Budidaya Tanaman Tebu Giling

  1. PEMAHAMAN KARAKTERISTIK DASAR TANAMAN :
  1. Tumbuh sesuai kondisi lingkungan Tumbuh optimal pada wilayah yang memiliki perbedaan musim yang tegas (musim kemarau & penghujan) à daerah tropis
  2. Tanaman berperan sebagai prosesor yang sangat tergantung lingkungan (KETIDAKPASTIAN TINGGI)
  3. Tanaman memiliki nilai ekonomis pada umur tertentu
  4. Kerusakan yang terjadi pada tanaman tidak dapat diganti
  5. Hasil / produk tidak tahan disimpan lama

GULA DIHASILKAN DARI NIRA TEBU

  1. Pembentukan gula pada dasarnya dibentuk dari tanaman tebu / di On Farm
  2. Pabrik Gula hanya berperan sebagai pemroses nira tebu menjadi kristal gula ( kilang gula )
  3. Kristal gula yang dihasilkan merupakan sukrosa
  1. FASE PERTUMBUHAN TANAMAN TEBU
  • Fase Perkecambahan

                Pembentukan taji pendek & akar stek ( 1 – 5 minggu )

  • Fase Pertumbuhan Tunas

                Umur 5 minggu – 3,5 bulan

  • Fase Pertumbuhan Vegetatif (Pemanjangan Batang, Pertumbuhan Daun, & Akar)

                Umur 4 – 9 bulan

  • Fase Kemasakan / Generatif

                Pasca 9 bulan, masa pembentukan gula dalam batang hingga mencapai optimal

  • Fase Kematian

                Rendemen gula dalam batang berangsur menurun

  1. PEMBIBITAN
  2. Tujuan:

Menyediakan bahan tanam / bibit yang berkualitas sesuai kebutuhan luas tanam dan tepat waktu

  1. Standar Strata Kebun Bibit :
  • Kebun Bibit Pokok Utama (KBPU)
  • Kebun Bibit Pokok (KBP)
  • Kebun Bibit Nenek (KBN)
  • Kebun Bibit Induk (KBI)
  • Kebun Bibit Datar (KBD)
  1. Ciri-Ciri Bibit Yang Baik
  • Kadar air cukup
  • Mata bibit sehat
  • Umur cukup dengan kisaran 6-8 bulan
  • Ruas normal (tidak terjadi stagnasi)
  • Bebas hama & penyakit
  • Tingkat kemurnian tinggi
  • Bersertifikat
  • Varietas unggul – diskriminatif
  1. Ciri-Ciri Varietas Unggul Tebu
  • Produktivitas tinggi
  • Potensi rendemen tinggi
  • Tahan thd hama & penyakit
  • Tahan dikepras
  • Mudah diklentek
  • Tingkat pembungaan rendah

 

  1. BUDIDAYA KEBUN TEBU GILING
  2. Pengolahan Tanah
  3. Persiapan Bibit
  4. Bibit ada beberapa macam diantaranya bibit bagal, rayung & pucuk Yang dipakai adalah bibit bagal
  5. Untuk mencegah penularan kuman, bakteri, & penyakit lainnya; bibit diberi perlakuan HWT (Hot Water Threatment)
  6. Pemotongan bibit harus menggunakan lysol sbg desinfektan untuk menghindari penularan penyakit khususnya penyakit
  7. Untuk keseragaman tanaman agar dipisahkan bibit bagal yang berasal dari bibit atas (ruas 9 – 14) & bibit bawah (ruas 15 – 20)
  8. Penanaman
  • Masa tanam optimal adalah bulan Mei- Juli. Di luar bulan tsb

       produksinya kurang optimal

  • Kasur tanam tidak boleh disiram dgn cara leb
  • Jumlah penggunaan bibit per juring 22 – 32 bagal mata dua
  • Kedalaman tanaman setebal bibit itu sendiri (3 – 6 cm)
  • Bibit ex rayung ditanam berdiri (miring) sedangkan bibit bagal

       ditanam mendatar (horizontal)

  1. Penyulaman
No. Jenis Bibit Waktu Sulam I Waktu Sulam II
1. Rayung 1 minggu setelah tanam 2-3 minggu setelah tanam
2. Bagal/Pucuk 2 minggu setelah tanam 3-4 minggu setelah
tanam

 

  1. Pemupukan
  2. Pupuk I

Waktu         : 7 hari setelah tanam
Dosis            : 5 ku Phonska/ha

  1. Pupuk II

Waktu         : 30 hari setelah tanam
Dosis            : 5 ku ZA/ha
 

  1. Pengendalian Gulma
  2. Herbisida pre emergence diberikan segera setelah tanam atau kepras dengan syarat tanah harus halus dan kelembaban cukup. Bahan aktif: Diuron, Ametryne atau Triazine dosis 2-3 kg/ha + 2,4 Amine sebanyak 2 lt/Ha
  3. Herbisida post emergence diberikan segera setelah bumbun terakhir.Bahan aktif: Paraquat atau yang lain dosis 3 lt/ha + 2,4 Amine sebanyak 2 lt/Ha

 

  1. Penambahan Tanah/Bumbun

Tujuan:

  • Memberi tambahan media tanah sebagai sumber zat hara yang baru bagi tanaman.
  • Memperbaiki keadaan drainase
  • Memberi tambahan kekuatan bagi tegaknya tanaman.
  • Untuk mengatur (mempercepat atau menghambat)
  1. Klentek

Dilakukan 2-3 kali, klentek I sebelum gulud (turun tanah IV), klentek II 1 bulan setelah klentek I (daun yang kering 5 – 7 daun), dst.
Tujuan Klentek:

  • Mempermudah pelaksanaan turun tanah IV (garpu gulud)
  • Mengurangi kelembaban (mengurangi populasi hama & penyakit)
  • Membantu proses kemasakan tebu
  • Mematikan sogolan
  • Mengurangi kerobohan
  • Menekan adanya kebakaran
  • Mempermudah sistem tebang “cut & go”
  1. Pemeliharaan Parit/Got

Yang perlu diingat adalah bahwa tebu tidak menyukai tergenang oleh air. Got yang dalam akan mempertinggi rendemen dan tebu tidak mudah kering (mati) pada saat menunggu penebangan.

  1. Panen

M B S (MANIS, BERSIH DAN SEGAR)
MANIS : manis/masak, bahan yang ditebang adlah tebu dalam tebu dalam kondisi masak optimal, layak umur
 
BERSIH: -bersih dari daun kering maupun basah (rapak)
-bersih dari pucuk (bagian tebu paling atas sepanjang satu bibit)
-bersih dari sogolan, sogolan (bung) yang panjangnya kurang dari 1.5 m (setelah dipotong pucuknya) ditinggal  /dibuang
-bersih dari akar dan tanah/pasir
-bersih dari bahan-bahan non tebu (pohon pisang, batu, tanah, dsb)
SEGAR : – tebu segera diangkut setelah ditebang (tidak wadang)
– tidak terbakar
 
CARA MENEBANG TEBU YANG BENAR, UNTUK MENUJU TEBANGAN MBS, DENGAN SASARAN MENEKAN KOTORAN HINGGA KURANG DARI 5%

  1. Tebu ditebang (dibabat/dipotong) dengan alat bedong, arit/pecokpada pangkal batang, rata dengan tanah, akar disisik, dibersihkan dari klaras (=rapak, daduk, daun tebu), kemudian pucuknya dipotong agar tanah atau pasir tidak terbawa ke pabrik.
  2. Kemudian diatur dalam gambangan, dipisahkan dengan jalur rapakbiasanya 3 atau 4 lubang  untuk jalur tebu dan 2 lubang untuk jalur
  3. Selanjutnya tebu diikat dan dimuat pada alat angkut truck/lori.
  4. Pemuatan dalam truk/lori harus rapi dan tidak jebol bila diderek. Dibuatkan spa (surat perintah angkutan) untuk angkutan truk atau untuk lori
  5. Pembuatan spa/dlmt harus jelas dan benar. Untuk ini perlu diadakan penelitian kembali sebelum angkutan diberangkatkan

Budidaya Tanaman Wijen

  1. Waktu tanam.
    Untuk lahan kering dimusim hujan yaitu wilayah yang bercurah hujan pendek dengan tipe iklim D4, E3, dan E4, wijen ditanam pada awal musim penghujan agar tanaman tidak mengalami hambatan suhu tanah, ketersediaan air, dan jazad pengganggu. Pada lahan sawah sesudah padi pertama (MK-1) atau padi kedua (MK-2) dimusim kemarau, wijen ditanam segera setelah tanaman sebelumnya dipanen.
  2. Jarak tanam
    Secara umum, wijen yang bercabang (Sbr 1, Sbr 3, dan Sbr 4) dianjurkan menggunakan jarak tanam 60 x 25 cm, atau 50 x 25 cm, sedangkan varietas yang tidak bercabang (Sbr 2) dianjurkan dengan jark tanam 40 x 25 cm dengan dua tanaman per lubang.
  3. Pemupukan
    Pemupukan dilahan kering digunakan N (100 kg Urea/ha), P2O5 (50 kg SP-36/ha) dan K2O (50 kg KCl/ha). Pemupukan di lahan sawah sesudah padi dengan 150 kg urea/ha. Urea 1/3 dosis, P dan K diberikan pada waktu tanam, sedangkan 2/3 dosis Urea diberikan pada saat tanaman berumur 30 – 35 hari setelah tanam. Cara pemupukan dan penempatan pupuk sebaiknya dengan cara ditugal dengan jarak sekitar 5 cm dari lubang tanam dan kedalaman 2,5 – 5,0 cm, dan ditutup dengan tanah.
  4. Pola tanam
    Pengembangan wijen di lahan sawah banyak dilakukan secara monokultur, akan tetapi dengan pertimbangan risiko kegagalan dan peningkatan pendapatan, dapat ditanam secara tumpangsari, tumpangsisip, atau campuran (dua tanaman atau lebih ditanam secara bersamaan). Di lahan kering wijen dapat ditumpangsarikan dengan jagung, kapas, jarak kepyar, kacang hijau, kacang tanah, atau padi gogo.Tumpangsari wijen dengan jagung, dan setelah jagung dipanen disisipi kacang hijau memberikan penerimaan lebih besar dari pada wijen monokultur atau jagung monokultur, atau kacang hijau monokultur. Contoh tumpangsari wijen dengan jarak kepyar pada tahun 2000 di lahan kering di Asembagus memberikan penerimaan Rp. 10.000.000,-/ha – Rp. 11.000.000,-/ha.
  5. Pengendalian gulma dan penggemburan tanah
    Periode kritis adanya gulma yaitu pada awal tanam sampai menjelang berbunga. Oleh karena itu, pengendalian gulma dianjurkan mulai awal pertumbuhan sampai umur 45 hari. Setelah umur tersebut pertumbuhan lebih cepat dan tanaman menutup lahan dibawahnya, sehigga mampu menekan gulma, karena sebagian besar gulma tidak tahan naungan. Selain disiang, perlu dilakukan pembumbunan yang dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pendangiran, yaitu pada saat tanaman berumur sekitar 30 – 45 HST. Pembumbunan dimaksudkan akar tanaman dapat menembus lapisan tanah lebih dalam. Penyiangan dilakukan 2 – 3 kali.
  6. Panen dan Pasca Panen
    Waktu panen yang tepat adalah apabila sebagian besar polong sudah berwarna hijau kekuningan, dan daun sudah mulai rontok. Panen dilakukan dengan cara memotong batang wijen 15 – 20 cm di bawah kedudukan polong. Batang wijen dibendel dengan garis tengah 15 – 20 cm, kemudian dijemur secara berdiri, disandarkan di para-para bambu. Kalau cuaca panas, dijemur 7 hari polong-polong ujungnya sudah membuka dan sudah dapat dibijikan dengan membalik bendelan sambil dipukul-pukul dengan kayu agar biji keluar dari polong. Setelah biji dikeluarkan kemudian bendelan dijemur kembali, dan pada hari berikutnya dibijikan kembali untuk mengeluarkan biji yang masih tersisa. Biji kemudian ditampi dan dijemur sampai kering sekitar 2 hari.

Budidaya Tanaman Tembakau


BUDIDAYA TANAMAN TEMBAKAU

  1. TEKNIK PELAKSANAAN
  2. Benih

Benih yang ditanam merupakan benih bina varietas local ( jenis Crumpung).

  1. Pesemian/Pembibitan
  2. Lahan yang dipergunakan
  • Bukan bekas dari tanaman tembakau.
  • Lahan terbuka, sinar matahari yang cukup.
  • Tanah subur.
  • Dekat sumber air.
  • Daya mengikat air baik, drainase baik.
  • Jauh dari gulma yang menjadi inang penyakit
  1. Pengolahan Tanah
  • Tanah dicangkul/dibajak, kemudian dibiarkan 1 – 2 minggu, digemburkan dan dibuat bedengan-bedengan.
  • Bedengan dengan ukuran lebarpermukaan 1 meter, lebar bagian datar 1,25 m, tinggi 20 – 25 centimeter, jarak antar bedengan 1 – 1,25 meter.
  • Dibuat saluran air keliling, untuk membuang kelebihan air dengan lebar 30 centimeter.
  • Tanah Permukaan bedengan dicacah, sehingga menjadi bungkahan kecil, permukaan disiram air dengan mengunakan gembor agar tanah mampat sehingga apabila benih ditagur tidak masuk terlalu dalam.
  1. Naungan

Penaung/atap terbuat dari plastik dibuat tinggi bagian timur 100 – 125 sentimeter, sisi barat 50 – 80 sentimeter. Atap dari plastik dibuat lengkung dengan tinggi bagian tengah 50 – 60 sentimeter.

  1. Pemupukan

Dilakukan dengan SP-36 dan ZA dengan dosis

  • SP-36 = 35 – 75 gram/m2, diberikan 4 – 5 hari, sebelum benih disebar.
  • ZA = 35 – 70 gram/m2, diberikan 2 – 3 hari sebelum benih disebar.
  1. Desinfeksi

Dilakukan penyiraman 1 liter larutan terisi 2 % ( 20 gram lisol dilarutkan ke dalam 1 liter air) setiap 1 m2 bedengan, atau dengan cara lain.

  1. Penaburan

Penaburan benih tembakau ke bedengan dilakukan dengan mengkecambahkan benih tembakau terlebih dahulu,dalam cawan adengan memberi sedikit air, setelah 3 hari berkecambah, kemudian ditaburkan kebedengan dengan dilarutkan didalam air atau dicampur pasir halus/abu, dibutuhkan bedengan pembenihan seluas 2 m2.

  1. Penyiraman

Penyiraman dilakukan selam 7 hari secara intensif 3 hari sehari                  ( pagi, siang dan sore hari)

  1. Penjarangan

Dilakukan bila pertumbuhan bibit terlalu rapat pada umur ± 12 hari, setelah penaburan benih.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Dilakukan dengan insektisida/fungisida setiap 5 – 7 hari, sampai umur 40 hari

  1. Pencabutan Bibit

Pencabutan bibit dilakukan pada umur 40 – 45 hari setelah sebar, yaitu berdaun 4 – 6 helai, tinggi 13 – 15 cm, sehari sebelum bibit dicabut bedengan disiram sampai kenyang hingga tanah menjadi gembur, 1 jam sebelum dicabut, bedengan disiram air lagi. Pencabutan dilakukan pagi hari, di pilih bibit yang segar, murni, sehat dan terbesar.

  1. Penanaman

Penanaman di lahan dengan jarak tanam 50 x 60 cm, penanaman dilakukan sore hari mulai pukul 14.00. Dibuat lubang tanam dan disiram sebelum dan sesudah tanam. Apabila cuaca panas, bibit yang baru ditanam sebaiknya dikerudung/dinaungi, agar tidak terkena sinar matahari langsung.

  1. Pemeliharaan Tanaman
  2. Penyiraman

Dilakukan pagi dan sore hari selama 7 hari setelah tanam dan pada umur 7 – 25 hari, penyiraman dilakukan 3 hari sekali, pada umur 25 – 45 hari penyiraman 7 – 10 hari sekali, pada umur 45 – 65 hari, penyiraman 3 – 5 hari sekali, umur lebih 65 hari tidak perlu disiram, kecuali sangat kering. Volume untuk penyiraman selalu ditambah makin panjang umur tanaman.

  1. Penyulaman

Penyulaman tanaman dilakukan pada umur 7 – 21 hari, untuk menganti tanaman disela-sela tanaman yang mati, bibit tanaman sulaman diambil dari bibit yang telah disiapkan.

  1. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan dosis yang dianjurkan adalah SP 36 : 100 Ka/Ha, ZA : 150 Kg/Ha, NPK/Ponska : 150 Ka/Ha.

  1. Dangir dan bumbun

Dilakukan pada umur 15 hari, dengan menggunakan kecrik dan membumbun ke pangkal tanaman. Pada umur 30 hari sama dengan dangir yang pertama tetapi lebih dalam, pada umur 45 hari dengan membumbun tanaman dan memperbaiki gulud.

  1. Pembuangan Tunas Ketiak/wiwil

Dilakukan dengan membuang tunas ketiak yang tumbuh secara  periodic setiap 5 hari, selain sirung daun pada pangkal karangan bunga sejumlah 2 – 3 lembar, juga dibuang agar tidak sebagai sarang hama.

  1. Pengendalian Jazat Penganggu
  • Gulma yang tumbuh dicabut bersamaan pendangiran.
  • Hama yang sering menyerang adalah Spodoptera litura dan Heliothis Sp. Menyerang daun dan buah. Dikendalikan dengan mekanis (diambil dengan tangan) atau dengan insektisida. Disamping hama tersebut diatas ada hama penghisap daun (Aphis Sp) dapat dikendalikan dengan insektisida.
  • Pengendalian penyakit yang sering menyerang adalah Phythopthora nicotienal (jamur) dan Pseudonomas solanacearum (bakteri) pengendaliannya segera dicabut dan dibakar.
  1. Panen
  • Cara panen dilakukan dengan cara pungut daun
  • Pemetikan daun dilakukan perlembar menurut tingkat kemasakannya
  • Perlakuan pemetikan daun yaitu dengan cara dipretel dengan tangan
  • Pemetikan selanjutnya dilakukan selang 3-5 hari
  • Sekali petik, hanya 2-4 helai daun tiap tanaman.

 

  1. Saat Panen
  • Saat panen yang terbaik adalah pagi (06.00-10.00) atau sore hari (14.00-17.00)
  1. Perajangan
  • Pemeraman 2-4 hari (daun berwarna kuning)
  • Gagang daun dibuang sepanjang ¾ bagian dari pangkal gagang
  • Perajanagn pada pagi hari (jam 06.00-06.30) dan segera dijemur
  1. Pengeringan
  • Dengan cara pengeringan matahari
  • Tembakau rajangan ditata dalam wadah (rigen)
  • Tembakau yang telah kering di embun-embunkan agar lemas
  • Tembakau disimpan dalam keranjang-keranjang yang bagian dasar dan tepinya diberi alas pelepah pisang yang kering. Penyimpanan ini sekaligus merupakan fermentasi dan aging untuk mengubah warna, aroma dan rasa.

Budidaya Tanaman Serai


Syarat Tumbuh
Pertumbuhan tanaman serai wangi dipengaruhi oleh kesuburan tanah, iklim dan tinggi tempat diatas permukaan laut, dan tumbuh di berbagai tipe tanah baik didataran rendah maupun daratan tinggi sampai dengan ketinggian 1.200 m dpl, dengan ketinggian tempat optimum 250 m dpl.
Untuk pertumbuhan daun yang baik diperlukan iklim yang lembab, sehingga pada musim kemarau pertumbuhannya menjadi agak lambat.
Tanaman pelindung berpengaruh kurang baik terhadap produksi daun dan kadar minyaknya. Secara umum serai wangi tumbuh baik pada tanah gembur sampai liat dengan pH 5,5 – 7,0.
Dengan curah hujan rata-rata 1.000 – 1.500 mm/tahun dengan bulan kering 4 – 6 bulan, produksi daun menjadi turun tetapi rendemen dan mutu minyak meningkat (Zainal et al., 2004).
Persiapan lahan
Bila lokasi lahannya berupa semak belukar cukup dibabat, dibakar dan langsung dibajak. Setelah pembukaan lahan dilakukan pengajiran lubang tanam. Jarak tanam ditanah yang subur 100 x 100 cm, sedangkan di tanah yang kurang subur 75 x 75 cm. Ukuran lubang tanaman adalah 30 x 30 x 30 cm.
Penanaman serai wangi dapat juga dilakukan dengan sisitem parit, ukuran lebar dan dalam parit sama seperti sistem lubang. Pada lahan yang topografinya lereng, sebaiknya barisan lubang atau parit tanam searah kountour. Penanaman serai wangi pada kemiringan lahan 25 – 30º dengan curah hujan 3.500 mm/th, sebaiknya menggunakan terasering dan pertanaman secara pagar.
Penanaman
Penanaman merupakan proses peletakan benih dalam bentuk anakan ke dalam lubang tanam yang sudah disiapkan. Penanaman sesuai dengan jarak tanam, bertujuan agar benih dapat tumbuh optimal, seragam, serta tidak terjadi kompetisi penyerapan unsur hara dan sinar matahari.
Anakan serai wangi ditanam pada lubang dengan kedalaman 10 cm. Setiap lubang ditanam 1–2 anakan. Tanah di sekitar benih dipadatkan agar tanaman dapat berdiri dengan tegak. Waktu tanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.
Pemeliharaan tanaman merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyulaman, penyiangan, pemupukan, pembumbunan, pemberian mulsa, pengendalian hama, dan penyakit serta gulma agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal.
Penyulaman
Sebelum dilakukan penyulaman, serai wangi diperiksa terlebih dahulu, apabila ada yang mati keseluruhan dalam 1 lubang, maka segera dilakukan penyulaman. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 1–2 minggu.
Penyulaman ini sangat penting untuk mempertahankan jumlah populasi dan produksi per luas areal tanaman. Anakan yang digunakan untuk penyulaman dapat berasal dari benih cadangan yang ditanam pada waktu bersamaan di bagian lain dari lahan.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan setiap 2 bulan sekali sampai panen pertama (umur 6 bulan). Penyiangan selanjutnya dilakukan setiap selesai panen. Penyiangan gulma yang tumbuh di rumpun serai wangi dilakukan dengan cara pencabutan, sedangkan terhadap gulma yang tumbuh diantara rumpun dilakukan dengan cara pembabatan.
Semak atau rumput bekas siangan dapat digunakan sebagai mulsa. Daun serai wangi yang sudah tua dan kering harus dibuang dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar penyulingan.
Pembumbunan
Setelah penyiangan, dilakukan pembumbunan. Pembumbunan di sekitar rumpun dilakukan pertama kali pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam dan selanjutnya dilakukan setiap selesai panen.
Pembumbunan dilakukan dengan cara mencangkul tanah sekitar rumpun secara melingkar, kemudian tanahnya dibumbunkan ke rumpun serai wangi.
Pemberian Mulsa
Pemberian mulsa bertujuan untuk menjaga kesuburan tanah dan mengurangi penguapan serta menghambat pertumbuhan gulma terutama pada musim kemarau. Mulsa yang dapat digunakan adalah alang-alang, jerami, glyrisidia, dan tanaman lainnya. Daun kering serai wangi tidak dapat digunakan sebagai mulsa karena dapat meracuni (alelopati) serai wangi itu sendiri.
Pemupukan
Untuk menjaga kesuburan tanah dan kestabilan produksi, tanaman serai wangi perlu dipupuk. Pupuk berpengaruh pada produksi daun dan banyaknya minyak atsiri yang dihasilkan per hektar (Rusli et al., 1990). Umur satu bulan setelah tanam, beri pupuk Urea sebanyak 25 gram atau satu sendok makan per rumpun. Pupuk diberikan dengan cara melingkari rumpun sejarak 25 cm atau satu jeng-kal.
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengemburan. Dosis pupuk yang dipakai tergantung dari kondisi tanah baik sifat fisik maupun kesuburannya. pupuk NPK (37 ; 65 ; 65) dengan dosis 150 – 200 kg/ha, 50 kg KCl/ha (Risfaheri, 1990). Pupuk kandang 2 kg per rumpun yang di berikan 6 bulan sekali.
Panen
Panen pertama dilakukan pada saat tanaman serai wangi sudah berumur 5 – 6 bulan setelah tanam dengan cara memotong daun serai wangi pada 5 cm diatas ligula (batas pelepah dengan helaian daun) dari daun paling bawah yang belum mati atau kering. Panen selanjutnya dapat dilakukan setiap 3 bulan pada musim hujan dan setiap 4 bulan pada musim kemarau.
Produksi serai wangi sejak dari panen 1 sampai ke 3 meningkat, tetapi panen berikutnya sampai panen ke 7 produksi turun hampir 50%. Terjadinya penurunan produksi daun segar dan minyak setelah tahun ketiga adalah karena dengan meningkatnya umur rumpun tumbuhnya makin ke atas, sehingga akar baru yang tumbuh tidak dapat mencapai tanah yang menyediakan hara.

Budidaya Tanaman Kapas


BUDIDAYA KAPAS

  1. SYARAT TUMBUH
  2. Tanah subur, lempung berpasir dan lempung berliat
  • pH tanah 5,5 – 6,5
  • topografi relatif datar, dataran tinggi 200-600 dpl
  • kelembaban cukup perkecambahan
  • bebas naungan
  1. Iklim
  • Curah hujan 600 – 1100 mm selama 5-6 bulan
  • Penyiraman minimal 5-6 jam/hari
  • Suhu optimal 25-29°C.
  1. WAKTU TANAM

Waktu tanam untuk tanaman kapas ada 2 yaitu :

  1. TMP (Tanam Musim Penghujan)

Pelaksanaan penanamanyang hanya mengandalkan air hujan, biasanya untuk penanaman dilahan marginal, dan tegalan. Bulan tanam yaitu bulan Desember – Bulan Februari.

  1. TMK (Tanam Musim Kemarau)

Pelaksanaan penanaman di lahan sawah tadah hujan. Biasanya ditanam pada bulan                    April – Bulan Mei.
 

  1. JARAK TANAM

Jarak tanam biasanya disesuaikan dengan keadaan masing masing wilayah. Berikut ini jarak tanam yang dianjurkan sesuai dengan tingkat kesuburan lahan :

  • Untuk lahan dengan tingkat kesuburan tinggi jarak tanamnya 40 cm x 100 cm
  • Lahan dengan tingkat kesuburan sedang jarak tanam yang dianjurkan yaitu 30 x 90 cm
  • Sedangkan untuk lahan dengan tingkat kesuburan rendah / lahan kurang subur jarak tanam 30 x 80 cm

Di Kabupaten Grobogan jarak tanam yang digunakan yaitu 40 cm x 90 cm.

  1. FASE PERTUMBUHAN
  2. Fase I :   Fase Vegetatif terjadi dari 0 – 35 hst
  3. Fase II :   Fase Pembungaan terjadi pada saat tanaman berumur 35 – 65 hst
  4. Fase III :   Fase Pembuahan terjadi pada saat tanaman berumur 65 – 105 hst

Buah pertama sampai dengan buah mekar semua pada saat tanaman
berumur 105 – 140 hst.

  1. CARA TANAM

Tanah ditugal / dibuat lubang tanam dengan jarak tanam disesuaikan dengan keadaan lahan setempat, kemudian masukkan benih kedalam lubang tersebut.

  1. PEMUPUKAN
  2. Waktu Pemupukan
  • Pemupukan I :   dilaksanakan pada saat tanaman berusia 3-4 minggu setelah tanam. Pupuk yang diaplikasikan yaitu pupuk N : 50 Kg/Ha, pupuk P : 75 Kg/Ha, dan pupuk K : 50 Kg/Ha.
  • Pemupukan II :   dilaksanakan pada saat tanaman berusia 6-8 minggu setelah tanam. Pupuk yang diaplikasikan yaitu pupuk N sebanyak 100 Kg/Ha.
  1. Dosis Pemupukan
  • Urea :   150 Kg/Ha
  • SP-36 :   100 Kg/Ha
  • KCl :   100 Kg/Ha
  1. Cara Pemupukan
  • Ditugal, yaitu dengan cara membuat lubang yang berjarak 5-10cm dari tanaman, dengan kedalaman kurang lebih 5-7cm. Kemudian masukkan pupuk kedalam lubang dan urug dengan tanah.
  • Kocoran, yaitu dengan cara mencampur pupuk dengan air dan kemudian disiramkan pada tanah dengan jarak 5-10cm dari tanaman. Cara kocoran ini direkomendasikan apabila lahan kesulitan air.
  1. PEMANGKASAN

Dilakukan pada saat jumlah cabang telah mencapai 8-10 batang. Hal ini dengan tujuan yaitu :

  1. Memperbanyak bunga/boll/buah
  2. Memperpendek umur tanaman sehingga prosespanen lebih cepat
  3. Buah yang dihasilkan besar-besar
  4. Mempermudah perawatan
  5. OPT & PHT
  6. Hama dan penyakit utama tanaman kapas
  • Hama Utama
  1. Pectinophora : menyerang biji/buah/bunga sehingga bunga tidak dapat mekar sempurna/bunga roset dan gugur.
  2. Helicoverpa armigera : menyerang bunga dan buah, meninggalkan lubang hitam pada buah.
  3. Sundapterix biguttula / Empoasca / Amrasca : menghisap klorofil dengan ciri menguning pada ujung daun, mengkerut, coklat dan rontok.
  4. Eareas vittella : merusak pucuk tanaman dan buah dengan cara menggerek, serangan meningkat pada kondisi kering.
  5. Bemicia tabacci : berwarna putih seperti gulali/lengket berada di bawah daun, menghisap jaringan daun muda sehingga mengkerut.
  6. Bapak pucung : menghisap biji kapas/buah/cairan buah yang sedang berkembang dan sudah matang, kotoran dari bapak pucung mengakibatkan serat kapas berwarna kuning.
  • Penyakit pada tanaman kapas
  1. Busuk arang (penyebabnya adalah jamur)

Ciri-ciri tanaman yang terkena busuk arang yaitu daun kuning, layu mengering, batang berwarna coklat dan jika dicabut akar berwarna hitam.

  1. Rebah kecambah (penyebabnya jamur)

Yang diserang adalah tanaman muda

  1. Busuk buah (penyebabnya adalah gigitan serangga)
  2. Hawar daun (oleh Xantomonas competris)

Bercak kecoklatan pada daun, cairan hitam kecoklatan pada tulang daun.

  1. Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
  • Pestisida Nabati
  • Musuh alami (predator, parasit/parasitoid, patogen)
  • Penggunaan varietas tanah OPT
  • Sanitasi (untuk pectinopora apabila ada bunga roset maka segera cabut tanaman dan di bakar)
  • Pestisida kimia
  1. PANEN
  2. Kriteria panen
  • Buah mekar sempurna dan kering
  • Kulit buah berwarna coklat
  • Kadar air ± 12%
  1. Waktu panen
  • Jika 5-6 buah atau 60% dari buah yang terbentuk sudah merekah sempurna
  • Sebaiknya dilakukan pada saat terik matahari yaitu sekitar jam 10-11 pagi
  1. Cara panen
  • Ambil serat yang telah kering
  • Pisahkan serat bersih/putih dengan serat kotor (abu-abu/kuning)
  • Jemur hingga Kadar Air 7%
  • Masukkan ke dalam kantong, tidak dianjurkan menggunakan kantong/karung plastik karena seratnya dapat mengotori serat kapas. Serat plastik tidak menyerap warna sehingga benang yang dihasilkan ditolak oleh industri tekstil.
  • Buah kapas tidak boleh disimpan/dipanen dalam keadaan basah. Karena serat dapat rusak dan ditumbuhi jamur.

Budidaya Tanaman Kapuk Randu


 

  1. PEMBIBITAN

Bibit kapuk dapat berasal dari biji atau stek. Penangkaran dengan biji didahului dengan persemaian. Pada pembuatan pesemaian kapuk yang penting adalah pengerjaan tanah. Permukaan bedengan dibuat merata dan pembuangan air mudah dilakukan, karena air yang menggenang berakibat fatal bagi tanaman yang masih muda. Jarak tanam di bedengan 20 cm x 20 cm dengan memakai 3 biji per lubang, kemudian setelah sebulan disisakan satu tanaman yang terbaik. Cara lainnya dengan disebar dalam bak-bak yang kemudian dipindahkan ke bedengan, sehingga diperoleh tanaman yang rata dan tumbuh baik, tetapi apabila ada gangguan hama kumbang Nisotra, pada tanaman kapuk muda daunnya habis termakan. Tanaman kapuk pada umumnya dapat dipindahkan ke lapangan setelah umur satu tahun di persemaian, setinggi kira- kira satu meter.
Okulasi tanaman kapuk banyak menggunakan Togo B sebagai batang bawah. Hasilnya menunjukkan beberapa keuntungan antara lain : pada sambungan batang bawah dan atas (mata tunas) tidak timbul benjolan seperti layaknya bibit berasal dari biji. Keuntungan lain adalah diperoleh tanaman yang sama unggulnya dengan tanaman induknya.
 

  1. PENANAMAN

Jarak tanam yang terbaik untuk tanaman kapuk tergantung tipe kapuk yanag ditanam. Pada umumnya tanaman kapuk tidak boleh ditanam terlalu dekat satu sama lain. Di perkebunan-perkebunan umumnya jarak tanam yang diterapkan 8 x 8 m sampai 10 x 10 m. Di kebun Percobaan Muktiharjo, Pati, pada tahun 1978 tanaman koleksi menggunakan jarak tanam 8 x 8 m. Setelah umur 12 tahun cabang-cabang sudah saling menutup yang menyebabkan penurunan produksi. Pada tahun 1991 dilakukan peremajaan sekaligus menata ulang jarak tanamnya yaitu 15 x 15 m. Ternyata setelah umur 7 tahun menunjukkan pembuahan yang baik. Produksi yang tertinggi pada umur tersebut adalah klon Congo 2 x Lanang atau (C 2 x L) yaitu 992 glondong/pohon/tahun. Sebagai kompensasi hasil pada jarak yang lebar dapat ditambahkan tanaman sela untuk meningkatkan pendapatan per satuan lahan.
 

  1. TANAMAN SELA

Tanaman semusim atau tahunan dapat ditanam diantara tegakan tanaman kapuk sebagai tanaman sela. Menurut penelitian, kapuk sangat baik dikombinasikan dengan tanaman kakao. Kakao sebagai tanaman bawah dan kapuk berfungsi sebagai tanaman pelindung. Syarat-syarat yang dihendaki oleh tanaman kapuk terhadap tanah dan iklim, seyogianya sama dengan tanaman kakao. Ada daerah-daerah yang masih layak untuk tanaman kapuk, tetapi terlalu kering untuk tanaman kakao. Kadang-kadang kita juga menemukan kombinasi tanaman kapuk dengan tanaman kopi (robusta). Kombinasi ini kurang baik dibanding dengan tanaman kakao, karena pada musim kemarau yang sesuai untuk tanaman kapuk justru terlalu panjang untuk tanaman kopi.

  1. PEMELIHARAAN

Dikaitkan dengan cara panen dengan memukul buah di pohon, agar buah yang jatuh diatas tanah mudah diambil, maka disarankan agar tanah dibersihkan pada akhir musim kemarau. Tanah dikerjakan secara minimum pada akhir musim penghujan, dan dengan demikian dapat mencegah penguapan air tanah. Pada dasarnya tanaman kapuk sendiri hanya sedikit memerlukan pemeliharaan. Pemangkasan tidak dilakukan pada tanaman kapuk, hanya menyingkirkan dahan-dahan yang mati, dan tanamanLoranthaceae (kemladean). Untuk itu perlu diawasi secara intensip agar tidak ada biji tanaman kemladean yang bisa berkembang. Pemupukan dilakukan dua kali dalam satu tahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan tergantung umur tanaman dan kebutuhan hara berdasarkan analisa tanah. Umur 1- 5 tahun umumnya kebutuhan pupuk 1,0 kg urea + 0,5 kg SP36 + 0,5 kg KCl per pohon per tahun yang diberikan dua kali, setengahnya pada awal musim penghujan dan sisanya akhir musim penghujan. Semakin tua tanaman dosis pupuk yang diberikan semakin tinggi.

  1. ORGANISME PENGGANGGU

Tanaman kapuk tidak banyak mendapat gangguan hama atau penyakit kecuali gangguan parasit dari keluarga Loranthaceae. Parasit ini disebarkan oleh beberapa jenis burung tertentu, yang memakan buah-buah benalu dan meninggalkannya berupa biji pada tangkai kapuk, karena adanya cairan yang lekat. Apakah biji tersebut akan berkecambah, tergantung pada tanaman inang. Tanaman kapuk Jawa (Indika) sangat peka terhadap benalu, sebaliknya tipe karibea mempunyai daya resistensi yang lebih besar. Cara mengatasinya adalah membersihkan kemudian menjaga agar pohon-pohon tetap bersih dari benalu. Penyuluhan kepada petani agar semua jenis tanaman yang ada dipekarangan tidak dihinggapi oleh benalu terus digalakkan. Kerugian akibat parasit ini, apabila tidak ada usaha-usaha yang efektif, dampaknya dapat menurunkan produksi, bahkan mengalami kegagalan panen.

Budidaya Tanaman Kopi


 

  1. PENANAMAN

1.Jarak tanam
Jarak tanam untuk tanaman kopi bervariasi tergantung jenisnya.
Kopi Robusta (Coffea canephora) : 2,5 m x 2,5 m; 2,5 m x 2,75 m; atau 2,75 m x 2,75 m;
Arabika (Coffea arabica) : 2 m x 2,5 m atau 2,5 x 2,5 m;

  1. Lubang tanam

Pembuatan lubang tanam dilakukan 3 – 6 bulan sebelum penanaman, ukuran 60 x 60 x 60 cm atau 75 x75 x75 cm atau 100 xlOOxlOO cm. Lubang tanam ditutup 2 – 4 minggu sebelum tanam.

  1. Bibit siap tanam
  • Asal biji (zailing), umur < 1 tahun belum/sudah bercabang, atau sudah di stum

3 – 4 bulan;

  • Asal sambungan, umur 3 – 4 bulan atau umur 8 bulan
  • Asal setek, umur 8 – 1 0 bulan.
  1. PEMELIHARAAN
  2. Penyulaman

Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang pertumbuhannya kurang baik atau mati, waktu penyulaman pada awal dan akhir musim hujan sampai tanaman teriihat rimbun. Bibit yang digunakan dipilih bibi yang baik dengan perawatan yang baik.

  1. Mengerjakan tanah/mendangir

Tujuannya agar peredaran udara dan air berjalan dengan baik. Untuk tanaman muda dilakukan dengan cara mencangkul tipis/mengecrok di sekellling batang dengan jarak + 30 cm dari batang. Pengecrokan berikutnya diperdalam dan diperiebar jaraknya sesuai dengan perkembangan umur tanaman. Pengecrokan dilakukan dua kali dalam setahun, pada permulaan musim kemarau dan permulaan musim penghujan.
 

  1. Pemupukan

Adalah penambahan bahan organik atau anorganik kepada tanah/tanaman dengan tujuan untuk menyedlakan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Waktu pemupukan; awal dan akhir musim hujan, masing-masing ½ dosis
Dosis pupuk sbb:

Umur g/ph/th
Urea TSP KCl
1 2 x 25 2 x 20 2 x 20
2 2 x 50 2 x 40 2 x 40
3 2 x 75 2 x 40 2 x 60
4 2 x 100 2 x 40 2 x 80
5-10 2 x 150 2 x 60 2 x 120
>10 2 x 200 2 x 80 2 x 160

 

  1. Pemangkasan

Pemangkasan adalah pemotongan bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki agar tanaman tumbuh sehat, kuat, pertumbuhan vegetatif dan generatifnya seimbang sehingga tanaman lebih produktip.
Tujuan pemangkasan: memperoleh pohon yang rendah sehingga memudahkan pemeliharaan dan panen; mendapatkan cabang baru yang produktif secara kontinyu; mengatur letak, umur, dan bentu dari cabang produktif; cahaya mudah masuk ke tajuk tanaman, memperlancar peredaran udara dan mengurangi kelembaban; membuang cabang-cabang tua, cabang kering, cabang sakit, cabang cacing, cabang balik dan wiwilan.
 
 
Sistem pemangkasan
1) Pemangkasan berbatang tunggal
(a) Pangkasan bentuk
Dilakukan pada tanaman muda yang belum menghasilkan atau pada tanaman muda hasil rejuvinasi yang berumur 1 – 2 tahun, dengan cara memenggal batang. Untuk tanaman yang sehat, pemenggalan dilakukan sekaligus pada ketinggian 180 cm, serta penyunatan cabang primer pada ruas ke 3 masing-masing pada ketinggian (1) 70 – 80 cm, (2) 120 cm, dan (3) 180 cm.  Untuk tanaman yang kurang sehat pemangkasan dilakukan secara bertahap sbb: setelah batang mencapaf ketinggian 100 cm, satu cabang primer dipotong pada ruas ke 3 pada ketinggian 70 – 80 cm; setelah tanaman mencapai ketinggian 120 cm, dilakukan pemenggalan batang pokok pada ketinggian 120 cm, serta penyunatan cabang primer pada ketinggian 120 cm; selama 1 – 2 tahun tanaman wiwilan yang tumbuh dibuang, setelah tanaman tumbuh kuat, salah satu wiwilan dibiarkan tumbuh sebagai bayoney; setelah bayonet mencapai ketinggian 180 cm dilakukan pemenggalan, dlikuti penyunatan cabang primer pada ketinggian 180 cm.
 
(b) Pangkasan produksi
Dilakukan pada tanaman yang telah menghasilkan, terdiri dari:
(1) Pemangkasan ringan (wiwil halus dan wiwil kasar)
Wiwil halus dilakukan 3 bulan setelah panen dan diulang tiga bulan kemudian dilakukan dengan membuang cabang balik, cabang liar, cabang kering, dan cabang sakit. Wiwil kasar, dilakukan setiap bulan pada musim hujan atau setiap dua bulan pada musim kemarau, untum membuang/mematahkan wiwilan yang tidak dipertukan.
(2) Pemangkasan berat (pangkasan lewat panen)
Adalah kegiatan pemangkasan yang dilakukan secara serentak, yaitu mewiwil, memotong cabangobang yang tidak berguna, cabang kering/terseranghama/penyakit, serta cabang yang tidak produktif, dilakukan setelah panen.
(3) Pemangkasan rejuvinasi
Pada umumnya dilakukan pada tanaman tua yang kurang produktif tapi masih mempunyai perakaran yang kuat.
 
 
 
Macam-macam rejuvinasi:
(a) Menurut jumlah pohon:
– rejuvinasi total, bila seluruh pohon dalam suatu areal/blok direjuvinasi
– rejuvinasi selektif, dilakukan selektif terhadap pohon yang sudah rusak/tua;
– rejuvinasi sistematiss, dilakukan secara bertahapdan sistematis.
(b) Menurut bagian tanaman yang direjuvinasi:
– rejuvinasi batang, batang ditunggulkan setinggi 50 cm, kemudian ditimbuhkan wiwilan  1 – 2 wiwilan untuk dipelihara, bisa untuk disambung atau tidak.
– rejuvinasi cabang, merejuvinasi cabang-cabang tua
Rejuvinasi dilaksanakan pada akhir panen besar, akhir musim kemarau atau menjelang musim hujan.
 
2) Pemangkasan berbatang ganda
(a) Pemangkasan bentuk
Pada sistem pemangkasan berbatang ganda ganda dilakukan untuk membentuk tunggul penyangga guna menumbuhkan beberapa batang di atasnya.
Batang ganda diperoleh dengan jalan:
1) memelihara wiwilan;
2) menanam/mecondongkan batang ± 45 0 sehingga mendorong untuk tumbuhnya wiwilan;
3) merundukan batang untuk menumbuhkan wiwilan;
4) menunggul/memotong batang pokok (untuk tanaman tua) pada ketinggian 50 cm.
 
(b) Pemangkasan produksi
Pada sistem pemangkasan berbatang ganda bertujuan untuk meremajakan batang dan berfungsi juga sebagai pemangkasan rejuvinasi;
Macam-macam pemangkasan produksi pada pemangkasan batang ganda:
(1) Sistem Hawaii (Fukunaga): setiap tanaman dibuat berbatang 4 dengan umur yang berbeda, peremajaan dimulai dari batang tertua dengan memotong batang ± 10 cm dari pangkal batang, dst.
(2) Sistem Beaumont Fukunaga 1.3.2.4 (BF 1.3.2.4) : diterapkan pada tanaman dalam baris yang teratur, tanaman dlkelompokan dalam blok yang terdirl dari 4 baris. Peremajaan dilakukan baris demi baris mulai baris 1 dilanjutkan baris 3, kembali ke baris dua, terus ke baris 4, dst.
 

  1. Pengaturan naungan

Naungan tetap diatur melalui pemangkasan dengan tujuan :
(a) Mengatur masuknya sinar matahari sehingga cukup untuk merangsang pembentukan primordia bunga yang terbentuk pada akhir musim hujan dan awal musim kemarau;
(b) Mempermudah peredaran peredaran udara dalam pertanaman yang penting untuk penyerbukan;
(c) Mengurangi kelembaban udaraselama musim hujan sehingga mengurangi jumlah buah yang gugur dan menghidari pertumbuhan cabang yang lemah.
Pengaturan naungan dilakukan dengan pemangkasan yang terdiri atas:
(1) Pemangkasan bentuk, diusahakan agar tinggi percabangan naungan ± 2 kali tinggi pohon kopi agar peredaran udara lancar. Untuk tanaman kopi dewasa, tinggi percabangan naungan antara 3 – 3,5 m. Letak cabang harus menyebar agar mahkota lebih melebar dan memberi cahaya difus.
(2) Pemangkasan pengaturan, terdiri atas :
1) Pemenggalan, dilakukan pada awal musim hujan dengan memotong batang 50 % dari jumlah pohon naungan; berganti-ganti baik secara larikan atau silangan.
2) Rempesan, cabang naungan yang tumbuh selama musim hujan harus dirempes (dipotong) pada akhir musim hujan untuk merangsang pembentukan primordia bungan.
 
 

  1. Pengendalian hama dan penyaktt

1) Hama

Jenis Hama Bagian yang diserang Pengendalian
Nematoda :
Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis
Akar Kultur teknis : rotasi tanaman, pembuatan parit penghafang
Kimia : nematisida Curater 3G, Rhocap 10G,Vydate 100AS, dsb
Penggerek buah :
Hypothenemus hampei
Buah Kultur teknis : memetik buah yang terserang, pengaturan naungan.
Biologi : parasitoid Cephalonomia stephanoderis
Kutu dompolan
Planococcus citri
Buah dan bunga Kultur teknis: pengaturan naungan
Biologis: predator Nephus roepkei
Kimia: Poxindo 50 WP, Supracide 40 EC, dsb
Penggerek batang:
Zeuzera coffeaeXytosandrus spp.
Cabang dan batang Mekanis: memotong cabang yang terserang

 
2) Penyakit

Jenis penyakit Bagian yang diserang Pengendalian
Karat daun
Hemileia vastatrix
Daun Kultur teknis: varitas resisten, pengaturan
naungan.
Kimia : fungisida Cupravit OB 21, Bayleton 250 EC, Anvil 50 EC, dsb
Bercak daun
Cercospora coffeicola
Daun Kultur teknis: pengaturan naungan
Kimia: fungisida Bavistin 50 WP, Cupravit OB 21, Dithane M 45 80 WP, Delsene MX 200
Jamur upas
Corticium salmonicolor
Cabang dan ranting Mekanis: cabang sakit dipotong
Kimia; fungisida Calixin RM, Copper Sandoz, dsb
Busuk buah dan Cabang
Corticium salmonicolor
Buah dan Cabang Mekanis: memtik buah yang sakit
Kimia: fungisida Delsene MX 200, Dithane M 45-80 WP, Copper sandoz.
Jamur akar
Fomes noxius comer
Fomes lamaoensis
Akar Mekanis: membongkar tanamansakit
Rebah batang
Rizocktonia solani
Pangkal batang Kultur teknis: mengurangi kelembaban
Kimia: fungisida Delsene MX 200, Dithane M 45-80 WP, Cupravit OB 21.

 

  1. PANEN

Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak. Ukuran kematangan buah ditandai oleh perubahan warna kulit buah. Kulit buah berwarna hijau tua ketika masih muda, berwarna kuning ketika setengah masak dan berwarna merah saat masak penuh dan menjadi kehitam-hitaman setelah masak penuh terlampaui (over ripe).
Kematangan buah kopi juga dapat dilihat dari kekerasan dan komponen senyawa gula di dalam daging buah. Buah kopi yang masak mempunyai daging buah lunak dan berlendir serta mengandung senyawa gula yang relative tinggi sehingga rasanya manis. Sebaliknya daging buah muda sedikit keras, tidak berlendir dan rasanya tidak manis karena senyawa gula masih belum terbentuk maksimal. Sedangkan kandungan lendirpada buah yang terlalu masak cenderung berkurang karena sebagian senyawa gula dan pectin sudah terurai secara alami akibat proses respirasi.
Tanaman kopi tidak berbunga serentak dalam setahun, karena itu ada beberapa cara pemetikan :
1) Pemetikan selektif dilakukan terhadap buah masak.
2) Pemetikan setengah selektif dilakukan terhadap dompolan buah masak.
3) Secara lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur karena terlambat pemetikan.
4) Secara racutan/rampasan merupakan pemetikan terhadap semua buah kopi yang masih hijau, biasanya pada pemanenan akhir.

Budidaya Tanaman Kenanga


Budidaya Bunga Kenanga
 
Pohon kenanga yang nama latinnya adalah Cananga odorata dapat mempunyai tinggi hingga 20 meter dengan diameter batang mencapai 70 cm. Bunga kenanga merupakan bunga majemuk dengan garpu-garpu. Tersusun menyerupai bintang yang terdiri atas 6 lembar daun bunga. Mahkota bunga berwarna kuning. Bunga ini mempunyai aroma wangi yang khas. Kenanga juga termasuk salah satu bunga yang mudah perawatannya.
Buah kenangan yang ikut terambil pada saat pemetikan bunga ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bibit. Cara ini mungkin tidak banyak diketahui oleh para petani bunga, karena hanya sebagian kecil saja yang menggunakan metode ini. Kebanyakan untuk mendapatkan bibit umumnya dengan cara stek ataupun cangkok dari tanaman yang sudah berumur.
 
Pohon bunga kenangan bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian 20 m. Meskipun minim perawatan pohon yang ditanam dari biji mampu mengeluarkan bunga secara terus menerus. Hal ini tentu berbeda bila bibit didapatkan secara stek atau cangkok. Apabila Anda tertarik untuk membudidayakan tanaman ini berikut adalah panduannya lengkap
Cara Budidaya Bunga Kenanga
Memilih Lokasi Tanan
Tidak bisa dipungkiri bahwa lokasi tanam menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan anda dalam budidaya tanaman. Begitu juga ketika menanam bunga kenanga, pemilihan lokasi tanam harus diperhitungkan dengan baik. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian tidak lebih dari 500 meter dari permukaan laut.
Selain itu kondisi tanah juga harus diperhatikan. Mulailah mencari tanah yang memiliki drainase yang bagus serta tidak mengandung lapisan cadas. Hal ini untuk mendukung agar akar tanaman bisa masuk menembus ke dalam lapisan tanah. Asal bapak/ibu ketahui Bunga kenanga merupakan tanaman yang menyukai iklim yang lembap dan panas.
Memilih Bibit Bunga Kenanga
Bibit bunga kenanga bisa anda didapatkan dengan banyak cara diantaranya melalui stek batang, cangkok, atau melalui biji tanaman. Pada kesempatan kali in kami akan menjelaskan bagaimana budidaya bunga kenanga dengan menggunakan pembibitan dengan biji tanaman. Pertama mulailah Pilih buah kenanga yang sudah tua, Salah satu ciri-cirinya adalah memiliki warna kulit yang sudah menghitam. Setelah itu masukan semua biji tersebut ke dalam karung dan diamkan selama 5 hari.
Kemudian setelah kulitnya melunak maka Anda tinggal mengeluarkan bagian bijinya dengan cara memencetnya secara perlahan-lahan. Lau Cuci biji yang sudah dikeluarkan tadi dengan air sampai bersih kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan selama sehari semalam. Setelah itu Anda bisa menyemaikan baiji pada media semai yang dibuat dari campuran tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 1:1.Lahan penyemaian wajib diletakan ditempat yang sejuk dan teduh.
Setelah semua selaesai siram benih setiap hari sampai sekitar satu minggu benih akan mulai mengeluarkan kecambah. Umumnya setelah berumur 6 bulan bibit akan mencapai ketinggian 30 cm, hal itu menunjukan bahwa bibit bunga kenanga telah siap untuk ditanam di ladang ataupun media tanam yang lain.
Cara Penanaman Bunga Kenanga
Alangkah baiknya jika penanaman bunga kenanga dilakukan ketika awal musim hujan. Untuk lubang tanam sangat dianjurkan sudah dibuat 1 bulan sebelum masa tanam. Buatlah Ukuran lubang tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm. Kemudan atur jarak tanam 8x 8 meter. Jarak tanam ini bertujuan untuk mengantisipasi ketika pohon kenanga tumbuh besar.
Bila Anda rajin memotong dan memangkas pohon jarak tanam bisa disesuaikan menjadi 6 x 6 meter. Sebelum cara memasukan bibit kenagan ke lubang tanam bagusnya lubang diisi terlebih dahulu dengan pupuk kemudian baru bibit bunga kenanga nya dimasukan. dan Jangan sampai lupa untuk melepaskan plastik yang telah anda gunakan untuk menyemaikan bibit tersebut.
Manfaat Bunga Kenanga
Bunga kenanga yang terkenal dengan baunya wangi ini memang memiliki beragam manfaat, tak heran jika saat ini banyak masyarakat yang menanam bunga kenanga di pekarangan rumahnya. Terutama bagi masyarakat yang berada di daerah Jawa bunga kenanga mempunyai arti tersendiri, maka dari itu bunga ini sering kita lihat pada saat ada upacara adat.

  1. Sebagai Aromaterapi

Kandungan minyak atsiri yang ada di dalam bunga kenanga bisa anda jadikan sebagai salah satu bahan alternatif untuk membuat parfum aroma terapi. Aroma yang dikeluarkan bunga ini akan memberikan efek pada kinerja kelenjar adrenalin yang ada pada sistem syaraf.
Pada akhirnya aroma tersebut akan memberikan efek yang menimbulkan perasaan tenang, senang, serta menghilangkan perasaan panik, gelisah, maupun marah.

  1. Sebagai Bahan Luluran

Sejak zaman dulu bunga ini sudah dimanfaatkan sebagai bahan untuk kecantikan. Terutama untuk kalangan bangsawan yang menggunakan bunga kenanga sebagai bahan perawatan tubuh misalnya sebagai bahan luluran dan masker wajah. Dengan memanfaatkan kandungan minyak yang ada di dalam bunga ini akan memberikan manfaat yang luar biasa untuk kulit. Salah satunya akan membuat kulit semakin mulus, kencang, halus dan cantik berseri.

  1. Mencegah Bau Badan

Bagi Anda yang mempunyai masalah bau badan, tidak ada salahnya untuk mencoba pengobatan dengan bunga kenanga. Caranya adalah menyiapkan sekitar 15 gram bunga kenangan, 600 cc air putih dan sedikit gula batu. Rebusa ketiga bahan tersebut sampai air mendidih dan hanya menyisakan sebagian saja. Setelah itu minum air rebusan tersebut secara teratur.
Batuk merupakan penyakit yang sering menyerang ketika terjadi pergantian musim. Meskipun tidak berbahaya bila terkena batuk dan flu akan sangat menganggu aktivitas Anda. Oleh sebab itu Anda bisa mencoba mengobati penyakit tersebut dengan memanfaatkan bunga kenanga.
Cara pembuatannya cukup mudah, Anda hanya perlu merebus sekitar 15 gram bunga kenangan dengan air sampai mendidih. Kemudian saring air rebusan tersebut akan bisa memisahkan ampasnya. Minum air rebusan tersebut secara teratur sampai batuk yang Anda derita sembuh.
 
 
 
 

Budidaya Tanaman Kelapa

  1. SYARAT PERTUMBUHAN

1.1. Iklim

  1. Kelapa tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan antara 1300-2300 mm/tahun, bahkan sampai 3800 mm atau lebih, sepanjang tanah mempunyai drainase yang baik. Akan tetapi distribusi curah hujan, kemampuan tanah untuk menahan air hujan serta kedalaman air tanah, lebih penting daripada jumlah curah hujan sepanjang tahun.
  2. Angin berperan penting pada penyerbukan bunga (untuk penyerbukannya bersilang) dan transpirasi tanaman.
  3. Kelapa menyukai sinar matahari dengan lama penyinaran minimum 120 jam/bulan sebagai sumber energi fotosintesis. Bila dinaungi, pertumbuhan tanaman muda dan buah akan terlambat.
  4. Kelapa sangat peka pada suhu rendah dan tumbuh paling baik pada suhu 20-27 derajat C. Pada suhu 15 derajat C, akan terjadi perubahan fisiologis dan morfologis tanaman kelapa.
  5. Kelapa akan tumbuh dengan baik pada rH bulanan rata-rata 70-80% minimum 65%. Bila rH udara sangat rendah, evapotranspirasi tinggi, tanaman kekeringan buah jatuh lebih awal (sebelum masak), tetapi bila rH terlalu tinggi menimbulkan hama dan penyakit

1.2. Media Tanam

  1. Tanaman kelapa tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti aluvial, laterit, vulkanis, berpasir, tanah liat, ataupun tanah berbatu, tetapi paling baik pada endapan aluvial.
  2. Kelapa dapat tumbuh subur pada pH 5-8, optimum pada pH 5.5-6,5. Pada tanah dengan pH diatas 7.5 dan tidak terdapat keseimbangan unsur hara, sering menunjukkan gejala-gejala defisiensi besi dan mangan.
  3. Kelapa membutuhkan air tanah pada kondisi tersedia yaitu bila kandungan air tanah sama dengan laju evapotranspirasirasi atau bila persediaan air ditambah curah hujan selama 1 bulan lebih besar atau sama dengan potensi evapotranspirasi, maka air tanah cukup tersedia. Keseimbangan air tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah terutama kandungan bahan organik dan keadaan penutup tanah. Jeluk atau kedalaman tanah yang dikehendaki minimal 80-100 cm.
  4. Tanaman kelapa membutuhkan lahan yang datar (0-3%). Pada lahan yang tingkat kemiringannya tinggi (3-50%) harus dibuat teras untuk mencegah kerusakan tanah akibat erosi, mempertahankan kesuburan tanah dan memperbaiki tanah yang mengalami erasi.

1.3. Ketinggian Tempat
Tanaman kelapa tumbuh baik didaerah dataran rendah dengan Ketinggian yang optimal 0-450 m dpl. Pada ketinggian 450-1000 m dpl waktu berbuah terlambat, produksi sedikit dan kadar minyaknya rendah.

  1. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

2.1. Pembibitan
2.1.1. Persyaratan Benih
Syarat pohon induk adalah berumur 20-40 tahun, produksi tinggi (80-120 butir/pohon/tahun) terus menerus dengan kadar kopra tinggi (25 kg/pohon/tahun), batangnya kuat dan lurus dengan mahkota berbentuk sperical (berbentuk bola) atau semisperical, daun dan tangkainya kuat, bebas dari gangguan hama dan penyakit.
Ciri buah yang matang untuk benih, yaitu umur ± 12 bulan, 4/5 bagian kulit berwarna coklat, bentuk bulat dan agak lonjong, sabut tidak luka, tidak mengandung hama penyakit, panjang buah 22-25 cm, lebar buah 17-22 cm, buah licin dan mulus, air buah cukup, apabila digoncang terdengar suara nyaring

I. SYARAT PERTUMBUHAN
1.1. Iklim
1.    Kelapa tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan antara 1300-2300 mm/tahun, bahkan sampai 3800 mm atau lebih, sepanjang tanah mempunyai drainase yang baik. Akan tetapi distribusi curah hujan, kemampuan tanah untuk menahan air hujan serta kedalaman air tanah, lebih penting daripada jumlah curah hujan sepanjang tahun.
2.    Angin berperan penting pada penyerbukan bunga (untuk penyerbukannya bersilang) dan transpirasi tanaman.
3.    Kelapa menyukai sinar matahari dengan lama penyinaran minimum 120 jam/bulan sebagai sumber energi fotosintesis. Bila dinaungi, pertumbuhan tanaman muda dan buah akan terlambat.
4.    Kelapa sangat peka pada suhu rendah dan tumbuh paling baik pada suhu 20-27 derajat C. Pada suhu 15 derajat C, akan terjadi perubahan fisiologis dan morfologis tanaman kelapa.
5.    Kelapa akan tumbuh dengan baik pada rH bulanan rata-rata 70-80% minimum 65%. Bila rH udara sangat rendah, evapotranspirasi tinggi, tanaman kekeringan buah jatuh lebih awal (sebelum masak), tetapi bila rH terlalu tinggi menimbulkan hama dan penyakit
1.2. Media Tanam
1.   Tanaman kelapa tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti aluvial, laterit, vulkanis, berpasir, tanah liat, ataupun tanah berbatu, tetapi paling baik pada endapan aluvial.
2.   Kelapa dapat tumbuh subur pada pH 5-8, optimum pada pH 5.5-6,5. Pada tanah dengan pH diatas 7.5 dan tidak terdapat keseimbangan unsur hara, sering menunjukkan gejala-gejala defisiensi besi dan mangan.
3.   Kelapa membutuhkan air tanah pada kondisi tersedia yaitu bila kandungan air tanah sama dengan laju evapotranspirasirasi atau bila persediaan air ditambah curah hujan selama 1 bulan lebih besar atau sama dengan potensi evapotranspirasi, maka air tanah cukup tersedia. Keseimbangan air tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah terutama kandungan bahan organik dan keadaan penutup tanah. Jeluk atau kedalaman tanah yang dikehendaki minimal 80-100 cm.
4.   Tanaman kelapa membutuhkan lahan yang datar (0-3%). Pada lahan yang tingkat kemiringannya tinggi (3-50%) harus dibuat teras untuk mencegah kerusakan tanah akibat erosi, mempertahankan kesuburan tanah dan memperbaiki tanah yang mengalami erasi.
1.3. Ketinggian Tempat
Tanaman kelapa tumbuh baik didaerah dataran rendah dengan Ketinggian yang optimal 0-450 m dpl. Pada ketinggian 450-1000 m dpl waktu berbuah terlambat, produksi sedikit dan kadar minyaknya rendah.
II. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
2.1. Pembibitan
2.1.1. Persyaratan Benih
Syarat pohon induk adalah berumur 20-40 tahun, produksi tinggi (80-120 butir/pohon/tahun) terus menerus dengan kadar kopra tinggi (25 kg/pohon/tahun), batangnya kuat dan lurus dengan mahkota berbentuk sperical (berbentuk bola) atau semisperical, daun dan tangkainya kuat, bebas dari gangguan hama dan penyakit.
Ciri buah yang matang untuk benih, yaitu umur ± 12 bulan, 4/5 bagian kulit berwarna coklat, bentuk bulat dan agak lonjong, sabut tidak luka, tidak mengandung hama penyakit, panjang buah 22-25 cm, lebar buah 17-22 cm, buah licin dan mulus, air buah cukup, apabila digoncang terdengar suara nyaring.
 
2.1.2. Penyiapan Benih
Seleksi benih sesuai persyaratan, istirahatkan benih selama ± 1 bulan dalam gudang dengan kondisi udara segar dan kering, tidak bocor, tidak langsung terkena sinar matahari dan suhu udara dalam gudang 25-27 derajat C dan dilakukan dengan menumpuk buah secara piramidal tunggal setinggi 1 meter dan diamati secara rutin.
2.1.3. Teknik Penyemaian Benih

  1. Pembibitan

1.    Syarat lokasi persemaian: topografi datar, drainase baik, dekat sumber air dengan jumlah cukup banyak, dekat lokasi penanaman.
2.    Persiapan bedengan atau polybag
Olah tanah sampai gembur sedalam 30-40 cm, bentuk bedengan dengan lebar 2 m, tinggi 25 cm dan panjang tergantung lahan dengan jarak antar bedengan 60-80 m. Untuk polybag, terbuat dari polyethylene/poliprophylene berwarna hitam dengan ukuran 50 x 40 cm dan tebal 0.2 mm, bagian bawah berlubang diameter 0.5 cm dengan jarak antar lubang 7.5 cm sebanyak 48 buah untuk aerasi dan drainase dan diisi dengan tanah top soil halus (bila tanah berat harus dicampur pasir 2:1) setinggi 2/3.
3.    Pendederan, dengan menyayat benih selebar ± 5 cm pada tonjolan sabut sebelah tangkai berhadapan sisi terlebar dengan alat yang tajam dan jangan diulang.

    1. Desifektan benih dengan insektisida dan fungisida (Azodrin 60 EC 0.1% dan difolatan 4F 0.1%) selama dua menit.
    2. Tanam benih dalam tanah sedalam 2/3 bagian dengan sayatan menghadap keatas dan mikrofil ke timur.
    3. Penanaman dengan posisi segitiga bersinggungan. Setiap satu meter persegi dapat diisi 30 – 35 benih atau 25.000 butir untuk areal 1 hektar.
      – Lama pembibitan 5-7 bulan; jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 24.000/ha.
      – Lama pembibitan 7-9 bulan; jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 17.000/ha.
      – Lama pembibitan 9-11 bulan; jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 1.000/ha.
    4. Bila disemai di bedengan, maka setelah benih berkecambah (panjang tunas 3-4 cm) perlu dipindahkan ke polybag.
    5. Persemaian di polybag berlangsung selama 6-12 bulan, berdaun ± 6 helai dan tinggi 90-100 cm.

 

  1. Pembibitan Kitri
    1. Syarat tempat: tanah datar, terbuka, dekat sumber air, dekat arel pertanaman, cukup subur dan mudah diawasi
    2. Cara membuat bedengan:
      – Tanah diolah sedalam 30-40 cm, dibersihkan dari gulma/batuan dan digemburkan.
      – Bentuk bedengan berukuran 6 x 2 x 0.2 meter dengan jarak antar bedengan 80 cm, sebagai saluran drainase.
    3. Mengajir: Mengajir sesuai dengan jarak tanam bibit yaitu 60 x 60 x 60 cm.
    4. Menanam kecambah:
      – Menanam kecambah sesuai dengan besarnya benih.
      – Menanam kecambah dalam lubang dengan tertanam sampai pangkal plumula.

 
2.1.4. Pemeliharaan Penyemaian
Pemeliharaan saat pendederan, meliputi:

  1. Penyiraman, dilakukan dengan menggunakan gembor atau springkel pada dua hari I 5 liter/m2/hari, tiap pagi dan sore, dan Selanjutnya 6 liter/m2/hari. Untuk mengetahui cukup tidaknya penyiraman, maka setelah 2 jam pada bagian sayatan ditekan dengan ibu jari, apabila keluar air maka penyiraman telah cukup.
  2. Pembersihan rumput-rumputan untuk mencegah adanya inang hama dan dan penyakit.

Pemeliharaan pada saat pembibitan, yaitu:

  1. Penyiraman, dilakukan sampai jenuh, selanjutnya dapat disiram dengan gembor, selang atau spingkel pada pagi dan sore hari. Kebutuhan penyiraman per polybag per hari, tergantung pada umur bibit.
  2. Proteksi, dengan pemberian insektisida atau fungisida dengan dosis rata-rata 2 cc/liter dan disemprotkan pada tanaman sampai basah dan merata.
  3. Penyiangan gulma, dilakukan setiap satu bulan sekali, dengan mekanis maupun herbisida.
  4. Pemupukan, yaitu Nitrogen, Phosphat, Kalium dan Magnesium yang dilakukan setiap bulan sekali dengan mencampurakannya kedalam tanah polybag setebal 3 cm.
  5. Seleksi bibit, meliputi: memisahkan tanaman yang kerdil, terkena penyakit dan hama dan dilakukan terus menerus dengan interval 1 bulan setelah bibit berumur 1 bulan.

2.1.5. Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit sebaiknya saat musim hujan, dengan cara:

  1. Bibit kitri; dipindahkan dalam bentuk bibit cabutan yang dibongkar dari persemaian bibit. Umur bibit sewaktu pemindahan telah mencapai 9-12 bulan. Pemindahan harus hati-hati dan dijaga kitri dalam keadan utuh.
  2. Bibit polybag; dipindahkan pada umur 9-12 bulan. Dua sampai tiga hari sebelum dipindahkan akar yang keluar dari polybag harus dipotong.

 
2.2. Pengolahan Media Tanam
2.2.1.Persiapan
Persiapan yang diperlukan adalah persiapan pengolahan tanah dan pelaksanaan survai. Tujuannya untuk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan paralatan dan biaya yang diperlukan.
2.2.2. Pembukaan Lahan

  1. Lahan berupa hutan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: (a) Penebasan semak atau perdubahkan apabila memungkinkan didongkel, dikumpulkan, dikeringkan dan dibakar, (b) Penebangan pohon, dengan tinggi penebangan tergantung besarnya pohon.
  2. Lahan tanaman kelapa tua. Pohon kelapa tua ditebang pada leher akar. Apabila memungkinkan batang kelapa dapat dijual sebagai bahan bangunan.
  3. Areal alang-alang.

 
Tindakan yang dilakukan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

    1. Alang-alang tinggi <>
      • Babat alang-alang menjadi ± 20 cm, selanjutnya dibiarkan agar tumbuh kembali sampai 30-40 cm.
      • Semprot dengan herbisida yang mengandung bahan aktif glyphosate (Round up) sebanyak 5 liter, 2,4 diamine, MSMA, dan Dowpon. Pengguanan Round up untuk tiap hektar diperlukan.
      • Setelah dua minggu, lakukan penyemprotan koreksi dengan cara spot spraying menggunakan round up sebanyak 0.5 liter per hektar
    2. Alang-alang tinggi >80 cm; Seperti pada point 2 dan 3 untuk alang-alang <>
  1. Lahan bekas pertanian
    Tidak perlu pembuakaan lahan lagi, dan dapat langsung dilakukan tindakan-tindakan pengajiran, pembuatan lubang tanam, penanaman legume dan tindakan lain yang diperlukan selanjutnya.

2.2.3. Pembentukan Bedengan
Bedengan dibuat melingkar lokasi dengan diameter 200 cm untuk mencegah hujan masuk ke leher batang tanaman bibit.
2.2.4. Pengapuran
Pengapuran dilakukan apabila tanah mempunyai keasaman yang tinggi. Pengapuran dilakukan pada tanah sampai pH 6-8.
2.2.5. Pemupukan
Pemupukan menggunakan pupuk TSP sebanyak 300 gram untuk tiap lubang (lokasi yang ditanami) dengan cara dicampurkan pada tanah top soil yang berada di sebelah utara lubang, kemudian memasukkan tanah tersebut dalam lubang.
 
2.3. Teknik Penanaman
2.3.1. Penentuan Pola Tanam
Sistem tanam yang baik yaitu sistem tanam segi tiga karena pemanfatan lahan dan pengambilan sinar matahari akan maksimal. Jarak tanam 9 x 9 x 9 meter, dengan pola ini jumlah tanaman akan lebih banyak 15% dari sistem bujur sangkar.
2.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dilakukan paling lambat 1-2 bulan sebelum penanaman untuk menghilangkan keasaman tanah, dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm sampai dengan 100 x 100 x 100 cm. Pembuatan lubang pada lahan miring (>20o) dilakukan dengan pembuatan teras individu selebar 1.25 m ke arah lereng diatasnya dan 1 m ke arah lereng di bawahnya. Teras dibuat miring 10 derajat ke arah dalam.
2.3.3. Cara Penanaman
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, setelah hujan turun secara teratur dan cukup untuk membasahi tanah; waktu penanaman adalah pada bulan setelah curah hujan pada bulan sebelumnya mencapai 200 mm. Adapun cara penanaman adalah sebagai berikut:

  1. Top soil dicampur dengan pupuk phospat 300 gram per lubang dan dimasukkan ke lubang tanam.
  2. Polybag dipotong melingkar pada bagian bawah, dimasukkan ke lubang tanam, dan dibuat irisan sampai ke ujung, bejkas polybag selanjutnya digantungkan pada ajir untuk meyakinkan bahwa polybag sudah dikeluarkan dari lubang tanam. Arah penanaman harus sama.
  3. Bibit ditimbuan tanah yang berada di sebelah selatan dan utara lubang, dipadatkan dengan ketebalajn 3-5 cm diatas sabut bibit kelapa.
  4. Kebutuhan bibit 1 ha, apabila jarak tanam 9 x 9x 9 m , segitiga sama sisi, adalah 143 batang dan bibit cadangan yang harus disediakan untuk sulaman 17 batangj, sehingga jumlah bibit yang harus disediakan 160 batang.

 
2.3.4. Lain-lain

  1. Pemberian mulsa.
    Setelah di tanam, tanah sekitar tanjaman ditutup dengan mulsa (daun-daunan hijau dari semak-semak, lalang atau rumput-rumputan lainnya dan juga jerami).
  2. Penanaman tanaman penutup
    Dilakukan sebelum musim hujan dengan famili Legminosae (Legume Cover Crop, LCC) agar biji penutup tanah tidak membusuk. Keuntungannya menekan pertumbuhan gulma dan perkembangan hama Oryctes rhinoceros, memperbaiki kandungan nitrogen dan memperbaiki struktur tanah, mengurangi penguapan, mencegah erosi dan menahan aliran permukaan, memperkecil amplitudo temperatur siang dan malam.

 
2.4. Pemeliharaan Tanaman
2.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang tumbuh kerdil terserang hama dan penyakit berat dan mati, dilakukan pada musim hujan setelah tanaman sebelumnya didongkel dan dibakar pada musim kemarau. Kebutuhan tanaman tergantung pada iklim dan intensitas pemeliharaan biasanya untuk 143 batang/Ha 17 batang.
2.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada piringan selebar 1 meter pada tahun, tahun kedua 1,5 meter, dan ketiga 2 meter. Caranya menggunakan koret atau parang yang diayunkan ke arah dalam, memotong gulma sampai batas permukaan tanah dengan interval penyiangan 4 minggu sekali (musim hujan) atau 6 minggu-2 bulan sekali (musim kemarau).
2.4.3. Pembubunan
Dilakukan setelah tanaman menghasilkan dengan cara menimbunkan tanah dibagian atas permukaan sekitar pohon hingga menutup sebagian batang pohon yang dekat dengan akar.
2.4.4. Perempalan
Dilakukan terhadap daun dan penutup bunga yang telah kering (berwarna coklat), dengan cara memanjat pohon kelapa ataupun dibiarkan sampai jatuh sendiri.
2.4.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan apabila tanah tidak dapat memenuhi unsur hara yang dibutuhkan.
a) Pada umur 1 bulan diberi 100 gram urea/pohon menyebar pada jarak 15 cm dari pangkal batang.
b) Selanjutnya 2 kali setahun yaitu pada bulan April/mei (akhir musim hujan) dan bulan Oktober/Nopember (awal musim hujan).
Cara pemberian pupuk:

  1. menyebar dalam lingkaran mengeliling tanaman.
  2. Pupuk N, K, Mg diberikan bersamaan sedangkan P 2 minggu sebelumnya.
  3. Sebelum pupuk nitrogen diberikan, tanah digemburkan untuk menghindari pencampuran dengan pupuk phospat karena dapat merugikan. Pada tanaman belum menghasilkan disebarkaan 30 cm dari pangkal batang sampai pinggir tajuk.
  4. Tutup dengan tanah daerah penyebaran pupuk.

Dosis pupuk tanaman kelapa sesuai umur tanaman (gram/pohon):

  1. Saat tanam: RP = 100 gram/pohon.
  2. Satu bulan setelah tanaman: Urea = 100 gram/pohon, TSP = 100 gram/pohon, KCl = 100 gram/pohon, Kieserite = 50 gram/pohon.
  3. Tahun pertama
    1. Aplikasi I: Urea = 200 gram/pohon, KCl = 300 gram/pohon, Kieserite 100 gram/pohon.
    2. Aplikasi II: Urea = 200 gram/pohon, TSP = 250 gram/pohon, KCl = 300 gram/pohon, Kieserite = 100 gram/pohon, Borax = 10 gram/pohon
  4. Tahun Kedua
    1. Aplikasi I: Urea = 350 gram/pohon, KCl = 450 gram/pohon, Kieserite = 150 gram/pohon.
    2. Aplikasi II: Urea = 350 gram/pohon, TSP = 600 gram/pohon, KCl = 450 gram/pohon, Kieserite = 150 gram/pohon dan Borax 25 gram/pohon.
  5. Tahun ketiga
    1. Aplikasi I: Urea = 500 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon, Kieserite = 200 gram/pohon.
    2. Aplikasi II: Urea = 500 gram/pohon, TSP = 800 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon dan Kieserite = 200 gram/pohon.
  6. Tahun Keempat
    1. Aplikasi I: Urea = 500 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon, Kieserite = 200 gram/pohon.
    2. Aplikasi II: Urea = 500 gram/pohon, TSP = 800 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon dan Kieserite = 200 gram/pohon.

2.4.6. Pengairan dan Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada musim kemarau untuk mencegah kekeringan dilakukan dua atau tiga hari sekali pada waktu sore. Caranya dengan mengalirkan air melalui parit-parit di sekitarbedengan atau dengan penyiraman langsung.
2.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Dilakukan setiap 20 hari dengan mengggunakan Sevin 85 WP, Basudin 10 gram, Bayrusil 25 EC dengan kosenttrasi 0.4% setip 10 hari atau 0.6% setiap 20 hari. Caranya menggunakan sprayer.
2.4.8. Lain-lain
Perbaikan saluran drainase/cuci parit/kuras got dilakukan awal musim hujan dengan cara: memabat gulma dalam parit, menggaruk gulma pada dinding saluran dengan cangkul, dikumpulkan ditengah, pisahkan gulma dengan tanah dengan cara menghempas-hempaskan gulma dengan cangkul dan keluarkan semua kotoran dari parit, angkat tanah yang longsor kedalam parit, bentuk parit sesuai dengan ukuran, usahakan air dapat mengalir dengan baik, Pengerjaan dimulai dari muara ke hulu.
Ada beberapa cara melakukan sanitasi dalam budidaya tanaman kelapa, antara lain:

  1. Cara sanitasi Gawang
    1. membakar sisa-sisa kayu pada gawangan dengan hati-hati.
    2. mengumpulkan sampah dan sisa-sisa kayu pada gawangan dengan tinggi tidak lebih 40 cm, luas tumpukan 1 x 1 meter.
  2. Cara sanitasi pohon
    1. membebaskan mahkota pohon dari segala kotoran dan bahan-bahan kering pada gawangan.
    2. Membakar dengan hati-hati.

 
2.5. Hama dan Penyakit
2.5.1. Hama Perusak Pucuk

  1. Kumbang nyiur (Oryctes Rhinoceros)
    Ciri: bentuk kumbang dengan ukuran 20-40 mm warna hitam dengan bentuk cula pada kepala Gejala: (1) hama ini merusak tanaman yang berumur 1-2 tahun; (2) tanaman berumur 0-1 tahun, lubang pada pangkal batang dapat menimbulkan kematian titik tumbuh atau terpuntirnya pelepah daun yang dirusak; (3) pada tanaman dewasa terjadi lubang pada pelepah termuda yang belum terbuka; (4) ciri khas yang ditimbulkan yaitu janur seperti digunting berbentuk segi tiga; (5) stadium yang berbahaya adalah stadium imago (dewasa) yang berupa kumbang; Pengendalian: (1) sanitasi kebun terhadap sisa-sisa tebangan batang kelapa; (2) menggunakan virus Bacullovirus oryctes dan Mettarrizium arrisophiae; (3) memberikan carbofura (furadan 3G) atau carbaryl (sevin 5G) 10/pohon dengan interval 2 bulan sekali.
  2. Kumbang sagu (Rhynchophorus ferruginous)
    Ciri: imago, berbentuk kumbang dengan masa perkembangan 11-18 hari. Ciri khas nya adalah tinggal di kokon sampai keras. Gejala: merusak akar tanaman muda, batang dan tajuk, pada tanaman dewasa merusak tajuk, gerekan pada pucuk menyebabkan patah pucuk, liang gerekan keluar lendir berwarna merah coklat. Pengendalian: (1) hindari perlukaan, bila luka dilumuri ter; (2) potong dan bakar tanaman yang terserang; (3) sanitasi kebun; (4) secara kemis dengan insektisida Thiodan 35 EC 2-3 cc/liter larutan, Basudin 10 G dan sevin 85 SP pada luka dan diperkirakan ada serangan Kumbang sagu;

2.5.2. Hama Perusak Daun

  1. Sexava sp
    Ciri: belalang sempurna dengan ukuran 70-90 mm, berwarna hijau kadang-kadang coklat. Masa perkembangan 40 hari. Gejala: (1) merusak daun tua dan dalam keadaan terpaksa juga merusak daun muda, kulit buah dan bunga-bunga; (2) merajalela pada musim kemarau; (3) pada serangan yang hebat daun kelapa tinggal lidi-lidinya saja.
    Pengendalian: (1) cara mekanis: menghancurkan telur dan nimfanya, menangkap belalang (di Sumatera dengan perekat dicampur Agrocide, Lidane atau HCH, yang dipasang sekeliling batang) untuk menghalangi betina bertelur di pangkal batang dan menangkap nimfa yang akan naik ke pohon; (2) cara kultur teknis: menanam tanaman penutup tanah (LCC), misalnya Centrosema sp., Calopogonium sp., dan sebagainya; (3) cara kemis: menyrmprot dengan salah satu atau lebih insektisida, seperti BHC atau Endrin 19,2 EC 2cc/liter air, menyemprotkan disekitar pangkal batang sampai tinggi 1 meter, tanah sekitar pangkal batang diameter 1,5 m 6 liter/pohon. Insektisida lain yang dapat digunakan: Sumithion 50 EC, Surecide 25 EC, Basudin 90 SC atau Elsan 50 EC; (4) cara biologis: menggunakan parasit Leefmansia bicolor tapi hasilnya belum memuaskan.
  2. Kutu Aspidiotus sp
    Ciri: kutu berperisai, jantan bersayap dengan ukuran 1,5-2 betina, jantan 0,5 mm. Imago jantan berwarna merah/merah jambu dan betina berwarna kuning sampai merah. Gejala: (1) bercak-bercak kuning pada permukaan bagian bawah daun; (2) pada serangan berat daun berwarna merah keabu-abuan, tidak berkembang (tetap kecil), tidak tegak, kemudian tajuknya terkulai dan mati; (3) akibat serangan dalam waktu 2-5 tahun tidak mau berbuah. Pengendalian: menggunakan musuh alami yaitu predator Cryptognatha nodiceps Marshall atau parasit Comperiella unifasciata Ishii.
  3. Parasa lepida
    Ciri: kupu-kupu berentang sayap 32-38 mm berwarna kuning emas muda, masa pertumbuhan ± 375 hari. Gejala: memakan anak-anak daun sebelah bawah setempat-setempat, tetapi tidak sampai tembus, meninggalkan bekas ketaman/gigitan yang melebar sehingga tinggal urat-uratnya serta jaringan daun atas, ulat yang tua merusak daun dari pinggir ke tengah sampai lidinya, serangan hebat tinggal lidinya dan nampak gundul. Pengendalian: (1) menggunakan musuh alami parasit ulat Apanteles parasae; (2) kepompong dapat menggunakn lalat parasit Chaetexorista javana; (3) perogolan pohon yang terserang pada masa stadium ulat atau dengan mengumpulkan kepompongnya; (4) penyemprotan dengan insektisida Dimecron 50 EC. Suprecide 10 atau menyuntik batang dengan Ambush 2 EC 2-3 cc/liter air pada stadium larva konsentrasi.
  4. Darna sp
    Ciri: imago berbentuk kupu-kupu dengan rentang sayap 14-20 mm. Masa pertumbuhan 30-90 hari. Gejala: (1) pada musim kering, Meninggalkan bekas gigitan tidak teratur pada daun tua, pelepah daun terbawah terkulai; (2) daun-daun yang rusak hebat menjadi merah-sauh, kecuali pucuknya dan beberapa daun yang termuda; (3) tandan-tandan buah dan daun sebelah bawah terkulai bagaikan layu terutama kalau kering dan akhirnya bergantung kebawah di sisi batangnya. (4) buahnya gugur; (5) daun-daun mudak duduk seperti biasa, tetapi kadang-kadang mulai merah sauh. Hanya pucuknya dan daun-daun yang masih muda sekali yang utuh. Pengendalian: (1) mengadakan pronggolan daun dan kemudian membakarnya; (2) menggunakan parasit musuhnya yaitu parasit kepompong Chaetexorista javana, Ptycnomyaremota, Musca conducens; atau tabuhan-tabuhan parasit Chrysis dan Syntomosphyrum; (3) menyuntikkan pestisida Ambush 2 EC 2-3 cc/liter air atau penyemprotan pada stadium larva. Atau insektisida Agrothion 50 EC dengan konsentrasi 0,2-0.4%, Basudin 60 EC dengan konsentrasi 0,3%.
  5. Ulat Artona (Artona catoxantha)
    Gejala: (1) pada helaian daun terjadi kerusakan dengan adanya lubang seperti jendela kecil; (2) jika serangan berat, tajuk tanaman kelapa nampak layu dan seperti terbakar; (3) pada bagian bawah anak daun terlihat beberapa /bekas serangan menyerupai tangga, dengan tulang daun arahnya melintang seperti anak tangga; (4) stadium berbahaya adalah larva. Pengendalian: (1) jika setiap dua pelepah terdapat 5 atau lebih stadium hidup maka perlu dilakukan penangkasan semua daun, dan ditinggalkan hanya 3-4 lembar daun termuda; (2) menggunakan tawon kemit (Apanteles artonae) yang merusak ulat atau Ptircnomya dan Cardusia leefmansi; (3) menggunakan insektisida Ambush 2 EC 5 gram/hektar melalui suntikan batang ataupun penyemprotan pada stadium larva.

2.5.3. Hama Perusak Bunga

  1. Ngengat bunga kelapa (Batrachedra sp.)
    Gejala: lubang pada seludang bunga yang belum membuka, kemudian masuk ke dalam bunga jantan dan betina. Dalam waktu singkat bunga jantan menjadi kehitam-hitaman, bunga betina mengeluarkan getah dan akhirnya rontok. Pengendalian: (1) melabur lubang dengan Basudin 60 EC atau disemprot dengan BHC dengan konsentrasi 0,1%; (2) secara biologis dengan parasit Sylino sp.
  2. Ulat Tirathaba
    Ciri: ulat berwarna coklat kotor bergaris memanjang pada punggungnya, berukuran 22 mm. Masa keperidiannya 12-31 hari. Gejala: (1) bunga jantan berlubang-lubang lebih banyak dari bunga betina; (2) buah yang baru kadang berlubang-lubang; (3) banyak tahi ulat; (4) bunga-bunga jantan gugur dankotoran-kotoran lain melekat menjadi satu bergumpal-gumpal kecil; (5) bongkol bunga penuh kotaoran dan berbau busuk. Pengendalian: (1) mengumpulakn bunga-bunga yang terserang dan membakarnya; (2) pemotongan mayang dan membakarnya; (3) membersihan pangkal daun kelapa dari pupa dan larva; (4) menggunakan parasit hama yaitu Telenomus tirathabae yang merusak telur 6%, Apanteles Tirathabae membinasakan ulat muda 18-40%, lalat parasit Eryciabasivulfa membunuh ulat 6-3%, parasit kepompong Melachnineumon muciallae, Trichhospilus pupivora dan Anacryptus impulsator masing-masing mempunyai daya bunuh 10%, 2 % dan 3,5 %. Sejenis cecopet yaitu Exypnus pulchripenneis memakan ulat hidup-hidup; (5) menggunakan insektisida Sevin 85 S dengan menyemprotkan pada bagian bunga dan bagian pangkal daun.

2.5.4. Hama Perusak Buah

  1. Tikus pohon, Rattus rattus roque
    Ciri: hidup di tanah, pematang sawah, atau dalam rumah. Gejala: (1) buah kelapa berlubang dekat tampuknya.; (2) lubang pada sabut dan tempurung sama besarnya. Bentuk tidak rata kadang bulat, kadang melebar. Pengendalian: (1) memburu tikus, memasang perangkap atau umpan-umpan beracun; (2) sanitasi mahkota daun kelapa agar tidak menjadi sarang tikus.
  2. Tupai/ bajing, Callosciurus notatus dan C. Nigrovitatus
    Gejala: (1) menggerek buah kelapa yang sudah agak tua di bagian ujung buah; (2) lubang gerakan pada bagian tempurung bulat, tapi bagian serabut tidak rata; (3) isi buah habis dimakan 2-3 hari; (4) seekor bajing merusak 1-2 buah dalam 1 bulan. Pengendalian: sama dengan pemberantasan tikus.

2.5.5. Hama Perusak Bibit

  1. Anai-anai randu, Coptotermes curvignatus.
    Ciri: imago berwarna coklat-hitam (laron, kalekatu, siraru). Gejala: (1) anai-anai menyerang bibit dengan merusak sabut dari buah atau benih yang disemai. Serangan terjadi pada lahan lateris yang bertekstur pasir berlempung yang sarang; (2) bibit layu pucuknya kemudian mati. Pohon kelapa muda kadang-kadang pula mati pucuknya kemudian binasa. Pada batang sering nampak lorong anai-anai yang dibuat dari tanah, dari bawah menuju ke atas. Pengendalian:
    (1) pada waktu membuat persemaian dan membuka tanah, sisa-sisa tumbuhan disingkirkan/ dibakar; (2) membuat persemaian dengan diberi lapisan pasir sungai yang bersih dan tebal. Atau campur tanah dengan BHC 10% dengan dosis 65 kg/ha sebelum menyemai; (3) lakukan seedtreatment pada benih sebelum disemai dengan Azodin.
  2. Kumbang bibit kelapa (Plesispa reichei Chap)
    Ciri: imago berbentuk kumbang dengan masa keperidian 90 hari. Gejala: (1) daun bibit atau daun kelapa muda yang berumur 1-4 tahun mula-mula bergaris-garis yaitu bekas dimakan kumbang. Garis-garis bersatu menjadi lebar. Tempat-tempat tersebut membusuk atau kering; (2) daun kelapa dapat menjadi kering atau sobek-sobek seperti terkena angin kencang; (3) serangan yang hebat dapat mematikan bibit atau tanaman muda. Pengendalian: (1) pengambilan terhadap setiap stadium dengan tangan; (2) disemprot dengan Diacin 60 EC dengan dosis 1,5-2 cc/liter air; (3) berikan Furadan 3 G di polybag 2-5 gram per bibit; (4) cara biologis dengan parasit telur Oencyrtus corbetti dan Haeckliana brontispae atau tabuhan parasit larva dan kepompong Tetrastichodes plesispae.
  3. Belalang bibit kelapa, Valanga transiens
    Ciri: imago berwarna merah-sauh bersemu kuning. Kakinya kekuning-kuningan. Pada kaki belakang nampak 2 bercak hitam. Pada syap belakang, ayaitu yabng cerah tidak ada warna merah pada pangkalnya. Panjang belalang jantan 37-50 mm, sedang betina 55-60 mm. Gejala: (1) gigitan yang tidak beraturan pada daun kelapa bibit yang berada dibawah 1 tahun dan yang belum terbelah; (2) untuk bibit yang daunya telah membuka tidak terlalu menderita oleh serangan ini. Pengendalian: dengan menyemprotkan basudin 60 EC atau Dimecron 50 EC.

2.5.6. Penyakit Menyerang Bibit

  1. Penyakit bercak daun (Gray leaf spot); penyebab cendawan Pestalotia palmarum Cooke.
    Gejala: (1) timbul bercak-bercak yang tembus cahaya pada daun-daun dan kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan sampai kelabu; (2) bercak-bercak bersatu membentuk bercak yang lebih besar yang terdapat bintik-bintik yang terdiri dari acervuli cendawan. Pengendalian: bibit disemprot dengan fungisida misalnya Dithane M-45 atau Perenox dengan dosis 0.1-0.2 %.
  2. Penyakit busuk janur (spear rot)
    Penyebab: cendawan Fusarium sp. Gejala: (1) timbul becak-becak tembus cahaya pada permukaan daun yang kemudian segera menjadi coklat kekuningan dan sering bersatu membentuk becak yang lebih besar; (2) pada becak terdapat bintik-bintik yang terdiri acervuli cendawan; (3) daun yang terserang akan mati lebih cepat. Pengendalian: menyemprotan bibit atau tanaman muda dengan fungisida yang mengandung senyawa Cu, misalnya Bubur Bordo atau Koper Oxyclorida.
  3. Penyakit bercak daun (Brown leaf)
    Penyebab: cendawan Helminthosporium incurvatum. Gejala: (1) pada permukaan daun timbul bercak-bercak bulat kecil yang kemudian bertambah besar dan berubah warna menjadi coklat tua; (2) bercak-bercak tersebut kemudian berubah menjadi lonjong dan memanjang. Pengendalian: semprotlah bibit atau tanamanmuda yang baru dipindahkan dengan fungisida Difolatan 4F, Dithane M-45 atau Daconil 75 WP.
  4. Penyakit busuk kuncup (Pre-emergent shoot rot).
    Penyebab: cendawan Marasmius palmavirus. Gejala: (1) menyerang benih yang baru tumbuh. Pada stadium infeksi awal, bila sabutnya dibuka terlihat bercak-bercak dan lapisan miselia berwarna putih atau putih kemerah-merahan pada kuncup dan tepi bakal daun; (2) penyakit ini dapat timbul akibat benih yang ketularan, baik waktu di lapangan maupun waktu berkecambah. Pengendalian: (1) untuk mencegah infeksi pada benih, sebelum benih disemauikan sebaiknya didesinfektir dahulu dengan fungisida dengan jalan merendamnya di dalam larutan Difolatan 4F; (2) usahakan adanya sanitasi dan menghindarkan terjadinya kelembaban yang terlalu tinggi dipersemaian, karena cendawan ini akan berkembang baik pada kelembaban tinggi.

2.5.7. Penyakit Menyerang Tanaman Muda

  1. Penyakit busuk tunas (Bud rot); penyebab cendawan Phytophthora palmivora Buttler.
    Gejala: (1) mengeringnya daun-daun muda di tengah-tengah tajuk; (2) daun berwarna coklat dan patah pada pangkalnya; (3) pangkal membusuk, yang kemudian dapat mencapai titik tumbuh sehingga pertumbuhan tanaman terhenti dan mati; Pengendalian: belum diketahui cara penanggulangan yang tepat dan efektif.
  2. Penyakit sarang laba-laba (Leaf blotch); penyebab cendawan Corticium penicillatum.
    Gejala: (1) adanya becak-becak kecil basah, umumnya pada permukaan bawah daun bibit kelapa, berbentuk bulat, berdiameter kurang dari 3 mm dan berwarna coklat muda (2) bercak-becak meluas dengan cepat, dan warnanya berubah menjadi cokalt tua. Beberapa becak bersatu dan terjadi nekrosis besar memanjang tidak beraturan. Cara pencegahan: (1) semprotlah bibit atau tanaman muda dengan fungisida seperti Benlate, Dithane M-45, atau lainnya; (2) daun yang terserang sebaiknya dipotong dan dibakar; (3) hindarilah terjadinya kelembaban yang terlalu tinggi.

 
2.5.8. Penyakit Menyerang Tanaman yang Menghasilkan

  1. Penyakit pucuk busuk (Bud rot)
    Penyebab: cendawan Phythopthora palmivora, Erwinia sp., Bacillus sp., gangguan fisiologis dan akibat sembaran petir. Gejala: (1) pucuk atau tunas bakal daun mengalami pembusukan sebelum sempat tumbuh keluar. Pembusukan akan menjalar kebagian lainnya. Bila pangkal pelepah terkena, tanaman layu dan lambat laun mati; (2) pada tanaman tua, mahkota kelihatan menguning dan lambat laun berguguran mulai dari ujung. Buah-buah yang masih muda kemudian rontok. Pada kerusakan yang berat, mahkota daun gugur seluruhnya. Pengendalian: (1) bila nampak gejala ini, berilah bordo pasta 1% pada bagian yang diperkirakan terserang penyakit ini, sebelumnya telah dibersihkan terlebih dulu; (2) semprotkan bubur Bordo 1% atau fungisida lainnya seperti Koper oxyclorida, Dithane M-45 dan alin-lain untuk mencegah penularan.

 

  1. Penyakit layu Natuna
    Penyebab: Thielaviopsis sp., Botrydiplodia sp., Fusarium sp., Chlaropsis sp., bakteri Erwinia sp., dan Pseudomonas sp. Gejala: (1) layu yang muncul secara tiba-tiba pada seluruh bagian daun mahkota. Kemudian warna berubah menjadi kusam, pelepah-pelepah bergantungan dan akhirnya berguguran berikut tandan buahnya; (2) proses kematian sangat cepat 1-3 bualan sejak gejala awal mulai muncul. Pengendalaian: (1) penataan air tanah dengan membuat saluran-saluran drainase; (2) pengoalah tanah yang abik, berupa pemeliharaan, pemupukan dan pola tanam yang tepat; (3) karantina tanaman agar tidak terjadi lalu lintas gelap yang dapat mengakibatkan penyebaran penyakit dari satu daerah ke daerah lain; (4) menanam bibit yang sehat, subur dan kuat. Membongkar dan membinasakan tanaman yang terserang penyakit.
  2. Penyakit gejala layu kuning
    Penyebab: (1) faktor lingkungan yang jelek misalnya aera, genangan air dan kekeringan; (2) faktor kultur teknis, misalnya cara pengolahan tanah yang tidak menurut aturan, penggunaan pestisida yang tidak tepat, pemupukan yangkurang dan tidak teratur; (3) keadaan vegetasi, misalnya kebun banyak gulma dan kotor; (4) Faktor hama/penyakit yang berkembang biak tanpa terkontrol; (5) faktor fisiologis, misalnya gangguan pada akar akibat kondisi tanah yang kurang cocok, sehingga metabolisme tanaman terganggu. Gejala: (1) seluruh atau sebagian daun berwarna kuning terutama bila terkena sinar matahari; (2) tanaman tumbuh kerdil, makin ke pucuk ukuran pelepah dan daun makin kecil; (3) sebagian pelepah bagian atas kurus dan menekuk pada ujungnya dan sebagian pelepah bagian bawah menggantung dan kering; (4) bunga dan bakal buah jarang sekali. Buah muda berguguran dan sedikit sekali yang sanggup menjadi tua. Ukuran buah kecil dan bersegi-segi tidak teratur; (5) ukuran mayang yang tumbuh setelah pohon sakit lebih pendek dan kecil, merekah serta terbuka tidak sempurna. Adakalanya mayang yang masih terbungkus; (6) membusuk menyerupai serangan penyakit busuk. Pengendalian: dilakukan melalui perbaikan sanitasi, kultur teknis dan tindakan lain.
  3. Penyakit bercak daun
    Penyebab: cendawan Pestalotia sp., Gloeosporium sp., Helminthosphorium sp., Fusarium sp., Thielaviopsis sp., Curvularia sp., dan Botrydiplodia sp. Penyebaran penyakit ini melalui penyebaran spora melalui udara, air ataupun serangga. Gejala: (1) pada daun muda dan tua terdapat becak-becak dalam berbagai bentuk dan rupa; (2) pada berbagai bagian daun terjadi perubahan warna, mula-mula berupa bintik-bintik kuning, kemudian hijau yang berangsur hilang; (3) bintik-bintik meninggalkan bekas terang berupa warna tertentu seperti hitam, abu-abu dan coklat. Bagian tersebut kemudian kering karena jaringan mati; (4) bentuk pinggiran becak-becak tidak teratur, ada yang berupa lingkaran, oval, lonjong atau belah ketupat; (5) pada serangan berat seluruh mahkota dan daun kelihatan kering, daun-daun dalam keadaan mennutup. Pada tanaman yang telah berbuah, akibat tidak langsung buah-buah muda atau putik gugur sebelum waktunya. Pengendalian: (1) memotong bagian daun yang terserang, kemudian dibakar sampai habis; (2) tanaman disemprot dengan fungisida, misalnya Dithane M-45, Difotan 4F, Koper Oxychlorida atau Cobox 50, dengan konsentrasi 0.1-0.2 %.
  4. Penyakit rontok buah (Immature Nut Fall)
    Penyebab: cendawan Phythophthora palmivora. Gejala: (1) buah rontok; (2) pada bagian pangkal buah terdapat bagian yang busuk. Atau sebagi akibat cendawan Thielaviopsis paradoxa. Pengendalian: (1) pemupukan yang teratur dan pemberian air pada musim kemarau; (2) menyemprot tanaman yang terserang dengan fungisida yang mengandung Cu, misalnya bubur Bordo atau Koper Oxyclorida.
  5. Penyakit karat batang
    Penyebab: cendawan Ceratostomella paradoxa. Gejala: (1) batang menjadi rusak dan dari celah-celah batang yang berwarna karat akan keluar cairan, dimana jaringan pada bagian ini telah rusak; (2) terjadi gangguan fisiologis yang mempengaruhi pertumbuhannya. Pengendalian: menyayat atau mengerok bagian yang rusak, tutup dengan penutup luka (misalnya ter).
  6. Penyakit busuk akar
    Penyebab: cendawan Ganoderma lucidum. Gejala: pembusukan akar akibat permukaan air tanah yang dangkal, drainase jelek dan tata udara yang buruk. Pengendalian: perbaikan sifat-sifat fisik tanah dan pembuatan saluran-saluran drainase. Pohon yang terserang penyakit dibongkar dan dibakar pada tempat yang terpisah.
  7. Penyakit akar
    Penyebab: cendawan parasit yang kadang-kadang diperburuk pula dengan adanya gangguan nematoda parasit. Gejala: (1) adanya perubahan warna daun secara berangsur-angsur. Warna kuning pucat pada daun terbawah berangsur-angsur hilang ke bagian daun yang lebih muda; (2) ujung-ujung daun mengkerut dan banyak yang kering. Gejala ini seperti gejala defisiensi unsur hara, karena terjadinya gangguan transportasi dalam jaringan tanaman. Pengendalian: dengan cara kultur teknis dan sanitasi seperti yang dilakukan pada penyakit layu natuna.

2.5.9. Gulma

  1. Lalang (Imperata cylinddrica), pertumbuhan tinggi dapat mencapai 1-2 meter, penyebaran sangat cepat melalui rhyzoma (rimpang) maupun buahnya yang bersayap.
  2. Teki (Cyperus rotrendus)
  3. Lampuyangan (Panium repens)
  4. Pahitan (Paspalum konjugatum)
  5. Sembung rambat (Mikania cordata); tanaman ini mengeluarkan racun kepada tanaman lain melalui cairan akarnya yang dapat menekan kegiatan bakteri pengikat nitrogen.
  6. Tahi ayam (Lantana camara)
  7. Kipahit (Euphathorium odorotum); tanaman ini dapat mencapai ketinggian 4-5
  8. Eter dan berbentuk belukar.

 
Cara pemberantasan gulma, meliputi:

  1. Penyiangan secara mekanis: (1) clean weeding, pengendalian gulma secara keseluruhan pada areal pertanaman; (2) selecting weeding, pengendalian gulma pada sekitar tanaman saja (membuat piringan); pada tanaman berumur 0-1 tahun radius 100 cm. Pada tanaman berumur 1-2 tahun radius 150 cm, pada tanaman berumur lebih dari 2 tahun radius 200 cm; (3) piringan digaruk dengan cangkul, rumput-rumputan dibuang kelur piringan, interval 1 x 1 bulan; (4) stripe weeding, pengendalian gulma secara berjalur.
  2. Penyiangan secara kimia: (1) mencampur paracol dengan air 2,5-3 liter/450 liter; (2) memasukkan herbisida ke dalam tangki sprayer dan memompa sampai batas barometer pada tanda merah (otomatis), bagi srayer semi otomatis menyemprot sambil memompa; (3) menyemprotkan pada gulma, dengan memperhatikan pengaman (arah angin, masker dan sarung tangan); (4) perkirakan saat penyemprotan yang tepat yaitu 6 jam setelah penyemprotan tidak hujan. Bila perlu gunakan sticker (perekat dan perata semprotan); (5) interval waktu 1 x 3 bulan.

Jenis herbisida yang dipakai: (1) herbisida kontak, herbisida yang hanya mematikan bagian tanaman yang terkena dengan racun gulma ini; (2) herbisida sistemik, herbisida yang apabila dikenakan pada salah satu bagian tanaman maka akan tersebar keseluruh bagian tanaman melalui peredaran air dan zat hara, dan kemudian mematikan jaringan yang ada di atas dan di bawah permukaan tanah.
 
2.6. Panen
2.6.1. Ciri dan Umur Panen
Ciri: berumur ± 12 bulan, 4/5 bagian kulit kering, berwarna coklat, kandungn air berkurang dan bila digoyang berbunyi nyaring.
2.6.2. Cara Panen

  1. Buah kelapa dibiarkan jatuh: kekurangan, yaitu buah yang jatuh sudah lewat masak, sehingga tidak sesuai untuk bahan baku kopra atau bahan baku kelapa parutan kelapa kering (desiccated coconut).
  2. Cara dipanjat: dilakukan pada musim kemarau saja. Keuntungan yaitu (1) dapat membersihkan mahkota daun; (2) dapat memilih buah kelapa siap panen dengan kemampuan rata-rata 25 pohon per-orang. Kelemahan adalah merusak pohon, karena harus membuat tataran untuk berpijak. Di beberapa daerah di Pulau Sumatera, sering kali pemetikan dilakukan oleh kera (beruk). Kecepatan pemetikan oleh beruk 400 butir sehari dengan masa istirahat 1 jam, tetapi beruk tidak dapat membersihkan mahkota daun dan selektivitasnya kurang.
  3. Cara panen dengan galah: menggunakan bambu yang disambung dan ujungnya dipasang pisau tajam berbentuk pengait. Kemampuan pemetikan rata-rata 100 pohon/orang/hari.

2.6.3. Periode Panen
Frekuensi panen dapat dilakukan sebulan sekali dengan menunggu jatuhnya buah kelapa yang telah masak, tetapi umumnya panenan dilakukan terhadap 2 bahkan 3 tandan sekaligus. Hal ini tidak begitu berpengaruh terhadap mutu buah karena menurut Padua Resurrection dan Banson (1979) kadar asam lemak pada minyak kelapa yang berasal dari tandan berumur tiga bulan lebih muda sama dengan buah dari tandan yang dipanen sehingga biaya panen dapat dihemat.
2.6.4. Prakiraan Produksi
Produksi buah bergantung varietas tanaman kelapa, umur tanaman, keadaan tanah, iklim, dan pemeliharaan. Biasanya menghasilakn rata-rata 2,3 ton kopra/ha/tahun pada umur 12-25 tahun. Sedangkan untuk kelapa hibrida pada umur 10-25 tahun mampu menghasilkan rata-rata 3,9 ton/ha/tahun.
2.7. Pascapanen
2.7.1. Pengumpulan
Buah dikumpulah menggunakan keranjang atau alat angkut yang tersedia. Kemudian semua buah hasil panen dikumpulkan di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH).
2.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Sortasi buah dan perhitungan buah dilakukan setiap blok kebun setelah selesai panen pada akhir bulan. Buah yang disortir adalah kosong tidak berair, bunyi tidak nyaring bila diguncang, rusak/lika kena hama, busuk dan kecil juga terhadap kelapa butiran pecah, berkecambah atau kelapa kurang masak, lalu disimpan dalam bin penyimpanan yang beraerasi baik.
2.7.3. Penyimpanan
Buah kelapa disimpan dengan cara:
a) buah ditumpuk dengan tinggi tumpukan maksimal 1 meter
b) tumpukan berbentuk piramidal dan longgar
c) tumpukan dalam gudang diamati secara rutin.
Syarat-syarat gudang penyimpanan sebagai berikut:
a) udara segar dan kering
b) tidak kebocoran dan kehujanan
c) tidak langsung kena sinar matahari
d) suhu udara dalam gudang 25-27 derajat C.
2.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Buah kelapa apabila akan dijual terlebih dulu di kupas kulit luarnya dan dibungkus dalam karung goni atau karung sintetis. Pengangkutan dapat dilakukan dengan truk, kapal laut atau alat angkut yang sesuai.
2.7.5. Penanganan Lain

  1. Kopra; kopra terbuat dari daging kelapa dengan cara menurunkan kadar airnya. untuk: (1) pengawetan, cara ini akan mencegah tumbuhnya jamur, serangga, dan bakteri yang dapat memakan daging dan merusak minyak kelapa; (2) mengurangi berat, sehingga mengurangi biaya pengangkutan dan penanganan; (3) mengkonsentrasikan minyak, kadar minyak dalam kopra sekitar 65-68%. Cara pembuatan kopra yaitu dengan pengeringan daging buah dengan sinar matahari (penjemuran langsung atau efek rumah kaca) atau dengan alat pengering.
  2. Ekstraksi minyak; minyak kelapa dapat diperoleh secara langsung dengan ekstraksi kopra. Cara tradisional yang banyak dipakai yaitu dengan pemanasan santan kelapa. Minyak kelapa juga dapat diperoleh dengan mengekstrasi kopra.
  3. Kelapa parut kering (Desiccated coconut); diperoleh dengan mengeringkan kelapa parutan sampai kadar air 3,5% dan kadar minyak tidak kurang dari 68 %.
  4. Santan; diperoleh dengan melakukan pemerasan terhadap kelapa parutan. Santan tidak dapat disimpan lama. Oleh karena itu diperlukan pengemasan santan untuk mencegah rusaknya santan yaitu dengan pengalengan ataupun pengeringan santan.

Budidaya Tanaman Jarak Pagar

  1. MACAM-MACAM JENIS JARAK

Ada banyak sekali jenis jarak yang dapat tumbuh di tanah air kita antara lain :

  1. Jarak Kepyar/Jepang ( Ricinus communis).

Jenis ini laku di pasaran dunia yang dikenal dengan nama castor oil plant. Jenis ini berbuah sekali dalam setahun (semusim), dengan ciri buah muda berwarna hijau dan berubah coklat setelah tua. Buahnya berduri lemah seperti rambutan. Bijinya mengandung Glycoprotein yang bersifat racun dan orang sering menyebutnya Ricin.
2.Jarak Pagar/Cina (Jatropha curcas )
Jenis ini berbuah terus menerus (tahunan). Jenis jarak ini yang dianjurkan ditanam, yaitu:
– Asembagus 22 : kandungan minyak 55-57%
– Asembagus 60 : kandungan minyak 48-52%
– Asembagus 81 : kandungan minyak 51-54%
Komposisi biji jarak terdiri dari 20% kulit dan 80% biji (daging), mengandung 40-60% minyak. Kandungan minyak mentahnya 32-48% dan sisanya adalah ampas.

  1. Penyiapan Lahan

Jarak pagar tumbuh subur pada lahan gembur dengan drainase yang baik. Pengolahan tanah umumnya dilakukan pada lahan bukaan baru. Sedangkan pada lahan garapan dapat langsung dilakukan pembuatan lubang tanam.
Kegiatan persiapan lahan meliputi: pembukaan lahan, pengajiran dan pembuatan lubang tanam. Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari semak belukar terutama disekitar calon tempat tanam. Pengajiran dilakukan dengan cara menacapkan ajir bambu atau sebatang kayu. Jarak disesuaikan dengan populasi tanaman yang diharapkan. Umumnya jarak tanam 2 X 2 meter.
Sebelum melakukan pembibitan, sebaiknya kita siapkan media tanam untuk stek dan benih. Pertama, kita pisahkan tanah dengan batu-batuan dengan cara diayak. Setelah itu kita campurkan dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1 banding 1. Aduk hingga tanah dengan pupuk kandang menyatu. Berikutnya siapkan polibek yang telah diberi lubang. Kemudian masukan tanah yang telah dicampur pupuk kandang.

  1. Pembibitan

Bahan tanam dapat berasal dari stek maupun benih. Jika menggunakan stek, dipilih batang yang cukup berkayu. Bibit dari stek usianya kurang lebih 5 tahun. Stek yang dipilih adalah stek pucuk. Ukuran diameternya lebih dari 2,5 cm. Panjang yang diambil sekitar 30 cm. Warna stek sudah keabu-abuan. Dan sudah memiliki batang yang kuat di dalamnya.
Stek kemudian dipotong sepanjang 30 cm. Stek yang telah dipotong kemudian ditanam dalam polibek.
Sedangkan bibit dari benih dipilih dari biji yang cukup tua, yaitu diambil dari buah yang telah masak, biasanya berwarna hitam.
Buah yang baik biasanya berwarna kuning serta bebas dari serangan penyakit. Biji di dalamnya dikeluarkan, kemudian dianginkan di rak pengering selam 3 sampai 4 hari. Sehingga meninggalkan kadar air 7 sampai 9%. Selanjutnya biji-biji tersebut direndam di dalam air selama 24 sampai 30 jam. Biji-biji yang tenggelam dipisahkan dari biji-biji yang mengapung.
Selanjutnya biji-biji yang tenggelam siap disemai. Biji yang mengapung, diteruskan perendamannya sampai 30 jam. Selanjutnya, biji-biji yang masih mengapung kita afkir. Biji-biji yang terpilih kemudian ditanam dalam polibek sedalam 1 cm. Posisi bagian lembaga berada di bawah. Setelah disemai kemudian ditutup kembali dengan tanah, lalu disiram.
Sebaiknya penyemaian dilakukan pada sore hari atau pagi hari sehingga tidak kena sengatan matahari. Empat hari kemudia akan muncul lembaga. Secara bertahap kemudian akan keluar daun. Daya tumbuh biasanya diatas 90%.

  1. Penanaman

Penanaman dilakukan pada lubang yang telah dibiarkan selama 2 sampai 3 minggu pada awal musim hujan. Agar bibit tidak membusuk campurlah tanah dengan pupuk kandang dan pupuk buatan yang telah disiapkan. Lalu masukan ke dalam lubang tanam.
Potong polibek tempat bibit bagian bawah dan buatlah irisan sampai ujung. Kemudian masukan bibit pada lubang tanam. Lalu timbunlah dengan sisa tanah yang ada di permukaan. Padatkan dengan tanah sekitar permukaan dan dibuat cembung.
Pemangkasan pertama dilakukan setelah tanaman mencapai ketinggian 1 meter untuk merangsang pertumbuhan cabang. Pemangkasan dilakukan pada cabang yang telah berkayu atau berwarna kecoklat-coklatan dan menyisakan ketinggian tanaman sekitar 30 cm di atas permuakaan tanah. Pemangkasan yang dilakukan secara teratur akan membentuk tajuk seperti payung dan akan meningkatkan produksi tanaman.
4. Penyiraman
Pada awal pertumbuhan, tanaman sangat peka terhadap kekurangan air. Oleh karena itu perlu diari secukupnya. Pada musim kemarau, tanaman disiram 5 sampai 6 hari.
Untuk mengendalikana hama tanaman, lakukan penyemprotan dengan obat-obatan yang ramah lingkungan.
Tanaman jarak pagar mulai berbunga pada umur 3 sampai 4 bulan. Sedangkan pembentukan buah pada umur 4 sampia 5 bulan. Pemanenan dilakukan setelah buah cukup masak. Cari buah yang telah berwarna kuning dan biasanya mulai mengering. Buah biasanya masak pada usia 5 sampai 6 bulan.
Cara memanen buah yang telah masak dipetik dengan tangan atau dengan gunting.
Produktivitas tanaman jarak biasanya berkisar 3,5 sampai 4 kilogram per pohon pertahun. Produktivitas akan stabil setelah tanaman berumur di atas 1 tahun.
Buah jarak yang telah dipanen kemudian dikupas kulitnya, bisa dilakukan dengan tangan maupun dengan mesin pengupas.
5. Pengolahan
Biji jarak yang telah dikupas dan dikeringkan dapat diolah untuk menghasilkan minyak pasar dengan cara diperas dengan alat bantu. Sehingga diperoleh minyak yang diinginkan dan dapat digunakan sebagai bahan bakar.