertanaman perlu diairi dua kali pada umur 21 hari dan 38 hari. Sedangkan untuk daerah yang tidak terlalu panas dan kering, pengairan cukup diberikan satu kali pada umur 21 hari atau 38 hari.
  • Bila ditanam segera setelah padi sawah yang tanahnya Vertisol  (lempung), pengairan tidak perlu diberikan, karena walaupun lapisan atas tanah ini sangat keras dan retak-retak (“nelo” bhs Jawa), namun di bagian bawahnya masih menyimpan air yang cukup bagi pertanaman kacang hijau sampai panen.

8. Pengendalian OPT

  • Lalat kacang : Dampak pada tanaman, terdapat bercak-bercak pada daun pertama, polong yang diserang gugur, daun mulailayu dan kekuning-kuningan, tanaman akan mati saat berumur 3-4 minggu.

Pengendaliannya, tanam serempak, tanam gilir, benih masukan kedalam lubang dengan insektisida butiran seperti furadan 3G, dan penyemprotan dengan insektisida mulai umur tiga hari

  •  Ulat Jengkal : Dampak pada tanaman, menyerang tanaman yang sudah tua, dan menyerang daun hingga tulang daun.

Pengendaliannya, musnahkan telur dan larvanya,tanam gilir, tanam serempak, dan penyemprotan pestisida.

  • Penggerek Polong:  Dampak pada tanaman, membuat lubang pada polong, memakan biji, gejala bercak hitam, adanya lubang bulat pada polong, dan biji pada polong habis dimakan.

Pengendaliannya, tanam serempak, tanam gilir, pengaturan waktu yang tepat, menghentikan
penanaman selama 2 tahun jika hama banyak, dan penyemprotan dengan pestisida.

  • Ulat penggulung daun : Dampak pada tanaman, daun menggulung ke dalam/keriting karenasel-sel bagian atasnya mengerut dan menurunkan hasil, karena proses fotosintesis terganggu.

Pengendaliannya,  membuang daun yang menggulung, mematikan ulatnya, dan menyemprot pada saat
berumur 3 minggu dengan  Fungisida, dan setiap 10 hari pada umur 30-50 disemprot dengan ½ gram per liter air.
Jenis-jenis Penyakit

  • Penyakit utama adalah bercak daun Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung Erysiphe polygoni, karat daun dan penyakit puru Elsinoe glycines.
  • Bercak daun, pengendaliannya memotong daun dan lakukan penyemprotan dengan fungisida pada usia 30 dan 40 hari.
  • Karat daun, pengendaliannya menaman varietas tahan penyakit, dan lakukan penyemprotan dengan fungisida setiap 10 hari mulai 25 hari sampai 45 hari.
  • Kudis, pengendaliannya penanamn varietas tahan penyakit, tanaman dicabut dan dibakar, dan penyemprotan pestisida secara teratur  pada umur 20 hari, 30 hari, dan 50 hari.
  • Embun tepung, pengendaliannya dengan menanam varietas yang tahan penyakit, dan menyemprotkan fungisida saat tanaman usia 3 minggu.
  • Mozaik kacang hijau, penanggulangannya dengan menanam varietas tahan penyakit, tanam gilir, mencabut dan membakar tanaman yang terserang, dan memberantas vector dengan insektisida.

Prinsip pengendalian Hama secara terpadu pada kacang hijau :

  • Identifikasi jenis dan penghitungan kepadatan populasi hama
  • Menentukan tingkat kerusakan tanaman
  • Taktik dan teknik pengendalian
    • Mengusahakan tanaman selalu sehat
    • Pengendalian hayati
    • Penggunaan varietas tahan
    • Secara fisik dan mekanis
    • Penggunaan feromon sex
  • Penggunaan pestisida kimia

9. Panen dan Pascapanen

  • Umur kacang hijau umunya 58-85 hari, pemungutan panen dapat dilakukan ketika sebagian besar polong telah kering, berwarna hitam atau coklat dan mudah pecah, panen dilakukan dengan dipetik dan dilakukan pada pagi hari.
  • Polong yang sudah dipetik kemudian dijemur 2-3 hari setelah kuning masukan kedalam karung dan dipukul-pukul agar biji terlepas dari polong, dan setelah itu lakukan penapian untuk memisahkan biji-biji yang rusak.
  • Biji yang sudah bersih kemudian dijemur sampai kering simpan yaitu kadar air mencapai 8–10%. Berilah abu dapur agar tidak diserang hama bubuk kemudian disimpan dalam wadah kering tertutup.

10. Analisa Usaha Tani
aut-kacanghijau
aut1-kacangijo2